Faktor Ekonomi Picu Tingginya Perceraian di Pessel

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Faktor Ekonomi Picu Tingginya Perceraian di Pessel

Jumat, 02 Agustus 2019
Ketua Panitera Pengadilan Agama Painan, Hamzah Lubis

Pessel, FajarSumbar - Pengadilan Agama Painan, mencatat angka perceraian di Kabupaten Pesisir Selatan pada 2019 naik tajam dibandingkan tahun lalu.

Ketua Panitera, Hamzah Lubis menyampaikan, terdapat beberapa pemicu di daerah berjuluk 'Negeri Sejuta Pesona' itu. Faktor paling tinggi adalah persoalan ekonomi.

"Akhirnya terjadi pertengkaran. Kadang suami lari dari tanggung jawab. Nah, ini yang susahnya," ungkapnya pada wartawan di Painan, (1/8).

Berdasarkan data Pengadilan Agama Painan, dalam rentang waktu Januari-Juli 2019, angka perceraian di Pesisir Selatan tercatat sebanyak 426 kasus.

Angka itu mengalami kenaikkan dibandingkan dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya 224 kasus saja.

Untuk tahun ini, delapan kasus merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN). Bahkan, ada antara suami dan isteri yang sama-sama selingkuh.

Sedangkan faktor ke-dua, lanjut Hamzah adalah perselingkuhan. Dari hasil mediasi pengadilan, pemicu perselingkuhan adalah kemajuan teknologi dan meningkatnya status sosial.

"Selingkuh ini berkaitan dengan persoalan akhlak dan moral yang buruk. Mereka salah artikan kemajuan teknologi," jelasnya.

Faktor ke-tiga adalah masalah narkoba. Rata-rata setelah kecanduan narkoba terjadi pertengkaran, sehingga berujung pada perceraian

Kemudian yang ke-empat adalah campur tangan pihak ketiga. Artinya, ada pihak ketiga yang turut campur dalam persoalan keluarga, baik dari keluarga isteri maupun suami.

"Ketika kami tanya dalam mediasi, mereka sepertinya baik-baik saja. Tapi pihak ketiga yang terlalu ikut campur," ujarnya.

Untuk itu, ia mengimbau agar dalam berumah tangga harus dibangun fondasi agama yang kuat. Harus ada saling keterbukaan dan jalin komunikasi yang baik.

Jika fondasi agama sudah kuat, rapuhnya kehidupan ekonomi tidak akan jadi persoalan yang menyebabkan perceraian.

"Intinya, dalam rumah tangga harus diperkuat dengan pamahaman beragama. Jangan sampai anak yang jadi korban," tutupnya. (tsf)