Ketemu Anggota DPD RI, Penyandang Disabilitas Sampaikan Harapan

Iklan Semua Halaman


iklan halaman depan

Ketemu Anggota DPD RI, Penyandang Disabilitas Sampaikan Harapan

Sabtu, 07 September 2019
Anggota DPD RI H Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa, S.IP., MH memotivasi pengurus DPD Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Provinsi Sumatera Barat.

Padang, fajarsumbar.com – Penyandang Disabilitas merupakan saudara kita yang memiliki kekurangan, seperti tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara, keterbelakangan mental, terbatas gerakan fisiknya dan lain sebagainya. Keterbatasan itu membuat mereka minder, rendah diri dalam pergaulan. Untuk itu, mereka yang normal hendaknya berperan aktif memanusiakan mereka.
Peran aktif itu dilaksanakan Senator Asal Sumbar, H. Leonardy Harmainy, Dt. Bandaro Basa, S.IP., MH. Leonardy bersilaturahmi dengan pengurus Dewan Pengurus Daerah Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (DPD PPDI) Provinsi Sumatera Barat sebagai wujud dukungannya itu.

“Boleh kita berkekurangan, tapi yakinlah pasti ada kelebihannya. Ketua PPDI Sumbar Yunalzi yang akrab dipanggil Ucok saja, pendek badannya tapi punya impian tinggi. Dia pun memikirkan banyak anggotanya. Saya tertarik menolong Ucok agar anggotanya juga terbantu,” ungkapnya di hadapan pengurus DPD PPDI Sumbar, di Balatkop Sumbar, Jumat 6 September 2019.

Leonardy mengungkapkan bahwa Ketua PPDI periode sebelumnya, Joni Aulia ternyata bisa menjadi Ketua Bawaslu Kota Padang Panjang. Ditegaskannya, keterbatasan fisik tidak menjadi hambatan untuk menjabat Ketua Bawaslu, begitu juga lainnya.

Maka Senator yang akrab dipanggil Bang Leo ini menghimbau anggota PPDI Sumbar harus optimis. Mereka bisa mendapatkan pekerjaan atau jabatan seperti orang non disabilitas.

“Terima kasih Ucok atas kesempatan pertemuan ini. Lewat pertemuan ini kita berharap dapat menggugah banyak kalangan untuk lebih peduli dengan penyandang disabilitas,” ujarnya.

Menurut Leonardy memanusiakan penyandang disabilitas merupakan amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Sekaitan dengan tugas pengawasan undang-undang itu, kita perlu memperhatikan aspirasi mereka. Kita fikirkan pelatihan apa saja yang mereka perlukan agar bisa mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah dilatih dipikirkan pula bagaimana perkuatan permodalan bagi mereka. Lalu pemasaran produk yang mereka hasilkan.

Ketua PPDI Sumbar, Yunalzi tentu saja menyambut baik silaturahmi dengan Anggota DPD RI itu. Dia mengungkapkan benar sekali apa yang disampaikan oleh Senator Leonardy. Anggotanya butuh perhatian, butuh sentuhan pelatihan dan permodalan.
Dijelaskannya organisasi yang dipimpinnya berada dalam naungan Dinas Sosial Sumatera Barat. Organisasi itu ada dari tingkat pusat hingga daerah. Di Sumbar baru terbentuk 11 kepengurusan DPC PPDI. Berarti ada 8 kota dan kabupaten yang belum terbentuk kepengurusan DPC-nya.

“Perlu kami laporkan, kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan DPD PPDI Provinsi Sumatera Barat. Pada 28 September 2016 telah diserahkan 250 kaki palsu dan tangan palsu kepada penyandang disabilitas di Sumbar. Pada 25-26 Juli 2019 diserahkan 118 buah kaki palsu dan tangan palsu,” ujar Ucok.

Dikatakan Ucok bantuan ini berkat kerjasama DPD PPDI  Provinsi Sumbatera Barat dengan Yayasan Peduli Tuna Daksa (YPTD). YPTD bekerjasama da mendapatkan bantuan dari para donator luar negeri. “Alhamdulillah orang luar memperhatikan kita para disabilitas. Jangan sampai orang kita sendiri tidak peduli kepada saudaranya yang disabilitas ini,” ujar ucok yang disambut gelak tawa hadirin.

Bahkan pada 2020 nanti, bersama YPTD, sedang diupayakan mendapat bantuan 100 buah kursi roda aktif, kursi roda khusus untuk para disabilitas. Ukuran sandaran, tingginya, jarak kaki, dan lainnya disesuaikan dengan calon penerima kursi tersebut. “Mudah-mudahan kita dapatkan bantuan ini. Mohon doa kita bersama,” harapnya.

Inginkan Pelatihan dan Modal
Desy Helda, disabilitas yang aktif mengajarkan Bahasa Inggris kepada rekannya menyebutkan, kaumnya menumpangkan harapan kepada Leonardy untuk memberikan perhatian terhadap pendidikan penyandang disabilitas. Dia memandang saat ini kesempatan buat disabilitas terbuka lebar. Sayang, selain keterampilan faktor pendidikan juga menentukan.

“Kami mengharapkan kepada bapak untuk membantu rekan-rekan kami yang ingin sekolah atau kuliah. Mereka harus tamat pendidikan paket pak agar bisa diterima bekerja. Apalagi jika mereka bisa kuliah,” ungkapnya.

Mendengar hal itu, Fajar yang gemar mendalami komputer dan berkreasi dengan you tube, mengutarakan niat besarnya untuk kuliah di Universitas Ekasakti. Dia berharap pada semester genap nanti bisa masuk kuliah, jika ijazah ujian paketnya selesai. Dia pun ingin agar Leonardy menyuarakan disabilitas diberi ruang seluas-luasnya oleh keluarga dan masyarakat sekitarnya dalam berkreativitas.

Silfia, penyandang disabilitas yang telah mempunyai keterampilan merajut bersedia pula berbagi keterampilan yang dia punyai kepada disabilitas lainnya. Hanya saja dia mengalami keterbatasan dalam mengalokasikan dana buat membeli bahan-bahan untuk pelatihan rajut.

Ucok dan kawan-kawannya di PPDI Sumbar mengharapkan para disabilitas di Sumatera Barat mendapatkan pelatihan dan perkuatan permodalan. Pelatihan siap pakai untuk dunia usaha sekaligus modal usaha.

“Kami harapkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dapat mengalokasikan pelatihan dan perkuatan permodalan bagi disabilitas. Melalui Senator Sumbar diharapkan dapat menyuarakan aksesibilitas yang lebih luas bagi penyandang disabilitas,” ungkap mereka. (*)