Sawahlunto Tawarkan Peluang Investasi yang Menarik -->

Sawahlunto Tawarkan Peluang Investasi yang Menarik

Kamis, 20 Desember 2018
Sere wangi di Balai Batu Sandaran Kecamatan Barangin

SAWAHLUNTO - Kota Sawahlunto merupakan salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat yang memiliki karakteristik pembangunaan yang sangat berbeda dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya. Pembangunan daerah Kota Sawahlunto pada awalnya didominasi sektor pertambangan. Setidak-tidaknya hampir 50% pembangunan daerah Sawahlunto berasal dari kontribusi sektor pertambangan. Sedangkan pertanian memberikan kontribusi yang relatif kecil.

Selain tambang pada 1970-an, Kota Sawahlunto juga dikenal sebagai penghasil tenun khususnya daerah Silungkang sehingga dinamai dengan tenun Silungkang, dimana sebagian besar penduduk juga menggantungkan hidupnya dari sub-sektor ini. Namun saat ini, bisnis pertenunan mengalami penurunan. Dari yang semula 80% penduduk Silungkang memiliki alat tenun dan terlibat dalam usaha tenun sebagai bagian dari mata pencaharian keluarga, maka pada saat ini hanya seperlima yang digunakan untuk produksi.

Sebagaimana pengerajin tenun, kegiatan pertambangan juga mengalami penurunan bersamaan dengan menurunnya produksi batu bara oleh PT. Bukit Asam (BA-UPO) di Sawahlunto. Meski bangunan-bangunan pengolahan tambang dan infrastruktur pendukung pertambangan masih berdiri, namun proses pertambangan tidak beroperasi lagi.  Sehingga tidak berjalannya produksi batu bara oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut juga mengguncang perekonomian masyarakat Sawahlunto.

Sejalan dengan menurunnya “denyut” bisnis di Kota Tambang itu, pada 1990, pemerintah berupaya memperluas wilayah administrasi kota dengan mengambil wilayah dari Nagari-Nagari di sekitarnya. Dua pusat kota tercipta, yaitu: “Kota Tua” dan “Kota Baru”. Kota Tua merupakan bagian Sawahlunto yang terdiri dari pelbagai bangunan masa kolonial dengan arsitektur indische yang merupakan pusat bisnis pertambangan. Perluasan wilayah kota itu diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi baru bagi Sawahlunto.

Sebagai bentuk perluasan wilayah administratif, wilayah Kota Baru yang luasnya mencapai 27,793 Ha (atau bertambah hampir 50 kali lipat dari luas semula) telah mengubah corak perkotaan Kota Sawahlunto. Beberapa bagian kota tetap mempertahankan hutan, sawah, dan ladang serta kantong-kantong permukiman yang masyarakat penghuninya memiliki pekerjaan utama sebagai petani.
Danau Tandikek di Taman Satwa Kandi

Kondisi dua pusat kota itu menimbulkan berbagai gagasan baru bagi pemerintah untuk menghidupkan kembali geliat ekonomi. Salah satu yang kemudian dikembangkan adalah dengan memanfaatkan kembali Kota Tua sebagai magnitude ekonomi yang memiliki corak bisnis berbeda dengan tetap memanfaatkan bekas peninggalan tambang batubara tersebut.

Pada 2003, Walikota Sawahlunto saat itu, Amran Nur, mengubah Kota Tua menjadi destinasi pariwisata dengan memanfaatkan peninggalan tambang batubara tersebut. Pembenahan dilakukan dengan menambah objek-objek wisata baru dari bekas tambang sehingga menghasilkan objek wisata unik yang menjadi ciri khas kota yang berbeda dengan objek wisata kota-kota lainnya. Perubahan konsep pembangunan ekonomi itu kemudian dituangkan dalam visi-misi Kota Sawahlunto saat ini.

Kehadiran Kota Tua Sawahlunto juga memberikan dampak multiplayer effect bagi perekonomian masyarakat. Begitu juga dengan Pemko sendiri dengan menjadikan asset daerah tersebut dijadikan status warisan budaya. Buktinya, saat ini Kota Tua sudah diajukan menjadi warisan budaya dunia yang diakui UNESCO.

Kota Tua juga memberikan magnet bagi perkembangan sektor pariwisata lainnya. Berbagai objek wisata rekreasi dibangun guna mendukung visi kota ini sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya. Adapun beberapa objek wisata yang sudah dibangun adalah Taman Satwa Kandi, Waterboom, Puncak Cemara, Camping Ground, Kelok Sembilan maupun geopark.

Perkembangan sektor pariwisata di Kota Arang ini dari tahun ke tahun terus menggeliat. Hal ini mendorong Pemko untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan untuk berinvestasi di kota ini. Bekas areal penambangan yang sudah direklamasi menjadi salah satu lahan utama ditawarkan kepada investor dalam pengembangan pariwisata. Berikut beberapa peluang investasi yang ditawarkan.

Kawasan Kandi
Kawasan Kandi yang terletak di Kecamatan Barangin adalah sebauh kawasan yang dijadikan sebagai kawasan pariwisata rekreasi. Dengan luas 400 ha, saat ini sudah dibangun beberapa objek wisata dan pusat olahraga, seperti Taman Satwa Kandi, Taman Buah, Camping Ground, Lapangan Pacu Kuda yang sudah bertaraf nasional, arena road race dan bebebrapa objek wisata lainnya. Kawasan ini pun terus dikembangkan untuk dibagun berbagai arena rekreasi wisata yang menarik.

Dikawasan ini kami tawarkan kepada investor untuk melakukan pengembangan kawasan Kandi dengan pembangunan The White King Fantasi. Konsep pembangunan The White King Fantasi yang memadukan objek resort wisata, taman satwa serta view yang baik belum ada di kota lain di Pulau Sumatera. Konsep wisata rekreasi di resort  masih terbatas di Pulau Sumatera.

Peluang sebagai kota wisata saat ini tumbuh pesat dengan tingkat kunjungan yang meningkat setiap tahunnya. Seringnya dilaksanakan event-event nasional dan internasional di resort wisata Kandi dan Kota Sawahlunto. Berbagai wahana permainan pun akan dibangun dikawasan ini, seperti Roller Coster, Museum Zoologi, Wahana Visualisasi Neraka, Visualisasi Surga dan beberapa wahana menarik lainnya.

The White King Fantasi
Luas lahan yang ditawarakan dalam pembangunan The White King Fantasi adalah 146.000. m². dengan nilai investasi yang ditawarkan Rp280 miliar.

Di kawasan ini juga ditawarkan pembangunan Hotel/Cottage dan Food court. Kedua penawaran pembangunan ini akan menambah daya tarik wisata sekaligus menjadi pelengkap sebuah kawasan wisata yang komplit. Nilai investasi yang ditawarkan untuk pembangunan hotel atau cottage ini adalah Rp.9 Miliar dan pembangunan food coart sebesar Rp 4 Miliar. Penguasaan lahan kawasan Kandi ini sudah merupakan kepemilikan Pemerintah Kota Sawahlunto.

Perkebunan Sereh Wangi dan Nilam
Tidak hanya sektor pariwisata, Kota Sawahlunto juga menawarkan peluang investasi di sektor pertanian. Perkebunan Sereh dan Nilai menjadi peluang yang cukup menjanjikan. Terletak di Kecamatan Barangin, kedua produk pertanian ini sudah diawali dengan pembibitan dan penanaman. Dengan luas lahan 75 ha, komoditi ini telah dilakukan pengujian Puslitbang Bogor dengan hasil penyulingan yang baik dan bermutu. Disini kami menawarkan untuk pembangunan pabrik penyulingan sekaligus perkembangan perkebunan Sereh Wangi dan Nilam. Saat ini, pemasok minyak astiri hasil penyulingan sereh wangi di Sumatera Barat datang dari daerah ini.

Kakao dan Industri Pengolahannya
Komoditi Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan di Kota Sawahlunto. Dari tahun 2003 s.d 2013 melalui dana APBD Kota Sawahlunto telah disebar 1.369.000 batang bibit kakao kepada masyarakat kota Sawahlunto secara gratis. Pada saat ini luasan Perkebunan Kakao yang tersebar di 4 (empat) kecamatan Kota Sawahlunto mencapai 601,4 Ha. Produktivitas kakao mencapai 1 – 1,3 ton/ha/tahun dalam bentuk biji kering.

Disamping itu, saat ini telah ada Nagari Model Kakao yang merupakan kerjasama antara Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Barat, BPTP Sukarami dan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sawahlunto.Nagari Model Kakao terletak di Nagari Kubang dengan fasilitas Becak Motor, Pondok Pertemuan, dana lat lengkap untuk budidaya kakao. Masyarakat di Nagari Model Kakao ini telah mampu untuk meningkatkan mutu budidaya kakao dengan melakukan Sambung Samping/Sambung Pucuk Kakao.

Sektor Pertambangan.
Peluang Investasi pada sektor pertambangan dan energi yang ada di Kota Sawahlunto, antara lain:

• Pendirian Usaha Pertambangan Batubara melalui mekanisme lelang pada lokasi Bukit Sibantar, Sikalang dengan luas wilayah 111 ha dengan potensi sumberdaya batubarasebesar 10.995.060 ton.

• Pendirian Usaha Pertambangan Batugamping maupun investasi modal dengan perusahaan tambang batuan yang ada dengan lokasi sebaran, yaitu taratak bancah, Silungkang Oso, Talago Gunung, Lumindai, Kubang, dan Kolok dengan estimasi sumberdaya sebesar 637.575.563,66 ton.

• Pendirian Usaha Pertambangan Bitumen dengan sebaran terdiri dari 3 (tiga) blok bitumen padat, yaitu Blok Kumbayau, Blok Kolok dan Blok Sapan. Tebal bitumen padat di Blok Kumbayau berkisar antara 30 m- 80 m, panjang sebaran berkisar antara 2000 m s.d. 4000 m, sumberdayanya 351.428.000 ton. Tebal bitumen padat di Blok Kolok berkisar antara 75 m s.d. 125 m, panjang sebaran berkisar antara 3500 m s.d. 4500 m, sumberdayanya 568.095.000 ton. Tebal bitumen padat di Blok Sapan berkisar antara 160 m s.d.180 m, panjang sebaran berkisar antara 1500 m s.d. 2500 m sumberdayanya 472.560.000 ton

• Pendirian Usaha Pertambangan Tanahliat yang terdapat di Taratak Bancah dengan potensi sumberdaya 5.369.601,38 Ton, Talago Gunung dengan potensi sumberdaya sebesar 19.503.792 ton, dan Talawi dengan potensi sumberdaya 38.090.514,99 ton.

• Pendirian Usaha Pertambangan Khusus Pengolahan dan Pemurnian/Pengangkutan dan Penjualan Batubara dengan bekerjasama dengan perusahaan tambang yang ada di Kota Sawahlunto. Untuk halaman ini pakai foto tanah liat

• Pendirian Usaha Pertambangan emas/tembaga melalui mekanisme lelang dengan potensi seberan berada di daerah Kolok, Kubang, dan Balai Batusandaran.
• Pendirian Usaha Pertambangan Granit yang terdapat di Silungkang, Kolok dan Talago Gunung.

• Pendirian Usaha Jasa Pertambangan untuk mendukung kegiatan usaha pertambangan yang ada.

Abu Batubara (Fly Ash)
Kota Sawahlunto dikenal masyarakat umum sebagai daerah penghasil Batubara. Pertambangan Batubara di Kota Sawahlunto dimulai pada zaman kolonial Belanda. Sampai dengan saat ini, pertambangan batubara dapat kita jumpai di Kota Sawahlunto.

Melihat hasil pertambangan batubara di Kota Sawahlunto, maka dibangunlah PLTU Ombilin yang mampu menghasilkan listrik untuk kebutuhan daerah Riau dan Jambi yang berbahan bakar dari batubara. Dari proses batubara menjadikannya listrik, PLTU Ombilin Kota Sawahlunto mengahasilkan 4.300 ton abu batubara pertahunnya. Abu batubara ini merupakan limbah industri dari PLTU Ombilin.

Limbah abu batubara tersebut oleh PT. Semen Padang telah dijadikannya sebagai bahan pendukung pembuatan semen, dan melalui PLTU Ombilin itu sendiri, abu batubara dijadikan pavling blok memalui kegiatan pelatihan kepada masyarakat.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja, Dwi Darmawati, SH mengatakan akan menjamin proses perizinan berinvestasi secara cepat dan tidak berbelit-belit.

“Kita akan memberikan pelayanan yang prima kepada investor untuk berinvestasi di Kota Sawahlunto. Disamping proses perizinan yang cepat dan transparan, kita juga memberikan insentif sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku” tambah Dwi Darmawati.

Lebih lanjut Dwi Darmawati mengatakan, pelayanan yang baik menjadi tujuan utama berdirinya DPMPTSP-Naker. Hal itu dibuktikan dengan diterimanya penghargaan Komitmen Daerah Berkontribusi di Jaga Perizinan tahun 2018 dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta penghargaan Predikat Kepatuhan Tinggi Pelayanan Publik Tahun 2018 dari Ombudsman Republik Indonesia. “Kita menyambut kehadiran investor untuk berinvestasi di Kota Sawahlunto,” ujar Dwi Darmawati mengakhiri.

Informasi selanjutnya dapat dilihat di www.sibaro.sawahlunto.go.id (adrial)