Fajar Terkini

SUMBAR

Kota Padang

Masih Banyak Generasi Muda tak Tahu Kato Nan Ampek


Sekretaris LKAAM Kota Padang, Suardi Z Rajo Basa Tan Pangulu menjadi
nara sumber ABS-SBK di aula kantor camat Padang Selatan, Kamis (26/4). 
Padang, fajarsumbar.com - Sosialisasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) perlu intens dilakukan kepada generasi muda, agar pemahaman adat meningkat demi membentuk generasi yang berbudaya, sehingga mereka tahu dengan kato nan ampek.

Hal itu disampaikan Sekretaris Lembaga Kerapatan Adat Minangkabau (LKAAM) Kota Padang, Suardi Z Rajo Basa Tan Pangulu saat menjadi nara sumber pada kegiatan Sosialisasi Kebudayaan dan Pariwisataan, ABS-SBK di aula kantor camat Padang Selatan, Kamis (26/4).

Sosialiasi itu dihadiri 50 peserta dari generasi muda dan karang taruna se-Kecamatan Padang Selatan. Suardi Z menampilkan makalah dengan tema "Pedoman Dasar Pelestarian Nilai-nilai Adat dan Seni Budaya yang Sesuai dengan Filsafah ABS-SBK."

Sedangkan nara sumber lainnya, Zulhelman Pandeka Dirajo menghadirkan makalah "Karakter Dasar Pergaulan Masyarakat Minangkabau".

Menurut Suardi, seiring dengan perkembangan zaman dan kurangnya kepedulian generasi mempelajari tentang adat Minangkabau, sehingga banyak di antaranya yang tidak tahu dengan kato nan ampek. Kanto mandaki, mendatar, melereng dan kato manurun.

Kato mandaki sebuah ungkapan bagaimana berbicara serta bersikap kepada yang lebih tua. Seperti berbicara dengan orang tua, kemanakan kepada mamak. Kato manurun ungkapan yang mengambarkan bagaimana bersikap dan dan berbicara dengan yang lebih muda. Kato manurun bagaimana menyayangi yang lebih kecil seperti orang tua kepada anak, kakak kepada adiknya.

Sedangkan kato mandata sering digunakan untuk berbicara dan berprilaku kepada yang sama besar, misalnya teman sebaya. Kato malereng ungkapan sikap dan prilaku kepada orang yang disegani dan hormati antara mando jo sumando, ipa jo bisan.

Jangan sampai ada yang bilang indak tau di nan ampek. Biasanya itulah yang diucapkan kepada orang yang tidak tahu sopan santun dalam berbicara. Ungkapan ini biasanya keluar dari mulut mamak karena kemenakannya sudah tidak bisa ditagah. Inilah puncak kekesalan mamak menasihati anak kemenakannya.

Kato nan ampek adalah adat berbicara di minang. Setiap orang dituntut paham perbedaan cara berbincang-bincang dengan orang berbeda. Indak ka pernah samo datanyo sawah jo pamatang. Maksudnya setiap orang punya tingkatan-tingkatan tertentu di masyarakat.

Menurut dia, peran lembaga adat di tengah masyarakat, sudah sepatutnya perlu ditingkatkan, bersinergi dengan pemerintah dalam membangun karakter anak kamanakan.

"Diharapkan melalui kegiatan penyuluhan dan sosialisasi adat ini nantinya lembaga adat terpicu untuk lebih mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai adat dan budaya yang mencerminkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan selanjutnya diteruskan ke generasi muda, sehingga mereka tahu kato nan ampek," tambahnya.

Sementara itu, Zulhelman Pandeka Dirajo juga memaparkan bagaimana peran ninik mamak, panghulu dan lainnya di tengah-tengah masyarakat.

Sosialisasi itu dibuka Camat Padang Selatan yang diwakili Kasi Kesos, Maswita. Ia mengharapkan para peserta mengikuti serius sosialisasi itu, agar mengetahui dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.(fs-007)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *