Jual Tidak Sesuai HET, Pangkalan Disanksi

iklan halaman depan

Jual Tidak Sesuai HET, Pangkalan Disanksi

Jumat, 18 Oktober 2019
Officer Communication and Relation PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Haris Yanuanza saat sidak ke Pangkalan Saharuddin di Jalan S. Parman Ulak Karang, Padang, Jumat (18/10) sore. (yura/fajarsumbar.com)

Padang, fajarsumbar Jajaran PT Pertamina Marketing Operating Region (MOR) I melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pangkalan di Padang, Jumat (18/10/2019). Hal itu dilakukan guna memastikan stok elpiji 3 kg tersedia di pangkalan dan dijual dengan harga eceran tertinggi (HET).

Salah satu pangkalan yang disidak adalah Pangkalan Saharuddin di Jalan S. Parman Ulak Karang.

Officer Communication and Relation PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Haris Yanuanza yang memimpin sidak kembali menegaskan kepada pemilik pangkalan untuk tidak berbuat nakal dengan menjual gas elpiji 3 kg di atas harga eceran tertinggi (HET). "Di Padang HET-nya Rp17.000 per tabung," tegasnya.

Bila menjual di atas HET, maka pangkalan akan dikenakan sanksi, berupa sanksi administrasi pengurangan kuota hingga pemutusan hubungan usaha atau PHU. "Kami tidak main-main untuk itu," tegasnya lagi.

Bukti keseriusan PT Pertamina, belum lama ini, salah satu Pangkalan di Kawasan Rawang, Mata Air, Padang telah dikenakan sanksi administrasi pengurangan kuota, karena melanggar aturan, menjual di atas ketentuan. "Pangkalan itu menjual di atas HET, makanya kami sanksi administrasi, berupa pengurangan kuota," terangnya.

Selain itu juga diingatkannya untuk menjual kepada yang berhak sesuai peraturan pemerintah, yakni aturan Kementerian ESDM No. 26/2009, yaitu masyarakat miskin dan usaha mikro. "Di luar itu tidak boleh, termasuk kepada pengecer," tegasnya lagi.

Bagi masyarakat yang tidak terkategori miskin dan telah terlanjut menggunakan gas melon, maka diminta segera beralih ke gas non subsidi, yaitu bright gas. Mereka bisa menukarkan dua tabung gas elpiji 3 kg dengan satu tabung Bright Gas 5,5 kg. 

"Silahkan tukarkan di pangkalan. Mereka cukup bayar isi tabung nya saja," tegasnya didampingi Sales Branch Manager IV Mor I, Destra  Rahmayadi.

PT Pertamina ditegaskannya memiliki komitmen kuat dalam menjaga penyaluran elpiji 3 kg kepada masyarakat miskin dan usaha mikro. Termasuk menjaga stok tetap tersedia di pangkalan. Makanya, tak heran bila dilakukan upaya normalisasi dengan penambahan jumlah penyaluran.

 "Rata-rata penyaluran elpiji 3 kg setiap hari sejak Oktober ini mencapai 26 ribu tabung per hari. Jumlah itu meningkat sebesar 9,8 persen dari periode yang sama bulan lalu sebesar 24.460 tabung," terangnya.

Bahkan pada Rabu lalu ulasnya, juga telah disalurkan tambahan ekstra fakultatif sebesar 147 tabung. 

Kepada masyarakat juga dipesankan, bila menemukan adanya pangkalan yang berbuat nakal, untuk segera melaporkan kepada Pertamina melalui call center 135. "Pengaduan yang disampaikan selalu kami tindaklanjuti," tegasnya. 

Pemilik Pangkalan di Jalan S Parman Ulak Karang, Saharudin menegaskan, pihaknya tak pernah sekalipun menjual elpiji 3 kg di luar ketentuan yang telah digariskan. "Kami selalu menjual sesuai HET dan kepada masyarakat miskin serta usaha mikro," tuturnya.

Untuk mengantisipasi penjualan kepada yang seharusnya, para pembeli harus menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) dengan alamat sesuai batasan wilayah pangkalannya. 

"Kami tidak jual kepada di luar masyarakat sekitar pangkalan ini. Kami jual sesuai KTP sini," tegasnya sambil menunjukkan spanduk yang berisikan pembelian dilakukan dengan memperlihatkan KTP. (yura)