Kerusakan Lingkungan dan Solusinya

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Kerusakan Lingkungan dan Solusinya

Rabu, 11 September 2019
DI TENGAH kepungan asap yang kini merambah di Sumatera dan Kalimantan, ada baiknya kita merenungkan kerusakan lingkungan hidup yang membuat prihatin. Apalagi belakangan ini ada paradoks dalam masalah lingkungan, di mana meski kian banyak tersebar informa­si dan kajian tentang penyelamatan lingkungan, ternyata ia berbanding lurus dengan makin parahnya kerusakan lingkungan. Akhir­nya, kita dikepung situasi penuh ironi. Lingkungan kian mengalami degradasi di tengah kian ramainya orang berbicara penyelamatan lingkungan.

Implikasinya, kasus banjir yang menghantam wilayah-wilayah padat manu­sia di kawasan urban pun tak dapat lagi dipahami secara sederhana sebagai bencana, tragedi, disaster atau katastrofa yang semata ditimbulkan alam. Apa boleh buat, situasi tragis itu pun harus dipahami secara kolektif sebagai kesalahan umat manusia yang amat bercorak teknokratis. Singkat kata, kerusakan lingkungan adalah akibat ulah manusia.

Tapi apa yang salah dengan ulah umat manusia? Tidaklah mudah mencari jawabannya. Pertanyaan ini merefleksikan kompleksitas persoalan lingkungan. Para ahli sudah berbicara banyak tentang kesalahan world view manusia di masa kini, sehingga terjadi pemerkosaan secara brutal terhadap lingkungan cuma untuk mewujudkan ambisi ekonomi dan politik. Logika instrumental dengan berbagai formatnya dirancang untuk mendukung brutalitas ekonomi dan politik itu.

Kesalahan world view itu bisa dipetakan dalam 2 skema: Pertama, individu dan institusi kemasyarakatan memandang pelestarian lingkungan sebagai suatu beban atau kesia-siaan finansial. Upaya penye­lamatan lingkungan dipersepsi secara kuat sebagai faktor penghalang untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan material dalam jangka pendek. Itulah sebabnya mengapa biaya penyelamatan lingkungan tak pernah terintegrasi dengan struktur biaya produksi ekonomi dan tak teradopsi ke dalam biaya politik kekuasaan.

Kedua, individu dan institusi kemasyarakatan terus-menerus memandang semua sumber daya alam (SDA) sebagai benda tak bertuan yang bisa dieksploitasi secara bebas, kapan saja, oleh siapa saja. Kenyataan inilah yang bisa menjelaskan mengapa degradasi lingkungan bisa sampai ke titik nadir di berbagai penjuru bumi akibat beroperasinya aktivitas industri selama satu generasi.

Mengingat itu, pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan harus dipadukan jika mau membentuk masyarakat dan generasi yang berkelanjutan. Sudah waktunya membentuk kesepakatan umum sekitar etika untuk hidup bersama di planet bumi dalam jangka waktu panjang tanpa adanya teror alam akibat tindakan manusia mengeksploitasi lingkungan.

Dalam konteks ini, UU lingkungan selayaknya disusun dan diberlakukan dengan pertimbangan-pertimbangan memadai dalam hal keragaman budaya dan realitas sosial serta faktor-faktor ekonomi sebagai alat mengefektifkan kebijakan untuk pembangu­nan berkelanjutan. 

UU lingkungan dibutuhkan untuk melindungi masyarakat dari praktik-praktik pencemaran lingkungan. Semua pihak diharapkan memiliki kesadaran bersama dan berperan aktif dalam mencegah pencemaran, perusakan lingkungan, polusi dan berbagai aktivitas ekonomi yang merusak ekologi.

Uraian itu hendak menegaskan agar kebijakan sosio-ekonomi dengan payung politik yang kuat harus mulai dikaitkan dengan logika dan hakikat biaya lingkungan. Usaha mencapai kemajuan dalam bidang sosial ataupun ekonomi harus bertumpu pada environmental policies. Dengan mempertimbangkan berbagai panorama kerusakan lingkungan di negeri ini, environmental policies tadi merupakan kehendak untuk menjaga keseimbangan antara penggu­naan SDA secara produktif dengan membina pola penggunaannya. Semua ini justru demi menjamin berlangsungnya produktivitas.

Di sini menjadi penting dise­lenggarakan pelatihan atau pendidikan lingkungan yang secara substansial terfokus pada penyadaran politik mengenai ekonomi lingkungan. Melalui pelatihan ini, semua aspek pendidikan lingkungan yang mencakup pengetahuan lingkungan secara umum, internalisasi nilai-nilai penyelamatan lingkungan dan pencarian pola-pola aksi penyelamatan lingkungan, bisa disistematisasi lebih jauh ke dalam ceruk spesifik, yaitu ekonomi lingkungan.

Dengan mengambil telaah dan refleksi peluang serta kendala pembangunan ekonomi kawasan-kawasan tertentu, penyadaran ekonomi lingkungan di sini bisa inherent dengan dinamika komunitas lokal. Ini akan bisa pula memperkuat basis ekonomi masyarakat lokal.

Inilah yang disebut penguatan ekonomi berbasis pelestarian lingkungan. Maksud hal ini ialah tampilnya sebuah corak pengelolaan ekonomi di tengah-tengah masyarakat dengan mendapat dukungan kebijakan (politik) pemerintah, di mana pengelolaan ekonomi tadi sepenuhnya ditujukan sebagai daya upaya untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorban­kan kebutuhan generasi mendatang. Karena itu, ekonomi lingkungan dapat dianggap sebagai paradigma pengelolaan ekonomi yang menyelamatkan lingkungan demi kemaslahatan kehidupan di masa kini dan sekali­gus di masa mendatang.

Untuk mencapai efektivitasnya, penguatan ekonomi berbasis pelestarian lingkungan itu harus bertitik tolak pada tumbuhnya kesa­daran dan keberanian moral semua komponen masyarakat untuk menyela­matkan lingkungan dalam spektrum ekonomi, sebagai tema besar perjuangan kemanusiaan di masa sekarang. Karenanya, dalam rangka gerakan dan aksi penyadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan tersebut, bukan saja harus dilakukan transfer ilmu pengetahuan dan know how, namun sekaligus perlu menggali potensi para pelaku politik dalam memberikan apresiasi besar terhadap penguatan ekonomi berbasis pelestarian lingkungan.

Untuk jangka panjang, apresiasi para pelaku politik itu diproyeksikan sebagai bagian usaha koreksi terhadap pola perekonomian konvensional yang tengah berjalan dan mempengaruhi kesadaran berpi­kir umat manusia di masa sekarang. Ini karena perekonomian konven­sional tersebut begitu distortif terhadap kehidupan di masa depan.

Akhirnya perlu ditegaskan, mengingat makin parahnya kerusa­kan lingkungan, serta berdasar alur pemikiran tadi, kini sudah mendesak adanya agenda aksi dengan pokok-pokok tujuan membangun paradigma baru penyadaran politik mengenai vitalnya ekonomi lingkungan. Inilah solusi alternatif untuk masalah lingkungan hidup agar tidak makin parah kerusakannya. (Sri Sugiyati Ketua Forum Riset Terapan (FRiT) Padang)