Kelompok Tani Usaha Bersama Organik Simancung, Galakkan Pupuk Kompos

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Kelompok Tani Usaha Bersama Organik Simancung, Galakkan Pupuk Kompos

Kamis, 03 Oktober 2019

Camat Pauh Duo Bujang Basri,mewakili Bupati Solok Selatan,didampingi pengurus Lembaga Sertifikat Organik (LSO) anggota Warsi,Wali Nagari melakukan panen padi organik di jorong Simancuang.

Solsel, fajarsumbar.com - Ketua Kelompok Tani Usaha Bersama Organik Simancung, Erizal Efendi siap melaksanakan apa yang sudah menjadi ketentuan SLO dalam pengelolaan padi organik dan ternak sapi bantuan pemerintah dan WARSI.

Dengan petani hanya mengandalkan kompos ternak disetiap menggarap sawah, sehingga ada nilai plusnya dalam mempertahankan humus tanah pertanian sawah hingga ke anak cucu. Sebab itu, keltannya mendapatkan sertifikat SLO dalam pengembangan padi organik

"Kalau biasanya kita andalkan pupuk kimia, namun sejak tahun 2016 hingga kini sudah mengandalkan kompos ternak. Tingkat kesuburan tanah sawahpun, lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Pengembangan padi organik tersebut dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Simancuang, yang selama ini telah berusaha menjaga hutan demi ketersediaan air untuk penghidupan

"Justru itu, adanya dorongan penguatan dan pengembangan pertanian organik di Jorong Simancuang oleh pemerintah dan KKI Warsi," jelasnya.

Juliatra Petani Organik, memaparkan, penerimaan sertifikat Lembaga Sertifikat Organik (LSO). Diakui sebagai penghasil organik nasional, keltan itu bantu KKI Warsi 6 ekor dan bio gas dan huler organik dan dinas pertanian 8 ekor. Unit Penggelolaan Padi Organik (UPPO).

Kelompok sawah lapangan, membentuk kelompok baru memasarkan padi organik.

Wali Nagari Alam Pauhduo, Zainal Abidin mengharapkan, Ketua kelompok mesti harus transparan dengan anggota kelompok, baik pengelolaan padi organik maupun bantuan ternak sapi yang diterima 9 ekor.

Sebab, tidak hanya bantuan pengembangan padi organik. Tapi peralatan UPPO, huller organik dan bangunan masyawarah yang dibangun oleh Warsi nilainya sudah miliyaran rupiah.

"Saya yakin dan percaya, perekonomian warga Simancung dengan cepat maju. Sebab, bantuan dari LSM dan Pemerintah nilainya sudah miliyaran rupiah," katanya.

Jumlah bantuan sapi saja sudah mencapai 16 ekor dengan jumlah 70 KK warga Simancung. Dimintanya bergiliran mengembangkannya, sehingga sama terbantu peningkatan ekonomi.

Sedangkan jumlah huller organik banyak ada sekitar 9 unit, dan sudah berfungsi.

Satu-satunya padi organik yang dikembangkan di Sumbar hanya ada di Solsel. Dalam pemasaran mesti berkoordinasi dengan seluruh stake holder terkait, serta tetap menjaga kekompakan antar anggota kelompok, di dahului dengan sikap transparan terhadap aset dan pengelolaan.

"PR bagi kelompok tani, data aset dan bantuan mesti harus diserahkan ke Nagari," bebernya.

Koordinator Program WARSI, Rice Rahma Dewita, peluncuran program ke warga Simancung sebagai dampak menjaga hutan, model pengelolaan padi organik dimulai dari daerah hulu.

Bukan praktek budadaya saja, model pengelolaan sawah yang sudah di mulai oleh nenek moyang orang minangkabau.

"Dengan pupuk organik atau kompos ternak majukan padi organik di daerah pengujung Solsel ini," jelasnya.

Tahun ini baru 9,8 hektar sawah yang mendapatkan sertifikat organik dari Lembaga Sertifikat Organik (LSO).

Sudah maju dilakukan oleh Simnacung sebagai jorong daerah pengujung dan aksesnya cukup sulit.

19 keltan, lahan pertanian mereka yang sudah memiliki sertifikat. 20,8 ton.

Produk kelas satu ini, harus dinikmati oleh petani.

Dari 20,8 ton hanya 3 ton untuk kebutuhan petani. Perluasan lahan organik di Simancuang dan pemasaran produk organik yang hanya ada di Simancung. Dengan harga yang baik, ada nilai tambah pengelolaan padi organik.

Hutan nagari pertama di Sumbar dan daerah penghasil padi organik pertama di Sumbar.

Sudah masuk dalam beras pasar lelang di Jambi, perlu dukungan pengembangan padi organik kedepannya.

Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Solok Selatan, Yusri, untuk ternak jangan sampai ada sapi yang kurang dan tidak ada kompos yang dihasilkan UPPO. Sapi jangan dikelola di masing-masing rumah anggota, tapi dikandang kelompok sehingga mudah

Camat Pauh Duo, Bujang Basri mewakili Bupati Solok Selatan mengatakan, dengan adanya bantuan itu, sebenarnya masyarakat simancuang sudah maju. Sebab sudah miliayaran rupiah, dan jadilah masyarakat yang mandiri melalui pengelolaan organik ini.

Jangan sampai sapi yang dibantu pemerintah dan WARSi hendaknya mandiri. Jangan hanya sebagai penerima, kemudian bantuannya habis dengan berbagai.

"Jangan sampai nikmat jadi laknat, sudah dapat bantuan jadi permasalahan dikemudian hari," tuturnya. (Hendrivon)