Pengerjaan Proyek RSUD Bukittinggi Terlambat, Kontraktor Dituding Kurang Bonafit

Iklan Semua Halaman


iklan halaman depan

Pengerjaan Proyek RSUD Bukittinggi Terlambat, Kontraktor Dituding Kurang Bonafit

Rabu, 24 Juli 2019
Yong Hepy  Aliasi Rakyat Anti Korupsi

Bukittinggi fajarsumbar. com - Keterlambatan proyek Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bukittinggi sampai 19,5 persen, diduga kontraktor kurang bonafit dan hanya mempergunakan uang Pemda yang diterima sebagai uang muka. 

Seperti dikatakan Yong Hepy (Pembina Rakyat Anti Korupsi) kepada fajarsumbar. com di Belakang Balok, Rabu (24/7). 

Menurutnya dengan dikeluarkannya Surat Peringatan (SP ll)  di sini kelihatan kontraktor lebih besar menerima uang dari bobot pekerjaan. 

Kontraktor telah menerima uang muka 15 persen (Rp15 milyar),  ditambah bobot 17  persen  Rp14 milyar ditambah lima bulan kerja 3,6 persen Rp3 milyar total dengan bobot kerja 21 persen telah mengambil uang sebesar Rp32 milyar. 

Dari aliran dana diatas betarti pihak kontraktor betul-betul hanya mengandalkan murni uang Pemda dan diduga kontraktor ini tidak punya uang, terkesan tidak bonafit. 

Dalam hal ini, tentu timbul pertanyaan baik dimyasarakat maupun LSM ARAK, kenapa perusaan ini bisa memenangkan tender senilai Rp102 milyar? Bagaimana proses verifikasi dari LPSE. 

Berbicara tentang kerugian negara sudah mulai kelihatan, kalau bobot pekerjaan 21 persen uang yang dibayarkan tentu Rp21 milyar, nah sekarang uang telah mencapai Rp32 milyar, harusnya bobot pekerjaan 35 persen.

Ditempat yang sama H. Sadri mantan Ketua Gapensi Bukittingi menanggapi keterlambatan pembangunan RSUD ini, Pemda makan buah simala kama. 

Tetap mempertahankan keterlambatan ini diyakininya akan berlarut-larus, diputus juga akan mengganggu program .


"Ini suatu resiko kalau kita salah memilih kontraktor dan dia (Sadri)  juga mempertanyakan kebonafitan kontraktor ini. Diakuinya kalau di Sumbar kita belum punya perusahaan yang kemampuan dasar (KD) untuk proyek senilai Rp102 milyar," katanya. 

Benarkah tuduhan yang diarahkan pada PT Bangun Krisma Prima tersebut, atau sekadar-mengada-ada.

Ketika hal itu dikonfirmasikan kepada pimpinan PT Bangun Krisma Prima yang mengerjakan proyek RSUD By Pass Gulai Bancah, Bukittinggi, Rabu (24/7) belum diperoleh keterangan.

Meski wartawan fajarsumbar.com telah mendatangi kantor tersebut dan telah pula mengisi buku tamu, namun belum bisa mendapatkan keterangan dari pimpinan PT tersebut. Menurut keterangan Satpam yang menjaga kantor tersebut pimpinan belum bisa ditemui karena sibuk. 

"Lain kali saja bapak datang ke sini, sekarang pimpinan kami lagi sibuk," ujar satpamnya. (gus)