SUMBAR

Fajar Terkini

Kota Padang

Dolar AS Tembus Rp14,519

Jakarta, fajarsumbar.com - Nilai tukar dolar Amerika Serikat semakin meroket terhadap rupiah. Sepanjang Jumat kemarin, harga dolar AS sempat menembus angka Rp14.500.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih bisa turun. Sore kemarin, dolar AS berada di level Rp14,519

“Segala sesuai itu masih bisa naik dulu atau turun lagi,” kata Darmin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (20/7).

Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sudah tembus Rp14.500, pagi kemarin bahkan sudah berada di titik Rp14.515. Darmin mengatakan, jika dilihat pergerakan harian itu menjadi hal yang biasa. “Itu masih bergerak begitu. Jadi, jangan terlalu dianggap itu sudah keseimbangan baru,” ungkap dia.
Salah satu yang akan mem buat dolar AS melemah terhadap rupiah bisa dengan mene kan impor, terutama terhadap bahan baku untuk industri dalam negeri.

Menurut Darmin, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah pun sudah merancang formulasi kebijakan yang menekan impor dan mendorong ekspor.

Kebijakan tersebut dianggap mampu menghemat devisa. Devisa sendiri biasa digunakan oleh pemerintah untuk memenuhi kegiatan impor dalam bentuk valuta asing (valas).

“Jadi kita sendiri mengambil kebijakan. BI ngambil, pemerintah ngambil ya seperti biodiesel ini. satu penghematan devisa,” kata dia dikutip detikFinance.
Pengusaha
makanan galau

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengaku bingung dengan kenaikan nilai tukar mata uang dolar dan rupiah tersebut. mereka bingung antara menaikkan harga atau tidak.

Ketua GAPMII Adhi Lukman mengatakan pada dasarnya kenaikan nilai tukar dolar saat ini sangat mempengaruhi harga bahan pokok makanan dan minuman, hingga 7%. Pelaku usaha pun jadi galau. Apakah perlu menaikkan harga atau tidak karena saat ini industri makanan minuman juga sedang mengalami penurunan penjualan.

“Dua hari ini dapat laporan pasarnya agak sepi, agak lambat, ini menjadi dilema apakah menaikkan harga atau tidak. Tapi kalau naikkan harga bisa lebih sepi lagi. Jadi industri mamin (makanan minuman) belum memilih menaikkan harga,” terangnya kepada detikFinance, Jumat kemarin.
Lebih lanjut, untuk menghindari kerugian pihaknya akan mengorbankan keuntungan perusahaan dengan memperkecil margin.

“Kita condong mengorbankan margin, profit perusahaan tapi kita belum tahu sampai berapa lama karena masing-masing perusahaan beda,” terangnya.

Sementara itu, Adhi juga meminta agar pemerintah segera menyelesaikan depresiasi rupiah dan mampu menjaga nilai tukar rupiah kembali stabil. “Ini yang perlu diupayakan adalah pemerintah memikirkan untuk bisa menahan laju depresiasi lebih lanjut, menjaga stabilitas. Harapkan turun paling nggak dapat keseimbangan baru Rp 14.000 lah,” tutupnya.

Untuk itu, pihaknya meminta agar pemerintah memperluas insentif berupa subsidi bunga untuk kredit ekspor di mana bisa membantu pembiayaan perdagangan.

“Cari terobosan ekspor bisa ditingkatkan. Kalau saya usul insentif, misalnya yang cepat diterima subsidi bunga untuk (kredit) ekspor diperluas seperti zaman orde baru. Skema kredit ekspor dengan skema itu eksportir bisa mendapatkan bunga, jadi mendorong pembiayaan ekspor,” katanya.
Selain itu, insentif lain yang diharapkan bisa membantu pengusaha adalah percepatan dokumentasi dan waktu bongkar muat di pelabuhan. Sebab dengan begitu, importir mamin akan menambah barang yang akan diekspor.

“Kedua misalnya ekspor ini diberikan percepatan dokumentasi dan waktu bongkar muat di pelabuhan karena ujung-ujungnya menurunkan biaya ekspor ini bisa meningkatkan upaya kita menawarkan custommer kita memperbesar ekspor kan,” terangnya. “Itu daripada kita rugi lebih baik memperbesar (barang ekspor) itu jadi perusahaan meningkatkan penjualan laba dan negara bisa menghemat devisa,” pungkasnya.

Puncaknya di Oktober
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, memprediksi dolar akan kian perkasa pada kisaran September atau Oktober 2018. Saat itu, tekanan terhadap kurs rupiah juga akan membesar.

Ia memprediksi rupiah bisa mencapai titik paling rendah di kisaran Rp 14.700 per dolar Amerika. “Saat ini, dollar index bertahan di angka tertinggi 95,2 menguat dibanding mata uang dominan. Diprediksi dolar akan naik ke titik tertinggi pada bulan September atau Oktober,” ujar Bhima yang diwartakan tempo.co.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah datang akibat perang dagang antara Amerika dan Cina, yang diprediksi semakin memburuk. Sebab, konsensus di antara dua negara adidaya itu masih belum tercapai. Padahal, pada mulanya, perang dagang diperkirakan tidak akan berlangsung lama.
Faktor yang mendorong pelemahan rupiah juga datang dari dalam negeri. Bhima mengatakan pelemahan itu salah satunya disebabkan oleh pernyataan BI yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,1 persen. “Sentimen langsung berubah pesimistis,” tuturnya.

Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers seusai rapat dewan gubernur bank sentral bulan Juli, kem
arin. Padahal, kata Bhima, BI akan menjaga ekspektasi pasar dengan tone positif. “Namun RDG kemarin malah membuktikan sebaliknya.”

Belum lagi, dari RDG sebelumnya, BI juga tampak memasang posisi tidak akan menaikkan tingkat suku bunga acuan sampai akhir tahun 2018. Dampaknya, investor cenderung menahan diri.
Padahal, menurut Bhima, ruang pengetatan moneter masih ada setidaknya sekali lagi. Ia berujar ada kemungkinan BI sedang menunggu fenomena super dolar memuncak pada pertengahan semester kedua tahun ini.

“Sehingga 7ddr mungkin akan dinaikkan lagi 25 basis poin,” kata Bhima. (*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *