Sumbar

Padang

Fajar Terkini

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Terkait Kasus e-KTP, Aburizal Bakrie tak Penuhi Panggilan KPK




Jakarta, fajarsumbar.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menginformasikan, politisi senior Partai Golkar Aburizal Bakrie, tidak memenuhi panggilan untuk diperiksa sebagai saksi dalam penyidikan korupsi proyek pengadaan KTP elektronik.

Selain dia, anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Mulyadi, dan politisi Partai Keadilan Sejahtera, Tamsil Linrung, juga tidak memenuhi panggilan KPK untuk diperiksa sebagai saksi untuk dua tersangka, Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung.

KPK telah menerima surat dari dua saksi yang tidak dapat menghadiri pemeriksaan hari ini dan akan dijadwalkan kembali. Aburizal Bakrie sedang berada di luar negeri dan Mulyadi ada tugas lain hari ini, kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, Senin (2/7).

Sementara, Linrung juga meminta penjadwalan ulang dengan alasan ada kunjungan kerja pada Senin ini.

Ical juga pernah diperiksa sebagai saksi dalam kasus KTP elektronik dengan tersangka mantan Ketua DPR, Setya Novanto, pada November 2017 lalu.

Dalam penyidikan perkara KTP-e dengan tersangka Irvanto, keponakan mantan ketua DPR Setya Novantoyang sudah dipidana dalam pengadilan perkara ini serta pengusaha Made Oka, KPK mendalami aliran dana proyek KTP-e terkait proses pembahasan anggarannya.

Irvanto bersama Made Oka, pengusaha sekaligus rekan Setya Novanto, telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi KTP-e pada 28 Februari 2018.

Irvanto diduga sejak awal mengikuti proses pengadaan KTP-e dengan perusahaannya, PT Murakabi Sejahtera, dan beberapa kali mengikuti pertemuan di Ruko Fatmawati bersama tim penyedia barang proyek KTP-e. Ia juga diduga mengetahui ada permintaan bayaran untuk mempermudah proses pengurusan anggaran KTP-e.

Irvanto diduga menerima total 3,4 juta dolar AS para periode 19 Januari-19 Februari 2012 yang diperuntukkan bagi Setya Novanto.

Sedangkan Made Oka merupakan pemilik PT Delta Energy di Singapura yang diduga menjadi perusahaan penampung dana.

Made Oka melalui kedua perusahaannya diduga menerima total 3,8 juta dolar AS yang diperuntukkan bagi Setya Novanto; 1,8 juta dolar AS melalui OEM Investment Pte Ltd dari Biomorf Mauritius, dan dua juta dolar AS melalui rekening PT Delta Energy. Made Oka diduga menjadi perantara uang suap untuk anggota DPR sebesar lima persen dari proyek KTP-e. (*)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *