Sumbar

Padang

Fajar Terkini

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Inyiak Canduang Jadi Pahlawan Nasional?

Padang (fajarsumbar.com) - Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli atau lebih dikenal dengan Inyiak Canduang diusulkan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Tokoh pendiri Persatuan Tarbiah Islamiah (Perti) ini dinilai sangat layak mendapatkan gelar tersebut.

Tim penggagas pengusul gelar pahlawan untuk Inyiak Candung tersebut datang ke DPRD Sumbar, Selasa (16/1). Ketua DPRD, Hendra Irwan Rahim menyampaikan dukungan penuh atas pengusulan tersebut. Tim dalam waktu dekat akan menemui Gubernur Irwan Prayitno. “Beliau sangat layak diberi gelar pahlawan. Ini dilihat dari rekam jejak beliau sebagai ulama, politisi, penggerak pendidikan dan juga organisator,” ujar Hendra.


Hendra berharap proses pengusulan Inyiak Canduang menjadi pahlawan nasional tersebut berjalan lancar. Tim pengusul diharapkan bisa memenuhi semua persyaratan dengan baik sehingga pemerintah pusat menyetujui.

Ketua Yayasan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Inyiak Canduang, Dr. Syukri mengatakan gagasan pengusulan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli menjadi pahlawan nasional dicetuskan dengan melibatkan pihak yayasan, ikatan alumni MTI dan juga pihak keluarga.

Meskipun secara formal panitia baru terbentuk, namun menurutnya, dokumen-dokumen pendukung sudah banyak terkumpul dan pihaknya menyerahkan kepada kepanitiaan untuk membentuk tim kecil guna melacak bukti-bukti rekam jejak lainnya.

Dia mengatakan sebenarnya pengusulan ini sudah tertunda sangat lama. Apalagi Inyiak Canduang sendiri wafat pada 1970. Saat Inyiak Canduang wafat, Gubernur Sumbar kala itu, Harun Zein memerintahkan pengibaran bendara setengah tiang.  “Namun  waktu itu bukan saat yang tepat untuk mengusulkan gelar pahlawan karena situasi politik yang tidak memungkinkan,” ujarnya.

Penanggung jawab yayasan MTI, Prof. Syufyarma Marsyidin memaparkan banyak alasan kenapa gelar pahlawan sangat layak disandang Inyiak Canduang. Pertama, Inyiak Canduang merupakan seorang ulama besar sekaligus seorang pendidik. Pemikirannya sebagai ulama telah menjadi referensi bagi banyak guru besar dari berbagai universitas di Indonesia.

Melalui jalur pendidikan, Inyiak Canduang mendirikan pondok pesantren MTI dengan tujuan mencerdaskan bangsa Indonesia, memperbarui pemikiran anak bangsa lepas dari pikiran-pikiran feodal penjajah. Pondok Pesantren dibawah yayasan MTI itu masih berkiprah hingga sekarang dan telah melahirkan banyak tokoh-tokoh besar.

Inyiak Canduang juga merupakan seorang politisi. Pemilihan Umum pertama 1955, mendirikan Partai PERTI dan menjadi peserta pemilu. Pada sidang konstituante pertama di Bandung, Inyiak Canduang pula yang menjadi pemimpin sidang. “Inyiak Canduang juga seorang tokoh adat dan beliau pernah menjadi Ketua Majelis Tinggi Adat Minangkabau,” ujarnya.

Terkait tahapan pengusulan Inyiak Canduang sebagai pahlawan nasional, Ketua Panitia, Syamsul Bahri menjelaskan sudah mendapatkan surat keputusan dari Bupati Agam. Pada awal Februari mendatang, pihaknya akan menggelar Foccus Group Discussion (FGD) untuk mendudukkan aspek akademik. Lalu akan digelar pula seminar di gedung DPRD Sumbar untuk menguatkan dukungan akademik tersebut.

Sejarah Inyiak Canduang
Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli lahir pada 10 Desember 1871 di Surau Pakan Kamis, Nagari Canduang Koto Laweh, Agam. Pada 1928, men dirikan PERTI dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), se pulang belajar dari Mekkah.

Pada 1932, Inyiak Canduang menentang kebijakan pemerintah kolonial Belanda dengan menolak ordonisasi sekolah liar. Pada 1937 juga menentang pen jajah dengan me nolak ordonisasi kawin bercatat.

Inyiak Canduang memben tuk kepanduan Al-Anshar pada 1939 dan menentang politik bumi hangus penjajah kolonial Belanda pa da 1942. Pada 1943, Inyiak Canduang menjadi Ketua Umum Majelis Islam Tinggi Minangkabau (MITM) serta menjadi salah satu pendiri Laskar Mus limin Indonesia (LASYMI) pada 1947.

Pada 1948, Inyiak Canduang dipercaya menjadi penasehat Gubernur Militer Sumatera Tengah dan pada 1955 memimpin sidang pertama konstituante hasil pemilu 1955 di Bandung. Inyiak meraih penghargaan  Bintang Perak Besar pada 1931 dan Bintang Sakura pada 1943. Pada 1969, Inyiak Canduang dianugerahi gelas sebagai Tokoh Perintis Kemerdekaan RI. Inyiak Canduang wafat pada tanggal 1 Agustus 1970 dalam usia 99 tahun di Canduang. Kini sekolah yang ia dirikan makin maju, dengan murid-murid yang banyak. (fs-001)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *