Sidang Dugaan Kasus Korupsi di Pasaman; Yusuf Lubis Cs atau S Pohan yang Berbohong?

Iklan Semua Halaman


iklan halaman depan

Sidang Dugaan Kasus Korupsi di Pasaman; Yusuf Lubis Cs atau S Pohan yang Berbohong?

Sabtu, 13 Juli 2019
Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi penanganan pascabencana Kabupaten Pasaman, di Pengadilan Tipikor Padang, Jumat (12/7). (ant)

Padang, fajarsumbar.com
 Bupati dan Wakil Bupati Pasaman, Provinsi Sumbar, Yusuf Lubis dan Atos Pratama dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dugaan korupsi pengerjaan pascabencana daerah itu di Pengadilan Tipikor, Padang, Jumat (12/7/2019).


Pada lanjutan sidang itu mendengarkan keterangan empat saksi, selain Yusuf Lubis (Bupati Pasaman), Atos Pratama (Wabup Pasaman), juga dihadirkan Hasbullah (pengusaha/penokan bupati) dan Sayuti Pohan mantan Kepala BPBD Pasaman (2016).

Dalam persidangan tersebut, saksi Yusuf Lubis, menyangkal keterangan saksi S Pohan, yang sebelumnya telah menyebutkan, bahwa 10 paket proyek BPBD pasaman di tahun 2016 itu, Bupati Yusuf Lubis yang menentukan nama-nama untuk melaksanakan proyek dimaksud.


"Apakah saudara saksi yang membagi bagi dan menunjuk orang - orang untuk 10 paket proyek BPBD itu?", tanya Hakim Ketua Yose Rizal. Lalu dijawab Yusuf Lubis, "Tidak yang mulia, sesuai ketentuannya PPK yang menentukan atau menunjuk pelaksananya," jawabnya.


Mendengar jawaban Yusuf Lubis tersebut, terlihat para Hakim tersenyum dan saling berbisik dan terus dikatakan. 


"Kami menanyakan hal itu, karena dari keterangan beberapa orang saksi, termasuk pohan, kepala BPBD waktu itu, menyebut saudara saksi yang menentukan orang-orang untuk melaksanakan proyek tersebut, termasuk yang lagi bermasalah ini". Dengan sedikit tertunduk, saksi Yusuf Lubis mengatakan,"Bukan saya yang menunjuk pelaksananya yang mulia."


Terus, Hakim ketua menanyakan saksi, "Apakah saksi mengenal Hasbullah ?" Oo kenal betul yang mulia, dia ( Hasbullah ) adalah keponakan saya, maknya kakak saya, jelas Yusuf Lubis sembari melirik Hasbullah yang lagi duduk berjejer dengannya. Oh begitu ya, ujar Hakim sembari tersenyum lirih memperhatikan saksi Hasbullah yang terlihat tegang.


Kemudian, giliran saksi Atos Pratama yang ditanya Hakim ketua, " Apakah betul saudara saksi juga mendapat satu paket proyek BPBD? Dan dikerjakan oleh maroyong ?". Tidak benar pak hakim, jawab Atos. Tapi, dari keterangan saksi Pohan, bahwa dia menemui saudara saksi, setelah pertemuan dengan bupati dan menunjukan daftar nama orang - orang yang akan melaksanakan paket proyek serta diparaf oleh bupati, terus daftar itu saksi robek, tanya Hakim lagi. " Tak tahu pak hakim," jawab Atos singkat.


Setelah itu, giliran saksi Hasbullah yang ditanya Ferry Desmapera, selaku Hakim anggota." Apakah saudara kontraktor? Awalnya dijawab Hasbullah ya. Lalu ditanya hakim lagi, " apakah perusahaannya masih hidup ". 


Dengan terbata bata saksi Hasbullah menjelaskan, " Saya pengusaha di bidang kosmetik pak hakim". Jadi saudara seperti Syufnizar memakai perusahaan orang lain, lanjut hakim. Atas pertanyaan hakim tersebut, Hasbullah menyangkalnya.


 "Saya tidak ada mengerjakan proyek  BPBD itu pak hakim." Terlihat hakim mendengar dalih Hasbullah itu dan katanya, saudara kan keponakan bupati, ini pengadilan tipikor, bukan mengadili soal korupsi saja, tapi juga nepotisme yang termasuk KKN.


Usai mendengarkan keterangan ketiga saksi itu, Majelis hakim yang diketuai Yose Rizal mengkomprontirkan dengan saksi Sayuti Pohan, yang duduk disamping Yusuf Lubis, " bagaimana saudara pohan, dengan keterangan saksi Yusuf Lubis", tanya hakim. 


Tanpa ragu ragu dijawab pohan, saya tetap dengan keterangan sebelumnya pak hakim. Dan saya bekerja sesuai petunjuk bupati. Lalu, Hakim Ketua menanyakan pada terdakwa Rizalwin, selaku PPK nya, " apa yang tidak betul dari keterangan saksi Yusuf Lubis tadi ?" tanya hakim. Tidak benar saya yang menentukan dan menunjuk orang - orang yang akan melaksanakan 10 paket proyek itu pak hakim. " Saya dapatkan daftar nama orang orang tersebut dari pohan, tambahnya.


Karena masing - masing bertahan dengan keterangannya, lalu Hakim ketua mengatakan, " Kami sudah terbiasa menghadapi saksi selama ini, jadi tahu siapa yang berbohong dan yang jujur,". Kini, terserah pihak kejaksaan mau mengungkapnya atau tidak. (ec)