Skills, Produksi dan Bisnis Sistem

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Skills, Produksi dan Bisnis Sistem

Rabu, 11 September 2019
TULISAN tentang POS Kerja untuk pencari kerja di harian ini (Singgalang, Oktober 2019) mengulas ‘tempat’ magang di kecamatan-kecamatan. Tempat para millenials bisa menambahkan keterampilan kerja. Keterampilan yang sesuai dengan keperluan pasar kerja di daerah. Baik untuk membuka usaha baru ‘start up’. Maupun kemudian mereka bekerja dengan orang lain sebagai buruh/karyawan. Kegiatan ini terjadi pasca pendidikan formal menengah dan atau pendidikan tinggi.

Penekanan pada tulisan itu bagaimana memenuhi keterampilan yang diperlukan. Ini untuk
menjawab terbatasnya keterampilan pencari kerja. Sebagai akibat dari proses pendidikan yang tidak disiapkan sesuai dengan keperluan pasar kerja. Kenapa tidak siap? Fasilitas sekolah vokasi, dan atau laboratorium sudah ketinggalan jaman. 

Bahkan kalau kita lihat tidak lebih dari 10% dari penyelenggara pendidikan memenuhi standar pelayanan minimum sekolah. Sisanya tersedia pendidikan, namun guru bercerita di depan kelas akan keterampilan yang dipelajari oleh anak didiknya. Ini juga berlanjut untuk pendidikan tinggi S1. Diploma Politiknik belakangan cukup baik dan hasilnya terserap di pasar kerja.

Pada kesempatan ini penulis ingin melanjutkan bahwa tidak saja cukup pendekatan peningkatan keterampilan pencari kerja, namun peningkatan keterampilan kerja pendekatannya mesti secara menyeluruh. Tuntas dan menjadikan ada ‘upaya’ untuk memulai aktiftas ini. Aktifitas yang tersedia posnya di kecamatan-kecamatan, pos tempat belajarnya anak muda untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja.

Jika pada gagasan pesantren, atau Balai Latihan Kerja (BLK) yang orientasinya masih kepada keterampilan, maka pada Pos Kerja tersedia dua hal lain yang relatif penting. Pertama adalah bagaimana sistem produksi diciptakan. Kedua adalah bagaimana sistem bisnis yang akan dipelajari oleh peserta training, dan bagaimana sistem pembiayaan start up agar mekanisme dari awal sampai mulai ke pembukaan usaha menjadi bisa terlaksana.

Sistem Produksi
Sistem produksi mendalami masalah produksi yang ada selama ini. Mulai dengan mengevaluasi bagaimana produksi sedemikian rupa, apakah masih ada ruangan untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah.

Bayangkan jika pada sektor pertanian padi, petani berada pada skala produksi yang terbatas.

Sehingga mekanisasi pertanian tidak bisa dilakukan, atau terbatas. Ini memerlukan jalan dan pemikiran baru, jangan-jangan pematang sawah sudah harus dibuatkan batas-batasnya. Sawah tidak lagi berpematang, agar traktor mini bisa digunakan.

Demikian juga perkebunan rakyat yang kecil-kecilan, mesti dilakukan dengan skala usaha yang baik.

Contoh saja buah alpukat sangat strategis dan banyak permintaannya. Usaha ini hanya ada pada skala rumah tangga. Tanaman alpukat hanya dua atau tiga batang perumah. Padahal kalau ditekuni jenis monokultur jika dikembangkan berhektar-hektar akan menguntungkan. Demikian dengan peternakan, perikanan, industri kecil pengolahan, dan sejenisnya.

Dalam sistem produksi, hal yang terpenting adalah industrialisasi. Bagaimana meningkatkan nilai tambah. Jika nilai tambah dijadikan sebagai upaya, maka inovasi diperlukan. Industrialisasi untuk UKM bermakna bukan yang besar-besar. 

Tetapi produksi yang skalanya dari usaha mikro ke usaha kecil. Persentasi UMKM yang berada pada angkat 99% tentu sangat besar dibandingkan unit usaha kecil yang berjumlah 1%. Jika saja separuh dari UMKM tersebut mengembangkan usahanya menjadi unit usaha kecil, maka lapangan kerja akan meningkat pada UMKM dua kali lipat. Mengingat usaha mikro memiliki 1-2 orang tenaga kerja sementara usaha kecil memiliki 3-4 tenaga kerja.

Jadi akar masalah sistem produksi adalah pengembangan skala usaha yang ekonomis, pembaharuan inovasi dan kualitas produksi. Ini memerlukan pembelajaran yang memadai, memerlukan instruktur di lapangan yang juga paham. Selain keterampilan terbangun, peserta keterampilan di Pos keterampilan memperoleh pendidikan dengan sistem produksi.

Instruktur dan magang usaha cukup dibangun dari usaha yang sudah jalan selama ini. Jadi ada tempat pembelajaran lanjutan yang ditumbuhkan untuk alih generasi. Pemerintah daerah cukup mendaftarkan dan kemudian menjalin hubungan dengan perusahaan yang ada di daerahnya.

Kemudian satuan badan di kecamatan yang aktif mengembangkan POS latihan kerja ini, berupaya mengelolanya. BUMD nagari bisa muncul mengelola ini tentunya.

Bisnis Sistem Jika produksi dan keterampilan sudah diperoleh, persoalan lain adalah sistem bisnis yang ada. Produksi harus terikat dengan siapa yang akan menjadi konsumen utama, pesaing dan siapa yang akan memasarkan produksi.

Untuk memenuhi hal ini dalam setiap jenis pelatihan kerja juga disiapkan sistem bisnis yang akan dikembangkan. Maka dari itu pembelajaran tidak hanya berhenti pada bagaimana memproduksi sebuah barang. Namun juga bagaimana produk itu bisa sampai ke tangan konsumen. Oleh karenanya, sistem bisnis yang simpel dan terencana memang diperlukan. Sehingga pos pelatihan juga menyediakan kepastian.

Sering di sektor pertanian ketika petani mengupayakan tanaman yang sifatnya komersial, maka muncul ‘cob-web theorem’. Dimana produksi melimpah, dan permintaan terbatas. Ini karena sistem bisnisnya tidak diantisipasi. Seharusnya jika produksi cabai dikembangkan, maka keterampilan untuk mengolah cabai menjadi cabai kering giling, saus cabai, teknologi dan sistem bisnisnya sudah dikembangkan.

Di Malaysia sistem bisnis untuk mengembangkan UKM dengan memilih usaha yang sudah jalan. Kredit sebesar Rp 400 Juta sampai Rp 1 M. Sangat mudah bagi pedagang kuliner, sepanjang mereka mau membuka cabang di tempat lain.

Skema kredit dengan berbiaya murah menjadi fokus pada mereka yang melalui proses ini di
kecamatan-kecamatan. Segera setelah mereka memperoleh pengalaman, maka masih ada
pendampingan sehingga pada usaha awal mereka akan dapat dikurangi risiko kegagalan. POS pelatihan kerja yang mirip inkubasi bisnis bisa dimulai.

Tulisan ini tidak mengajak seluruh kecamatan. Namun pilot proyeknya bisa dimulai dari kecamatan terpilih, seleksi penyelenggara, sistem bisnis, dan produksi. Dari hasil ujicoba kemudian disinkronkan dengan program dan pelaksanaan dinas tenaga kerja kabupaten dan kota. 

Dengan upaya ini, maka masih ada tahap setelah pendidikan formal yaitu menyiapkan milenials ke pasar kerja. Riset di Amerika Serikat menemukan ketika program keterampilan dan inovasi untuk millenials ini dikurangi, maka sepuluh tahun kemudian terjadi penurunan jumlah wirausaha baru.(Elfindri, Profesor Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Unand)