Hj. Merry Warti Bantu Biaya Pengobatan Risky Penderita Hidrocepalus

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Hj. Merry Warti Bantu Biaya Pengobatan Risky Penderita Hidrocepalus

Kamis, 15 Agustus 2019

Tanah Datar, fajarsumbar.com - Risky (7 tahun) yang didiagonosis menderita penyakit Hydrocepalus atau penumpukan cairan di rongga otak seolah mendapat berkah di Hari raya Idul Adha 1440 H. Terkendala biaya operasi lanjutan, anak pertama dari pasangan suami-isteri Yusrizal dan Sri Aldavera mendapat uluran bantuan dari seorang dermawan. Hj. Merry Warti perantau Tanah Datar yang berdomisili di Lampung mengetahui keluhan orang tua Risky yang ditulisnya media sosial tentang sakit yang diderita anaknya dan ketidakmampuan dirinya membawa sang buah berobat ke rumah sakit karena keterbatasan biaya.

Berita inilah yang lantas dicari kebenarannya oleh Hj. Mery bersama segenap pengurus IKTD Provinsi Lampung, lantas terakhir beliau bertemu langsung dengan ketua PKK Kabupaten Tanah Datar Ny. Emi Irdinansyah Tarmizi di Indo Jolito seusai melaksanakan shalat Idul Adha.Dan apa yang dibacanya di medsos tersebut ternyata benar adanya, bahwa Risky sang bocah malang itu memang sedang mengalami sakit dan butuh uluran tangan para dermawan untuk biaya pengobatannya yang tidak sedikit. 

Kemudian atas ajakan Ny. Emi Irdinansyah, pada hari Senin (12/08/2019) rombongan yang terdiri dari ketua PKK Kabupaten Tanah Datar Ny. Emi Irdinansyah, Ketua Umum IKTD Provinsi Lampung Hj. Mery Warti, Ketua Harian IKTD Provinsi Lampung Richi Aprian, dan dewan pembina IKTD Provinsi Lampung H. Erdi Muluk bertolak menuju kediaman Risky yang berada di Jorong Duek Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara, untuk melihat langsung kondisi Risky. 

Setiba di rumah kediaman orang tua Risky, ternyata telah ditunggu oleh Camat Lintau Buo Utara Suripto dan pegawai Puskesri setempat lantas Hj. Mery mengutarakan maksud kedatangannya bahwa IKTD Lampung berkeinginan mengambil Risky sebagai anak angkat dan akan membantu biaya pelunasan tunggakan BPJS Risky sesuai cerita yang disampaikan sebelumnya oleh sang ibu, selain itu IKTD Provinsi Lampung setiap bulannya juga akan membantu biaya pengobatan serta kebutuhan Risky lainnnya. Niat baik ini lantas disambut haru bercampur bahagia oleh orang tua Risky, bahkan sang ibu Sri Aldavera sampai menitikkan air mata mendengar apa yang disampaikan oleh Hj. Mery.

"Kami sangat prihatin dengan kondisi yang dialami Risky, kami akan menjadikan dia sebagai anak angkat IKTD Lampung dan membantu biaya rutin serta biaya BPJS yang menunggak,Bantuan berupa biaya perawatan ini merupakan wujud kepedulian kami di rantau terhadap warga yang berada di kampung halaman," ujarnya lagi.

Sementara Ny.Emi Irdinansyah mengatakan, sebagai ketua TP PKK Kabupaten dia merasa prihatin dengan penyakit Hydrocepalus yang diderita oleh Risky.Ia berharap dengan bantuan yang diberikan oleh IKTD Lampung sekaligus Owner dari Emersia Hotel tersebut mampu meringankan beban yang dialami Risky dan keluarga."Bantuan berupa biaya rutin dan pelunasan BPJS yang menunggak dari IKTD Lampung semoga bisa membantu keluarga dari biaya pengobatan Risky, semoga Risky bisa sehat seperti hal anak-anak lainnya," katanya.

Sementara ibunda Risky, Sri, mengisahkan bahwa dari lahir anaknya tidak ada kelainan sama sekali namun menginjak usia baru 2 bulan Risky kecil sering mengalami demam tinggi, namun dia tidak mengira kalau anaknya cuma menderita sakit demam biasa sehingga hanya dibawa berobat kampung saja.Namun lama kelamaan kepala Risky semakin membesar secara tidak wajar bahkan sampai sebesar rice cooker. Ini terjadi setelah pada usia 7 bulan, lalu dia membawa anaknya berobat ke dokter spesialis anak di Batusangkar. 

Dari sinilah Risky lantas dirujuk ke rumah sakit M Ali Hanafiah Batusangkar dan diketahui bahwa penyakit yang diderita Risky adalah Hydrocepalus. Dokter rumah sakit M Ali Hanafiah lantas merujuk Rizki ke RSUP M. Djamil Padang untuk dioperasi.
"Kemudian Risky yang berusia sembilan bulan waktu itu berhasil dioperasi dengan pemasangan selang di kepalanya, dengan biaya pengobatan ditanggung dari Jamkesda sementara dengan limit satu bulan," ujarnya.

Ia mengaku setelah operasi pertama tersebut, dokter menyarankan Risky untuk dioperasi kembali setelah 5 tahun dan setelah 5 tahun berlalu masih ada tenggang waktu selama 6 bulan yang jatuh tempo sekitar bulan Juni yang lalu. Namun karena tidak ada biaya ditambah BPJS menunggak sekitar 3 tahun Risky akhirnya batal dioperasi.
Ia mengaku, untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan dan terkadang malah kurang. Dia bersama suami yang berkerja sebagai buruh tani terkadang terpaksa bergantian pergi ke sawah untuk berkerja karena kondisi Rizki yang tidak bisa ditinggal sendirian di rumah.

Sri di kesempatan itu juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang tulus atas bantuan yang telah diberikan oleh IKTD Provinsi Lampung yang menurutnya sangat besar dan tidak mungkin terbalas olehnya.Sementara di tempat terpisah Kadis Kesehatan dr. Yesrita Zedrianis menyebutkan Dinas Kesehatan bersama puskesmas setempat sudah melihat kondisi Risky di rumah orang tuanya pada 7 Agustus 2019 yang lalu.
Dr. Yesrita membenarkan ada tunggakan premi BPJS semenjak tahun 2016 yang lalu sehingga tertunda operasi lanjutan yang seharusnya bulan Juni 2019.

“Risky merupakan peserta BPJS Mandiri, namun karena kondisi ekonomi si ibu tidak sanggup membayar lagi, saat itu kami sarankan untuk dialihkan menjadi BPJS penerima bantuan iuran dan untuk biaya pendampingan pengobatan disarankan diajukan ke Baznas Tanah Datar,“Alhamdulillah, kita patut bersyukur sudah ada perantau kita yang akan melunasi tunggakan dan membayar biaya perawatan,” terangnya lagi.(adek)