Fajar Terkini

SUMBAR

Kota Padang

Panti Asuhan Keluhkan Biaya Operasional



Padang, fajarsumbar.com - Sejumlah panti asuhan di Kota Padang mengeluhkan biaya operasional, sebab bantuan pemerintah belum bisa mengakomosi seluruh kebutuhan biaya anak panti. Pengurus terpaksa mencari pihak ketiga agar biaya operasional terpenuhi.

“Kami terus berupaya mencari pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan biaya anak panti, meski pun ada bantuan dari Pemerintah Kota Padang tiap tahun. Kebutuhannya sangat banyak, pengurus te rus berupaya mencarikan pihak ketiga,” ujar Ketua Panti Aisyiyah Daerah Kota Padang, Rosmelly, Senin (9/7).

Hal itu diungkapkan Rosmelly saat tim penilai panti asuhan Kota Padang yang berkunjung ke panti asuhan tersebut. Tim penilai yang diketuai Kabag Kesra, Jamilus datang bersama dengan Ketua Badan Kerjasama Panti Asuhan (BKSPA) Kota Padang, Yulius Amra dan beberapa orang anggotanya.

Menurut Rosmelly, tingginya biaya operasional panti tersebut, ia terus berharap bantuan dari pihak ketiga, agar biaya operasional panti bisa jalan. Setiap hari, panti Aisyiyah dengan jumlah anak yang dibina 38 orang tersebut harus mengeluarkan biaya operasional lebih kurang Rp1 juta setiap hari.

Ke-38 anak panti merupakan anak miskin, yatim piatu dan orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikan mereka. Mereka berasal tidak saja saja dari Padang, tapi kebanyakan dari luar daerah Padang. Mereka sekarang menimba ilmu di SD, SLTP dan SLTA, bahkan ada juga yang kuliah.

“Alhamdulillah atas kemurahan hati para donatur, sehingga kebutuhan yang selama ini, meski pun tidak semuanya bisa tertutup, kami mengucapkan alhamdulillah atas bantuannya. Begitu juga kepada pemko Padang yang telah memberikan bantuan biaya operasional setiap tahun,” tambahnya.

Hal yang sama juga diungkapkan pimpinan Panti Asuhan Khusus Anak Mentawai Gurun Laweh, Kecamatan Lubuk Begalung, Joni Kusma.

Menurutnya, panti asuhan yang dihuni khusus Anak Mentawai itu, kini memiliki anak asuh 94 orang. Mereka pada umum nya anak yatim piatu, anak terlantar di daerah kepulauan itu.
“Panti ini menampung khusus anak Mentawai, mereka itu anak terlantar, yatim piatu dan lainnya. Dari 94 anak panti 11 di antaranya mualaf,” tambah Joni.

Menurut Joni, meski ada bantuan dari pemerintah untuk biaya operasional, tapi masih kurang. Sebab dengan jumlah anak panti 94 orang, ia terpaksa mencari donator agar bisa memenuhi kebutuhan seluruh anak panti tersebut. “Alham dulillah bantuan dari pemko dan para donatur, bisa menutupi biaya operasional panti ini. Kami terus mencari donatur dan para dermawan untuk bermurah hati membantu anak panti asuhan ini,” harapnya.

Sementara itu, Jamilus menyebutkan penilaian panti asuhan dimaksudkan untuk memberikan pembinaan dan sekaligus untuk bahan evaluasi. Penilaian itu baru pertama kali dilakukan Pemko melalui Kesra, hal itu juga dimaksudkan untuk melihat lebih dekat bagaimana kondisi panti itu sebenarnya.

“Selain menilai kita juga memberikan pembinaan kepada pengurus panti, sekaligus mendengar keluhan-keluhan mereka. Setelah mengetahuinya, nanti dicarikan jalan keluarnya,” tambah dia.

Menurutnya, di Padang terdapat 28 panti yang terdaftar. Semua panti terse but bakal dinilai tim dari 5 - 15 Juli. Hal itu juga dimaksudkan agar manajemennya pengasuhan, administrasi, transparansi keuangan jelas, sekaligus melihat sarana dan prasarana yang dimiliki.

Saat penilaian itu, tim melihat administrasi surat menyurat, gedung, beberapa jumlah anak binaan, bagaimana masalah biaya operasionalnya. Bagi panti yang juara, pemko melalui Kesra akan memberikan reward dan uang pembinaan dari peringkat I, II dan III. Hal itu juga mendorong sekaligus memotivasi pengurus agar lebih giat bekerja, meskipun mereka itu tidak digaji.(andri)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *