Sumbar

Kota Padang

Fajar Terkini

Boga Tingkatkan Pemanfaatan Potensi Pangan Daerah



FOTO BERSAMA - Ketua DPD Ikaboga Sumbar, Martinneke foto bersama
 dengan pengurus dua DPC yang baru dilantikdi gubernuran, Kamis (4/1). 

Padang (fajarsumbar.com) - Ilmu tata boga menjadi peluang ekonomi bagi kalangan yang selama ini mengguliti bidang kuliner. Hal itu menjadi sumber pendapatan menyokong perekonomian keluarga dan dapat menimalisir angka kemiskinan di Sumatera Barat.



“Jangan menyepelekan keterampilan tata boga, bila menguasai ilmu masak-memasak akan menda tangkan income, bahkan bisa melebihi gaji walikota,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Sumbar yang diwakili Bidang Pembinaan SMK, Raymon ketika memberi arahan pada pelantikan dua pengurus DPC Ikaboga Indonesia di auditorium gubernuran, Kamis (4/12).

Menurutnya, hadirnya DPD dan DPC Ikaboga sangat dirasakan manfaatnya di Sumbar. Hal itu terbukti Ikaboga bekerjasama dengan Koperasi Wanita Sum bar, pernah mengapungkan nama Ranah Minang di tingkat nasional dengan memecahkan MURI saat membuat replika jam gadang dari coklat.
Menurut Raymon, pengurus Ikaboga pada umumnya ibu rumah tangga tersebut sangat ahli masak-memasak membuat kuliner. Ikaboga juga sangat berperan menciptakan masakan randang yang menjadi masakan terlezat di dunia.

“Jadi jangan ada yang menyepelekan ilmu tataboga, bila menguasai ilmu itu, otomatis akan menjadi sumber pendapatan. Bila dikelola dengan profesional gaji pengusaha boga tersebut bisa melebihi para pejabat di Sumbar,” tambahnya.

Ikaboga ketua DPD-nya dipimpin Martinneke tersebut sudah banyak melahirkan generasi baru ahli masakan kuliner dan masakan tradisional daerah, khususnya di Sumbar. Bahkan telah banyak meraih berbagai prestasi baik di tingkat kota, provinsi bahkan nasional.

“Jadi saya berharap kepada Ikaboga Sumbar dan DPC yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota terus memperbanyak melatih ibu rumah tangga membuat kuliner dan masakan tradisional daerah. Bila mereka berhasil membuat dan menjualnya sudah men jadi sumber ekonomi bagi mereka tentunya sudah menimalisir angka kemiskinan di Sumbar,” tambahnya.

Pelindung Ikaboga Sumbar, Harnelly Mahyeldi menambahkan, melalui boga juga diharapkan menjadi peluang ekonomi bagi kalangan yang selama ini menguliti bidang kuliner dan menjadi sumber inkam bagi keluarga. “Saya berharap Ikaboga melatih pedagang berjualan di objek wisata, sehingga mereka menjual berbagai ragam masakan tradisional Minangkabau,” tambahnya.

Harnelly beralasan, pedagang makanan di objek wisata, khususnya di Padang mereka hampir sama menu yang dijual. “Alangkah baiknya Ikaboga bisa melatih pedagang kuliner di objek wisata membuat berbagai macam masakan tradisional. Misalnya lamang tapai, godok pisang dan lainnya. Bila ada orang rantau yang pulang kampung mereka pasti memburu makanan itu,” sarannya.

Ketua DPD Ikaboga Sum bar, Martinneke menyebutkan dari 19 kabupaten dan kota, sudah dibentuk 9 DPC Ikaboga di Sumbar. Tujuh DPC sudah dilantik sebelumnya dan Kamis (4/1) di auditorium gubernuran dilantik dua DPC lagi (DPC Padang 2 dan DPC Bukittinggi).

Menurut Martinneke, Ikaboga Sumbar sudah berbuat yang terbaik dan telah dua kali memecahkan rekor Muri. Selain membuat replika jam gadang dari coklat juga membuat rangkaian bunga setinggi 15 meter bekerjasama dengan Masyarakat Florist Indoensia (MFI) di Jakarta beberapa waktu lalu. Ikaboga melalui lembaga khusus masing-masing sudah sering mengadakan pelatih an pada program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) bidang keterampilan boga.

Martinneke yang juga Pimpinan Lembaga Khusus Martinneke, berharap Ikaboga sebagai wadah para ahli boga Indonesia dapat memberikan semangat kebersamaan dalam rangka persatuan dan kesatuan melalui kecintaan terhadap boga. Setiap DPC diimbau agar mendirikan lembaga kursus dan pelatihan tata boga di masing-masing daerah sebagaimana hasil Munas Ikaboga Indonesia ke-6 di Jakarta pada 27 November 2017 lalu. (fs-001)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *