Fajar Terkini

SUMBAR

Kota Padang

Pameran Tokoh Pers Minang Diburu Pengunjung


Padang (fajarsumbar.com) - Pameran tokoh pers nasional berasal dari Minangkabau yang di Museum Adityawarman diminati wisatawan. Pameran tersebut juga dalam rangka memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) yang di pusatkan di Padang pada 9 Februari.

Seperti pantauan fajarsumbar.com, Selasa (23/1), sejumlah warga terus berdatangan ke objek wisata tersebut. Mereka tidak saja dari mahasiswa, anak sekolah, bahkan dari masyarakat umumnya lainnya. Pengunjung ingin melihat lebih dekat tokoh pers nasional yang berasal dari Minang. Tokoh pers tersebut juga sangat berperan dalam kemerdekaan Indonesia.




“Pameran ini dalam rangka mengenalkan sejarah dan tokoh pers di Sumbar terutama untuk generasi muda dan sebagai media pembelajaran bagi pelajar,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Adityawarman, Adi Saputra di Padang, Rabu (23/1).

Menurutnya, ada 83 koleksi dipajang dalam pameran itu yang terdiri atas 59 surat kabar dari masa ke masa, 12 benda penunjang pers seperti kamera, mesin tik, telepon, radio alat perekam suara, serta foto-foto tokoh pers Sumbar seperti Adinegoro dan Rohana Kudus.

Pameran tersebut diselenggarakan selama enam bulan mulai dari 1 Desember 2017 hingga 1 Juni 2018. Menurutnya anak-anak muda banyak yang tidak tahu perjalanan sejarah Sumbar dari masa ke masa dan siapa saja tokoh-tokoh pers di provinsi ini.

Dalam beberapa referensi, media massa di Sumbar terbagi dalam beberapa periode, seperti periode awal yang ditandai dengan penerbitan surat kabar berbahasa Belanda yang menyuarakan kepentingan pemerintah atau kaum penjajah.

Periode kedua, ciri utamanya yakni mulai dominannya surat kabar dan majalah berbahasa Melayu yang diterbitkan oleh orang Minangkabau.

Kemudian yang ketiga pada zaman terbelenggunya perkembangan informasi , sesuai kebijakan Pemerintah Jepang hanya boleh satu media yang boleh terbit, yakni surat kabar Padang Nippon.

“Ada beberapa periode setelah itu, seperti periode berjuangnya media massa untuk menggelorakan kemerdekaan, dan periode demokrasi liberal,” ujarnya.

Kemudian yang keenam yakni periode intervensi yang berlangsung sejak proklamasi hingga peristiwa Gerakan 30 September oleh PKI.

Sementara itu, seorang pengunjung, Rani senang adanya pameran tersebut, karena bisa menambah ilmu dan wawasannya tentang tokoh pers nasional yang berasal dari Minangkabau. Apalagi Rani mengaku juga anak wartawan di Padang.

“Ternyata juga ada pula mading Adabiah yang terbit Maret 1924. Bangga saya sebagai siswi SMA Adabiah,” ujar Rani yang mengaku menimba ilmu di kelas X SMA Adabiah I, Padang. (fs-001)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *