Fajar Terkini

SUMBAR

Kota Padang

Memasuki Satu Abad, Museum Goedang Ransoem Gelar Berbagai Even

Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto. (ist)

Sawahlunto, fajarsumbar. com - Memasuki usia satu abad, Museum Goedang Ransoem di Kota Sawahlunto menggelar berbagai even. Penyerahan piagam penghargaan bagi perintis dan pelaku berjalannya museum menjadi puncak dalam rangkaian memperingati usia satu abad museum nanti.

Beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman ini adalah lomba photografi yang sudah berlangsung sejak 15 November lalu hingga 15 Desember mendatang, lomba mewarnai tingkat TK, lomba rangking satu tingkat SLTP, seminar tentang museum dengan keynote speaker Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Drs. Fitra Arda, M. Hum, serta festival jajanan tradisional.

Kepala Bidang Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman, Drs. Wan Ikhlas saat dihubungi mengatakan bahwa puncak rangkaian acara tersebut adalah di tanggal 17 Desember mendatang. "Sesuai dengan tanggal berdirinya Museum Goedang Ransoem yang diresmikan pada tanggal 17 Desember 2005 lalu," katanya.

Penghitungan usia Museum Goedang Ransoem yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI, M. Yusuf Kalla pada 17 Desember 2005 lalu diambil dari tahun berdirinya bangunan museum pada tahun 1918. Dengan demikin, tahun 2018 usia bangunan museum sudah 100 tahun.

Museum ini menempati bangunan bekas Dapur Umum Kolonial Belanda. Begitu juga dengan koleksinya berupa bekas peralatan dapur umum dulunya.

Di museum ini dulunya seluruh kebutuhan makan masyarakat tambang batubara dibuat. Sedikitnya dapur umum ini memasak untuk 7000 orang, dengan 3.900 kg beras setiap harinya dimasak disini.

Besarnya kebutuhan masak yang diproduksi dari dapur ini mengharuskan peralatan dapurnya serba besar. Bahkan pada zamannya, dapur umum ini merupakan dapur umum terbesar di nusantara. Bahan bakarnya menggunakan uap panas hasil pemanasan air  pada mesin steam generator.

Pemandangan antri keluarga buruh tambang mengambil jatah makan di depan dapur umum sudah menjadi gambaran setiap hari pada masa kolonial. Banyak kisah pilu yang lahir di dapur umum ini, hingga ekplorasi pekerja anak-anak juga ada disini. Kisah yang pernah ada itu kini dikisahkan dalam Museum Goedang Ransoem dalam bentuk tulisan, koleksi serta alur cerita yang terpajang di dalam museum ini.

Tidak hanya Museum Goedang Ransom, di Kota Sawahlunto juga berdiri museum-museum lain, seperti Museum Kereta Api, Museum Tambang, Museum Musik, Museum Tari, Museum Etnografi dan Galeri Tambang Mbah Soero. Penggalan kisah Kota Tambang Batubara ini diceritakan di setiap museum tersebut. Kehadiran banyak museum ini diharapkan Kota Lama Sawahlunto dapat menjadi Living Museum. (adrial)

Previous
« Prev Post

Berita Lain:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *