Fajar Terkini

SUMBAR

Kota Padang

Pertemuan Alumni Pemicu Perceraian


Ramlan
Padang, fajarsumbar.comPertemuan alumni menjadi salah satu penyebab keretakan rumah tangga dan kemudian berujung perceraian di Kota Padang. Meski satu sama lain telah berjanji setia dan menutup hatinya untuk orang lain.

Celah perselingkuhan bisa saja terjadi tanpa disadari. Salah satu pintu yang paling gampang disusupi acara reunian. Bertemu teman sekolah atau kuliah bisa saja menimbulkan percik-percik asmara.

Hal itu diakui Ketua Kelompok Kerja Pengulu (Pokjalu) Kota Padang, yang juga Plt Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), Kecamatan Lubuk Begalung, Ramlan, Kamis (20/9). "Salah satu faktor penyebab angka perceraian rumah tangga bermula dari reuni-reunian kemudian bertukar nomor WhatsApp dan fator faktor lain," ujarnya.

Menurutnya, di setiap kecamatan di Padang didirikan Pusat Pelayanan Terpadu (P2T) Program Ketahanan Keluarga dan Konsultasi Agama. Tujuannya untuk tempat konsultasi bagi pasangan suami isteri yang bermasalah. Dari data di Pengadilan Agama angka perceraian di Padang naik tajam setiap tahun.

Petugas KUA Lubeg melayani warga.
Di Lubeg sendiri P2T Program Ketahanan Keluarga dan Konsultasi Agama itu dilaunching di Masjid At-Taubah, Wisma Utama Pulau Aia Parak Laweh, Sabtu (25/8) lalu. 
Sejak launching program yang bermotokan mendampingi dan memberikan solusi itu, sampai 20 September sudah enam kasus yang ditangani. Empat di antaranya bisa diselesaikan dan dua lagi berlanjut ke Pengadilan Agama.

Menurutnya, berdasarkan pengaduan suami istri yang berkonsultasi, mereka cemburu karena pasangan mereka ditenggarai berselingkuh karena sering mengirim pesan WhatsApp, ngobrol di media sosial pada teman lama, hal itu banyak yang diawali dari acara reuni-reunian. 

"Ada di antaranya acara reuni-reunian itu menumbuhkan bibit-bibit cinta lama bersemi kembali. Tentu tidak semua acara reuni-reunian berujung berselingkuhan itu," ujarnya. 

Selain reuni-reunian, ada faktor penyebab lain terjadinya keretakan rumah tangga, seperti media sosial (medsos). Berdasarkan catatan di KUA Lubeg pada 2017 angka pernikahan tercatat 820 pasang. Sedangkan jumlah warga yang nikah sampai 20 September 2018 ini telah tercatat 639 pasang. "Dari catatan kami angka perceraian itu hampir mencapai 20-25 persen setiap tahun," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kemenag Kota Padang, Mashuri menyebutkan, masih tingginya angka perceraian di Padang, pemerintah melalui Kementerian Agama menyikapi dengan mendirikan tempat konsultasi bagi pasangan suami isteri yang bermasalah.

Tempat konsultasi itu dinamakan P2T Program Ketahanan Keluarga dan Konsultasi Agama yang ketua penyuluhnya Kepala KUA di masing-masing kecamatan. "Mereka yang bermasalah pada keluarga agar tidak berujung perceraian, mereka dapat berkonsultasi ke P2T yang berkantor di masjid ini," ujarnya.

Dipilihnya masjid sebagai tempat penyelenggaraan, sebutnya, karena dinilai lebih aman bagi siapa pun. Tidak akan menimbulkan kecurigaan. Selain itu masjid adalah tempat yang penuh dengan rahmat.

Menurutnya, masalah rumah tangga itu juga ada persoalan ekonomi, adat, dan lainnya. Untuk itu ia berharap bila ada terjadi masalah rumah tangga, suami istri agar tidak gegabah mengambil keputusan untuk bercerai. Sebaiknya manfaatkan konsultasi agama yang bermotokan mendampingi dan memberikan solusi tersebut.

"Jangan langsung ke pengadilan agama. Bicarakan kembali dan manfaatkan kegiatan ini untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi," katanya.

P2T itu dibuka ruang dan wadah bagi masyarakat untuk berurusan di luar kantor dan jam dinas. Masjid dijadikan pilihan sebagai tempat menyelesaikan persoalan umat.(andri)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *