Sumbar

Padang

Fajar Terkini

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Petani Solok Memekik, Buah Cabai Membusuk dan Menghitam. Dinas Terkait Harus Turun Tangan



Padang, fajarsumbar.com - Sejumlah petani cabai di Kenagarian Selayo Tanang, Bukik Sileh, Jorong Taratak Paneh, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok memekik, karena sering gagal panen. Buah cabai banyak membusuk dan menghitam. Akibatnya petani merugi puluhan juta rupiah.

Pengakuan itu diungkapkan Mursid salah seorang petani cabai di kenagarian tersebut, kepada fajarsumbar.com, Kamis (5/7). Menurutnya, sejumlah petani cabai merugi, karena panennya tidak sesuai yang diharapkan. Cabai sering berpenyakitan, buahnya membusuk dan menghitam, meski para petani telah berupaya mengatasinya dengan menyuntikan berbagai pestisida.

Tapi kenyataannya setelah lima bulan sampai panen, buah cabai akan membantu ekonomi rumah tangga, tidak bisa diharapkan. Jangankan untung, pokok saja sulit untuk dikembalikan. "Malang benar nasib kami, sudahlah banyak mengeluarkan biaya sejak proses penggarapan lahan, sampai pembibitan dan pemeliharaan. Setelah lima bulan menunggu untuk panen, tapi buah cabai banyak yang membusuk dan menghitam," ujar Mursid sedih.

Para petani tidak mengetahui apa penyebab tanaman mereka yang semula subur jelang berbuah, tapi setelah musim berbunga mulai, berbagai penyakit mulai menyerang tanaman mereka. Keluhan seperti itu sudah disampaikan kepada pihak-pihak terkait, tapi sampai saat ini belum ada jalan keluarnya. Akibatnya petani cabai terus merugi. "Kami sangat berharap pihak terkait dapat mencarikan jalan keluarnya, sehingga petani cabai di Solok ini tidak tambah marasai," tambahnya lagi.

Menurutnya, petani tidak mengetahui apa yang menyebabkan buah tanaman mereka sering membusuk dan menghitam. Apakah akibat cuaca yang kurang bersahabat, karena pergantian panas ke hujan atau ada faktor lainnya. Petani telah berupaya menyemprotnya berbagai macam pestisida.

"Kami berharap dinas terkait menurunkan tenaga ahlinya untuk melihat dari dekat kondisi yang dialami di lapangan, agar para petani mendapatkan petunjuk serta jalan keluar dalam mengatasi penyakit tanaman cabai yang sering membusuk dan menghitam ini," harapnya.

Menurut Mursid yang mengaku memiliki beberapa lahan tanaman cabai tersebut dan perkirakan bila kondisi yang cukup baik bisa menghasilkan panen 300 kilogram satu minggu. Tapi kenyataannya hanya bisa menghasilkan 32 kilogram satu minggu.

Lebih menyedihkan lagi, cabai tersebut harganya dipermainkan para toke. Mereka menetapkan harga semaunya saja tertinggi hanya Rp16 ribu satu kilo dan paling rendah Rp10 ribu per kilogram. "Sudah jatuh dihimpit tangga pula, begitulah nasib para petani cabai saat ini, sudahlah tanaman tidak banyak menghasilkan, harganya dipermainkan pula para toke. Kami tidak tahu lagi kemana harus mengadu, sehingga dapat mencarikan solusinya, dan petani tidak terus merugi," tambahnya.

Para petani Solok tersebut sangat berharap kepada pemerintah untuk dapat mengendalikan harga cabai, sehingga tidak bakato toke saja, agar petani sejahtera dan tidak letih berladang saja. "Kami sangat berharap dinas terkait bisa terjun ke lapangan untuk melihat nasib petani cabai. Carikan keluar apa penyebab cabai kami sering gagal panen, buahnya sering membusuk. Begitu juga tolong kendalikan harganya jangan sekehendak hati para toke saja.

"Kami sangat berharap dinas terkait dapat menurunkan tenaga ahlinya ke lapangan, sekaligus mengendalikan harga, sehingga tidak seenak perut para toket saja," tutupnya dengan nada penuh harap. (andri)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *