Fajar Terkini

SUMBAR

Kota Padang

Dubalang, Kearifan Lokal Mewujudkan Ketentraman di Kota Pariaman

Gusfen Khairul


Oleh Gusfen Khairul *)
Kata ‘dubalang’ artinya adalah pengawal atau orang pemberani. Dalam bahasa Minang dikenal sebagai urang bagak. Dubalang adalah salah satu elemen pada sistem adat Minang dalam lingkup suatu kaum atau klan, yang personilnya bertugas khusus untuk mengawal, menjaga keamanan dan ketentraman kaum. Karenanya, dubalang mesti jago silat dan jagoan. Di masa lalu, dubalang dipilih dan ditunjuk dari kaum itu sendiri untuk menjaga keamanan dan kehormatan penghulu kaumnya.

Beranjak dari kearifan lokal yang telah lama hilang ini, maka pada tahun 2016 Drs. Mukhlis Rahman (60) yang saat itu menjabat sebagai Walikota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, mencoba menggali potensi dubalang sebagai bagian dari program pembangunan. 

Konsepnya adalah menumbuhkan partisipasi dari masyarakat itu sendiri dalam menjaga keamanan dan ketentraman desa. Karena masyarakat desa itu sendiri pasti lebih mengetahui potensi ancaman dan sosok orang yang mampu mengantisipasinya. Pas! Dubalang adalah jawabannya, begitu pikir Mukhlis Rahman pada waktu itu.

Gagasan Walikota Mukhlis Rahman untuk menjadikan dubalang sebagai penjaga keamanan dan ketentraman desa ternyata mendapat sambutan dari ninik mamak, yang merupakan para pemangku adat di tengah-tengah masyarakat. Melalui rapat kerja Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Pariaman pada Januari 2016, lahirlah dukungan dukungan resmi dari masyakarat adat terhadap rencana walikota mengaktifkan kembali peran dubalang.

“Kami tentu saja menyambut baik adanya upaya menjaga kearifan lokal yang sangat sesuai dengan budaya adat di Pariaman, yaitu dubalang. Di masa lalu, dubalang  sangat berperan menjaga kampung dari orang-orang yang berniat jahat. Dubalang jago bersilat dan berani karena tugasnya mencegah pencuri yang berniat menjarah hasil tanaman masyarakat atau pencuri ternak peliharaan,” kata Sidi Priyaldi (49), Sekretaris LKAAM  Kota Pariaman bercerita.

Dengan situasi saat ini, tentu peran dan tugas dubalang disesuaikan dengan kebutuhan di setiap desa. Kata Sidi Priyaldi, intinya tugas dubalang adalah menjaga keamanan dan ketentraman di desa, sehingga masyarakat aman dan damai. Ini tentunya termasuk menegakkan Peraturan Desa (Perdes) yang sudah ada.

Sebagai contoh, di sebuah desa ada Perdes tentang Ikan Larangan. Bentuknya, yaitu sungai yang ditebarkan bibit ikan dan pada jangka waktu tertentu masyarakat dilarang menangkap ikan di sungai tersebut. Maka selama waktu terlarang menangkap ikan itu, peran dubalang  mengawasi ikan dari pencurian. 

“Nanti pada waktu yang ditentukan, ikan di sungai itu ditangkap oleh masyarakat bersama-sama dan hasilnya digunakan untuk pembangunan mesjid atau untuk membiayai kegiatan pemuda desa,” kata Sidi Priyaldi memberi contoh kegiatan di desa berupa Ikan Larangan yang diatur dengan Perdes.

***
Dengan dasar dukungan dari pemangku adat inilah Walikota Pariaman Mukhlis Rahman kemudian makin mantap menggunakan kearifan lokal sebagai pijakan untuk menjaga ketentraman desa, yaitu memberdayakan dubalang. Wujudnya dilahirkan Peraturan Walikota (Perwako) Nomor 15/2016 pada tangal 1 Maret 2016. Perwako ini mengesahkan dubalang sebagai salah satu perangkat penjaga keamanan dan ketentraman di desa, yang honorariumnya dibiayai oleh APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belajanja Desa) setiap tahun. Secara formalnya, dubalang diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Desa.

Maka, sejak Maret 2016 itu, di Kota Pariaman mulai diangkat 450 orang dubalang yang Surat Keputusannya diterbitkan oleh masing-masing Kepala Desa. Dubalang adalah sosok terpilih yang menjaga keamanan dan ketentraman masyarakat di 55 desa yang ada, atau lebih tepatnya mereka berasal dan berdomisili di dusun-dusun yang ada dalam desa.

Dalam pasal-pasal Perwako Pariaman yang mengesahkan terbentuknya dubalang ini, dengan jelas diatur persyaratan dan tugas pokok setiap dubalang. Syarat utamanya, dubalang harus berasal dari desa itu sendiri. Tidak boleh dubalang berasal dari desa tetangga. Tujuannya agar dubalang mengenal dan dikenal oleh masyarakatnya. “Persyaratan domisili dan asal dubalang ini memang mengacu kepada pada sejarah dubalang di masa lalu. Dubalang berasal dari kaum untuk menjaga penghulu kaumnya, bukan dari kaum yang lain. Pada konsep sekarang diterjemahkan karena dubalang adalah milik desa, maka dubalang harus berasal dari masyarakat desa itu sendiri,” kata Mukhlis Rahman berkisah seputar pembentukan Perwako dubalang. Mukhlis Rahman kini tidak lagi menjabat Walikota Pariaman, karena ia sudah mengakhiri masa pengabdian dua periodenya pada tanggal 9 Oktober 2018 lalu.

Persyaratan lainnya terhadap dubalang yang diatur dalam Perwako adalah usia, yaitu usia mulai dari 25 tahun hingga 45 tahun. Tujuannya supaya dubalang masih gesit dan fit dalam menghadapi tugas-tugas pengamanan. Bahkan diprioritaskan bagi mereka yang menguasai bela diri. Syarat lainnya, dubalang tidak menuntut menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, jika ada ASN atau TNI/Polri ada yang berminat mengabdi menjadi dubalang di desanya, Perwako membolehkan. Syaratnya ASN, TNI/Polri harus mendapatkan dari atasannya.

Dari sisi pendapatan yang diterima dubalang tidak lah besar. Hanya Rp300 ribu setiap bulannya. Kadang-kadang dubalang dilibatkan dalam berbagai kegiatan di desa sebagai panitia pelaksana, dan akibatnya dapat honor, sedikit lagi. Ditambah, setiap enam bulan dubalang menerima fasilitas baju seragam. Warna seragamnya merah menyala. Pada lengan kanannya dililit simbol kebesaran adat Minang berupa umbul-umbul warna merah, kuning dan hitam.

Dengan pendapatan yang terbatas itu, dubalang memang tidak berdinas 24 jam. Sesungguhnya dubalang siaga, atau dapat dipanggil setiap waktu, walau pun sejatinya dubalang memiliki pekerjaan lain sehari-hari. Ada yang menjadi petani, ada yang berdagang di desanya sendiri, atau pun menjadi tukang. Bahkan ada yang menjadi nelayan, mencari ikan ke laut pada subuh hari dan pulang saat matahari sudah beranjak naik.

Salah seorang dubalang, bernama Alfajri (34) mengaku senang melakoni menjadi dubalang selama hampir dua tahun ini di Desa Naras Satu, Kecamatan Pariaman Utara. ”Pendapatan memang kecil, tetapi mudah-mudahan pendapatan amalnya besar,” kata Alfajri menghibur hatinya.

Harapan Alfajri kepada pemerintah Kota Pariaman, kiranya ke depan honor bulanan dubalang dapat ditingkatkan. Sebab dubalang juga memiliki keluarga, anak dan bini yang harus dihidupi. Kata Alfajri, yang paling diharapkan oleh dubalang adalah asuransi. Ini sudah beberapa kali diusulkannya melalui Kepala Desa. “Tugas kita sebagai dubalang tidaklah ringan. Kadang juga berbahaya, karena menghadapi orang yang berniat jahat. Karena itu asuransi sangat diharapkan dubalang,” kata Alfajri.

***
Mengapa Walikota Pariaman Mukhlis Rahman begitu serius memanfaatkan kearifan lokal, yaitu dubalang sebagai penjaga keamanan dan ketentraman desa? Menurut Mukhlis Rahman, kearifan lokal yang diwariskan pendahulu kita justru sangat luhur. Dubalang menjaga kehormatan kaum, dubalang menempatkan jago-jago silat dan orang berilmu bela diri berada pada perannya yang pas. Sehingga penghulu kaum menjadi terjaga keamanannya, orang pemberani dalam kaum juga mendapat peran yang sesuai.

Dengan Perwako yang dilahirkan Mukhlis Rahman jelas dampak positif yang nyata. Pertama, dubalang dapat menampung tenaga muda potensial untuk mengabdi di desa. Kedua, dengan adanya dubalang ini maka kearifan lokal ‘paga nagari’ hidup kembali. Pengertian ‘paga nagari’ adalah setiap desa memiliki pagar atau penjaga dari orang-orang yang berniat jahat kepada masyarakat di desa itu.

Bagi Mukhlis Rahman, keberadaan dubalang juga dimanfaatkan untuk mensukseskan program fenomenalnya yaitu Maghrib Mengaji. Program ini mewajibkan masyarakat berada di mesjid mulai waktu Sholat Maghrib hingga Sholat Isya. Selama di mesjid dilakukan kegiatan membaca Al Qur’an, melakukan kajian tafsir dan mendengarkan ceramah agama. Selama Maghrib Mengaji pula, tidak dibolehkan remaja berkeliaran di desa, duduk di warung, nongkrong di persimpangan jalan atau ngebut-ngebutan dengan sepeda motor.

Untuk menjaga ketertiban penyelenggaraan Maghrib Mengaji ini, para dubalang di masing-masing desa melakukan patroli. Dengan ajakan dan bahasa yang santun, dubalang menyuruh remaja untuk meramaikan mesjid. Juga mengajak orang-orang dewasa yang masih asik duduk-duduk di warung pada saat waktu Maghrib Mengaji. “Dubalang efektif dalam membantu mensukseskan program Maghrib Mengaji. Saya cukup senang, masyarakat pun sangat mendukung,” kata Mukhlis Rahman, yang juga seorang penghulu adat bergelar Datuak Basa Batuah dari persukuan Sikumbang Kota Pariaman.

Tetapi lebih jauh dari itu, sesungguhnya ada harapan tersembunyi di hati Mukhlis Rahman dengan membentuk dubalang ini, yaitu adanya perangkat pemerintahan yang dapat melakukan deteksi dini terhadap apa pun yang terjadi desa. Inilah benang merah dari kearifan lokal ini. Dubalang menjadi mata dan telinga dari pejabat pemerintahan terendah yaitu Kepala Desa. Sehingga, jika ada harapan terwujudnya keamanan dan ketentraman di desa, maka melalui dubalang ini, maka Insya Allah harapan itu akan tercapai.
*** 
Dua tahun telah berjalan, keberadaan dubalang di desa-desa di Kota Pariaman makin dirasakan manfaatnya. Menurut Kapolres Kota Pariaman AKBP Andry Kurniawan, ia sependapat jika dikatakan dubalang adalah mata dan telinga yang menjadi deteksi dini keadaan di desa. Karena dubalang sehari-hari ada di desa dan menyelami apa yang sesungguhnya isu dan informasi yang berkembang di  masyarakat.

“Saya banyak mendapat laporan, Babin Kamtibmas saya terbantu dengan adanya dubalang. Kasus-kasus ringan seperti percekcokan rumah tangga atau keributan kecil di desa bisa diselesaikan secara musyawarah di desa dengan bantuan dubalang. Tidak harus semua kasus ringan itu berakhir di kantor polisi,” kata AKBP Andry Kurniawan.

Selain itu, jika ada penyuluhan tentang Kamtibmas di desa-desa, kini dapat dengan mudah dilakukan karena bekerjasama dengan dubalang. Ada dubalang menjadi jembatan. Kehadiran aparat polisi di desa-desa kini menjadi sahabat masyarakat. Polisi duduk di warung dan berdiskusi dan bertukar pikiran dengan masyarakat. Atau polisi berbaur dengan petani di tengah ladang. Atau polisi bergabung dengan masyarakat di mesjid dalam program Maghrib Mengaji.

Ketika ditanyakan kepada Kapolres Pariaman, apakah fakta nyata pasca dubalang berjalan di desa-desa? “Dari data yang ada di Polres, tidak ada kasus-kasus tindak kekerasan dan aksi radikal yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini. Nihil. Menurut saya, ini pasti ada sumbangan dari keberadaan adanya dubalang di desa-desa,” jelas AKBP Andry Kurniawan lagi.

Berbahagialah masyarakat Kota Pariaman yang berpenduduk 65 ribu jiwa ini. Kota yang berada di pinggir pantai ini sekarang dalam kondisi aman, tentram dan damai. Sangat cocok dengan program unggulan kota ini sebagai destinasi wisata. Kondisi aman, tentram dan damai ini tentunya tidak terlepas dari adanya para dubalang yang ada di desa-desanya.

Tentunya program dubalang di desa ini akan terus langgeng di Kota Pariaman karena sejalan dengan tekad Walikota Pariaman yang baru, Genius Umar, yang sebelumnya menjabat Wakil Walikota. “Dubalang sangat membantu kita di desa dalam menciptakan keamanan dan ketentraman. Ini tentunya akan kita teruskan. Kita akan bicara dengan DPRD untuk terus meningkatkan kesejahteraan dubalang,” kata Genius Umar. 
***
Dubalang adalah contoh nyata bahwa kearifan lokal, meski pun sederhana, mampu memberikan manfaat yang besar di tengah-tengah masyarakat. Meski pun dengan honor yang rendah, hanya Rp300 ribu seorang sebulan, tetapi dubalang mampu mengabdi dengan baik dan menganggap pekerjaaan lebihnya adalah amal ibadah.

Provinsi Sumatera Barat memiliki 19 kabupaten kota. Berarti ada 18 kabupaten dan kota selain Kota Pariaman. Karena dubalang ini adalah kearifan lokal adat Minang, maka sangat terbuka kemungkinan untuk mewujudkan dubalang di 18 kabupaten dan kota lainnnya. Alangkah luar biasanya jika itu terjadi, karena dari sisi pembiayaan pastilah tidak akan terjadi kendala karena seluruh desa dan nagari telah memiliki dana desa yang merupakan bantuan APBN dan APBD. Insya Allah (*)

*)  Redaktur portal berita www.fajarsumbar.com
**) Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik Anugerah Indonesia Damai 2018.

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *