Dua Biduk Reformasi ketika Mengikat Janji

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Dua Biduk Reformasi ketika Mengikat Janji

Kamis, 17 Oktober 2019
PKS-PAN.
SEBUAH testimoni ditulis dengan huruf besar di halaman depan surat kabar. Testimoni yang bermakna undur diri dari sebuah partai politik. Partai Amanat Nasional ditinggal pergi oleh salah seorang kader mudanya. Tak masalah. Roda masih terus berputar. Yang menggerakan roda hanyalah mereka yang berada dalam satu gerbong.

PAN identik dengan partainya orang muda. Ketika ditinggal oleh salah seorang kader mudanya, tentu saja ini menjadi berita yang hangat. Namun, bukan soal ini saja yang membuat PAN ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Seperti membalas pantun Tifatul Sembiring, salah seorang petinggi Partai Keadilan Sejahtera, PAN menyatakan diri sebagai partai oposisi. Dua sekawan, PAN dan PKS resmi berada di seberang kekuasaan. Berdua mereka sepi dalam kesunyian.

Keras hati PAN dan PKS untuk berada di luar pemerintahan bukan hal yang aneh. Jika dirurut sejarah, kedua partai ini memiliki tabiat dan karakter yang sama. Sama-sama partai religius. Bedanya, PAN lebih nasionalis. Kedua partai ini juga lahir dari biduk yang sama, yaitu biduk reformasi. PAN diproklamirkan oleh Bapak Reformasi, Amien Rais. PKS dibentuk oleh aktivis-aktivis masjid yang di penghujung Orde Baru berstatus mahasiswa yang menggerakan reformasi. Kiprah awalnya, PKS bernama Partai Keadilan.

Kedekatan hati membuat PAN dan PKS selalu bisa bergandengan tangan. Bersama Gerindra, kedua partai ini membentuk koalisi sehidup semati. Kalau di dua kali Pilpres, keduanya tetap setia. Di ujung jalan, Gerindra berpindah haluan. Sang pendiri, Prabowo memilih pinangan koalisi pendukung pemerintah. PAN dan PKS tersakiti. Nasib buruk yang justru terus menyatukan keduanya dalam koalisi oposisi.

Tak ada kawan sejati, tak ada musuh yang abadi di dalam politik. Namun, fenomena PAN dan PKS menjadi pengecualian. Menarik sekali, di tengah hingar-bingar bagi-bagi kekuasaan, kedua partai ini sama sekali tak tergoda. Keduanya kukuh dengan jalur oposisi.

Tetap sebagai oposisi di tengah bagi-bagi kekuasaan dan di saat PAN dan PKS hanya menjadi minoritas, itu bukan pilihan yang populis. Namun, pilihan ini menjadi logis dengan membuat hitung-hitungan lain. Politik kadang mesti futuristik, tapi juga pragmatis. PAN dan PKS menjadi pragmatis futuristik di saat yang bersamaan.

Ada target di tahun 2024. PAN dan PKS menyadari, pemilih yang telah memberikan suara signifikan pada Pemilu 2019 adalah mereka yang berseberangan dengan pemerintah berkuasa. Keduanya memiliki basis pemilih yang fanatik. Berada dalam barisan koalisi pendukung pemerintah adalah langkah bunuh diri di 2024. Mempertahankan pemilih tradisonal menjadi pilihan yang masuk akal bagi PAN dan PKS.

Secara tidak langsung, PKS dan PAN memilih jalan pragmatis. Ada tujuan pragmatis keduanya, yaitu Pilkada serentak 2020. Ada 270 daerah yang menggelar Pilkada serentak, mulai dari tingkat kabupaten, kota, dan provinsi. Dengan hitung-hitungan sederhana, PAN dan PKS bisa meraih kemenangan di daerah-daerah yang menjadi basis pemilih Prabowo di Pilpres 2019. Hal ini tak terlepas dari kecendrungan pemilih pada Pilpres 2019 kemarin. Mereka yang memilih Prabowo berkemungkinan besar tetap setia menjadi pemilih untuk PKS dan PAN setelah mereka kecewa dengan perubahan sikap politik Prabowo yang menerima pinangan koalisi pendukung pemerintah. Secara kasarnya, PAN dan PKS berpotensi merebut kursi kepala daerah di daerah-daerah yang memenangkan Prabowo pada Pilpres kemarin. Pragmatis sekali.

Target futuristik adalah Pemilu 2024, tujuan pragmatis adalah Pilkada serentak 2020. PKS dan PAN cukup pintar memadukan dua tujuan ini dalam satu derap langkah.

Menarik memperbincangkan PKS dan PAN dari sekadar tujuan futuristik dan pragmatis keduanya. Pilihan sebagai oposisi adalah sesuatu yang membawa angin segar. Oposisi akan menempatkan PKS dan PAN dalam tradisi pengkritik. Dengan komposisi sebagai minoritas, kritik itu bisa jadi tak terlalu mengaum, tapi setidaknya kritik keduanya tetap menjaga nuansa dialektika dalam hidup berbangsa dan bernegara. Dialektika ini adalah semangat reformasi. Oposisi PAN dan PKS menjadikan kedua partai ini sebagai penjaga utama semangat dan cita-cita reformasi.

PKS dan PAN telah membuat pilihan politik yang sangat penting bagi bangsa dan negara ini. Harus ada yang menjadi oposisi, mesti ada penjaga reformasi. Sudah dua dekade reformasi, apa yang dicita-citakan, apa yang disuarakan mahasiswa dan para pahlawan reformasi belum sepenuhnya terwujud. Reformasi seperti berjalan di tempat. Bahkan, terasa mundur ke belakang. Pilihan PAN dan PKS mesti diapresiasi.

Dua biduk reformasi yang sedang tersakiti. Tapi, jika keduanya mengikat janji dalam sebuah koalisi di Pilkada, keduanya akan merebut suara hati. Jadi pemenang di hati pemilih. (A.R. Rizal)

#editorial #PKSPAN #a.r.rizal #reformasi #Pilkada2020 #koalisi