Konsolidasi Bundo Kanduang se-Sumbar di Solsel

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Konsolidasi Bundo Kanduang se-Sumbar di Solsel

Jumat, 11 Oktober 2019
.

Solok Selatan, fajarsumbar.com - Konsolidasi Bundo Kanduang pertama se Sumatera Barat di tahun ini di pusatkan di Kabupaten Solok Selatan (Solsel), bertempat di Aula Sarantau Sasurambi Kantor Bupati Solsel, Kamis (10/10).

Konsolidasi ini, dibuka secara langsung oleh Bupati Solok Selatan H. Muzni Zakaria. Dalam sambutannya Muzni mengharapkan kegiatan dapat meningkatkan kepedulian Bundo Kandung terhadap nilai, fungsi dan peran Bundo Kandung di Minangkabau dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas dalam mengaplikasikan Adaik Basandi Sayarak, Syarak Basandi Kitabullah.

“Semoga dengan adanya pertemuan ini, peran bundo kanduang semakin nyata. Bundo kanduang yang bukan saja hanya terdaftar sebagai pengurus, tetapi harus mengetahui fungsi dan posisinya di tenagh masyarakat,” tuturnya.

Muzni mengakui, peran bundo kanduang di tengah-tengah masyarakat sangat besar, saat ini katanya, hampir segala persoalan kaum dan penyelesaiannya berpulang kepada bundo kanduang.

“Maka dari itu, penting kiranya ibu menjadi tempat bertanya, di tiru, dan menjadi teladan lingkungan keluarganya,” imbuihnya.

Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Puti Reno Raudha Thaib mengebutkan, konsolidasi ini merupakan wadah bagi bundo kanduang se sumatra barat dalam mencari solusi atas persoalan yang ada.

Ia juga mengatakan saat ini ada kerancuan di tengah-tengah masyarakat tentang pengertian bundo kanduang.

Ia menjelaskan, menurut sejarah bundo kanduang adalah sebutan bagi seorang raja perempuan di Kerajaan Pagaruyuang.

Sedangkan menurut mitologi atau kaba dalam masyarakat minangkabau dimana kaba itu sudah diyakini dan hampir semua mengenal kaba itu yaitu kaba cindua mato, nama bundo kanduang adalah nama raja perempuan yang sangat terhormat, kekuasaannya melebih kekuasaan raja.

Dalam kehidupan sosial, bundo kanduang adalah panggilan bagi individu perempaun di minangkabau yang sudah menikah dan sudah mempunyai anak, yaitu ibu. “Perempuan minangkabau yang belum punya suami, belum dapat dipanggil sebagai bundo kanduang,” terangnya.

Sementara itu, Bundo kanduang dalam adat adalah perempuan pertama yang berada di dalam kaumnya. Ia mengatakan, bundo kanduang dalam pengertian adat ini yang akan dikuatkan perannya dalam masing-masing kaum melalui konsolidasi ini.

Dimana salah satu peran kedudukan bundo kanduang dalam kaumnya adalah menjadi perekat pendamai dari anggota kaum yang merasa tersisih.

Ia mengatakan, organisasi bundo kanduang berbeda dengan bundo kanduang adat, karena organisasi bundo kanduang diangkat, sedangkan bundo kanduang adat tidak ada yang mengangkat, karena mereka langsung tumbuh dalam kaumnya.

Jadi tugas bundo kanduang organisasi adalah memberikan penguatan dan fasilitasi terhadap bundo kanduang adat, jadi tidak bisa mengambil peran bundo kanduang adat. “Bundo kanduang organisasi, itu cupak buatan, sedangkan bundo kanduang adat itu cupak asli,” terangnya.

Hadir dalam acara tersebut Ketua GOW Solsel Ny Ayu Abdul Rahman, Ketua Bundo Kanduang Solsel Hj. Nur Aisyah, Ketua MUI Buya Syarkawi, Perwakilan Polres, sejumlah organisasi wanita, serta Ketua dan rombongan Bundo Kanduang se Sumbar.(Yuni Valora)