Tersangka Pembunuhan di Panti Lakoni 23 Adegan Saat Reka Ulang

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Tersangka Pembunuhan di Panti Lakoni 23 Adegan Saat Reka Ulang

Kamis, 20 Juni 2019

Pasaman, fajarsumbar.com - Polres Pasaman dibawah Komando Kapolres AKBP Hasanuddin, menggelar reka ulang kasus pembunuhan anak di bawah umur yang dilakukan Amrizal (31), terhadap RS (10) warga Suka Damai II, Nagari Panti yang terjadi pertengahan Mei 2019 lalu.

Rekonstruksi kasus pembunuhan yang sempat menghebohkan ini dilakukan di halaman Mako Polres Pasaman, Kamis (20/06/2019).

Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, proses rekonstruksi ini dihadiri Kapolres Pasaman, pihak Kejaksaan Negeri, dan sejumlah awak media.

Sebanyak 23 adegan dilakoni tersangka dalam reka ulang kali ini. Kejadian ini berawal  saat tersangka pulang dari sawah sekitar pukul 12.00 WIB, tersangka bertemu dengan korban Rahmad Sah (11) yang saat itu hendak pergi ke kolam ikan milik keluarganya.

Tersangka meminta tolong kepada korban untuk mengantarkan tersangka pulang kerumah dengan sepeda motor korban. Namun ditengah jalan tersangka berbelok ke arah sumpu dengan alasan dompetnya tertinggal. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 Km, tersangka menghentikan sepeda motor, lalu berhenti dan turun dari motor, tersangka berpura-pura mencari dompetnya yang juga di ikuti korban.

Namun saat posisi korban membelakangi tersangka, mulut dan hidung korban langsung disekapnya dengan tangan, sedangkan tangan kirinya menekan leher korban dengan sekuat tenaga. Tapi tersangka panik saat korban berteriak, lalu mendorong korban hingga jatuh. Melihat posisi korban yang tertelungkup, tersangka spontan mengambil sepotong kayu, dan memukulkannya sebanyak dua kali ke kepala korban bahagian belakang hingga menyebabkan korban sekarat.

Tanpa belas kasihan, tersangka menyeret kaki korban ke samping pondok yang tidak jauh dari lokasi, dan memutupinya dengan dedaunan.

Sesampai dirumah, tersangka mandi lalu menuju Pasar Tapus untuk membeli handphone dan nomor baru untuk menghubungi orang tua korban. Dengan handphone inilah tersangka menghubungi orangtua korban dengan alasan telah menculik korban, dan meminta tebusan Rp. 250 juta agar korban selamat.

Sesampainya dirumah inilah akhirnya tersangka melakukan percobaan bunuh diri, dengan menyayat urat nadi tangannya. Tak sampai disitu saja, tersangka juga mencoba meminum racun tikus dan racun rumput untuk mengakhiri hidupnya. (St.M)