Belasan Tahun Lumpuh, Marbot Masjid Ini Butuh Uluran

Iklan Semua Halaman


iklan halaman depan

Belasan Tahun Lumpuh, Marbot Masjid Ini Butuh Uluran

Kamis, 23 Mei 2019

Pasbar -  Memiriskan, Tohir (80) kini harus mengarungi kehidupan seorang diri dalam kelumpuhan. Ia di Pasaman Barat sebatang kara. Marbot masjid ini, hanya bisa pasrah menerima takdir dan nasib. 

Konon Tohir merupakan warga Jawa yang datang ke Pasaman Barat puluhan tahun silam seorang diri. Tidak ada keluarga ataupun dunsanak yang ia dapati di Pasbar. Saat itu, usianya yang sudah mulai renta, akhirnya oleh masyarakat perumahan Kavlingan Empat, Kenagarian Lingkuang Aur, Kecamatan Pasaman ia dijadikan marbot di Masjid Nurul Ikhlas yang berada di komplek perumahan itu. 

Akan tetapi naas baginya, beberapa lama bekerja, Tohir mulai mengalami sakit. Awalnya dia diserang penyakit chikungunya dan sempat dirawat di Rumah Sakit. Kemudian berlanjut jadi lumpuh hingga tak dapat bicara hingga sekarang.  

Mengetahui hal itu, kepala dusun dan warga setempat berembuk, bagaimanapun juga Tohir adalah manusia yang harus diberlakukan dengan prikemanusiaan kendati siapapun dia dan darimanapun dia. Sehingga, warga mencari orang yang mau merawat Tohir dan diberi biaya perawatan dan makan setiap bulannya. Dana itu diambil dari infak sadakah Masjid  Nurul Ikhlas. 

Sugiono (58), dia lah kepala keluarga yang selama ini merawat Tohir. Sudah belasan tahun keluarga  tinggal bersama mereka  di Dusun I Bandarejo, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat. Sugino (58) merupakan warga yang diminta pengurus masjid nurul ikhlas untuk merawat kakek tohir. 

"Sudah sangat lama saya merawat beliau, ini tahun kesebelas saya merawat. Sejak sakit dan dirawat sebelas tahun lalu dia hanya seperti itu. Dia gak bisa ngomong dari awal," ucapnya.

Jelas sugino, hingga saat ini mereka tidak tahu dimana kampung kakek itu. Kabar yang didapat, beliau ini merantau dari pulau ke Pasaman Barat untuk bekerja di salah perkebunan di Kinali dahulu. Namun usai kontrak kerja habis, dia tidak kembali bersama rekan-rekan nya ke pulau jawa.

Atas penyakit yang diderita, berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, namun tidak ada perubahan hingga saat ini. Apa lagi biaya untuk perawatan kakek tohir beberapa bulan terakhir ini tidak ada bantuan lagi dari pengurus masjid.

"Biasanya kami diberikan 1juta buat biaya merawat kakek tohir. Uang tersebut didapat pengurus masjid dari iuran masyarakat kavlingan tiap bulan. Namun empat bulan terakhir ini tidak ada lagi. Saya ini hanya seorang petani mas, berapa lah penghasilan saya dengan umur telah 58 tahun," ungkapnya.

Katanya, kepala dusun juga sudah berupaya mengadukan kejadian ini terhadap pemerintah daerah. Akan tetapi responnya belum ada. 

"Dinas Sosial datang kesini, namun hanya mengantarkan materas dan beras. Ya, sekedar itu saja, namun untuk solusi lainnya gak ada mas, saya gak tau mau buat apa," jelasnya.

"Secara kan kakek tohir harus rutin minum obat belum lagi dia harus diberikan pempers. Untuk beli pempers orang dewasa mas kan tahu sendiri. Apa lagi pemakaian untuk kakek tohir sebulan itu bisa menghabiskan sebanyak 5pak," timpal Sugino.

Untuk itu, katanya mereka saat ini butuh solusi dan uluran tangan. Jika diantar ke panti jompo tidak memungkinkan, karena kondisi fisik yang sudah lumpuh total. (Andika)