Menyoal Urgensi Krisis Lagu Anak

STIE-AKBP-30 JUNI

iklan halaman depan

Menyoal Urgensi Krisis Lagu Anak

Rabu, 09 Oktober 2019
PERKEMBANGAN ekosistem musik di tanah air tengah mengalami tendensi mengikuti tren pada kurun waktu tertentu. Beberapa periode lalu, tren musik di Indonesia didominasi munculnya grup musik yang lebih dikenal dengan boy band atau girl band. Tren ini juga merambah pada level musik yang dimainkan oleh anak- anak sebagai pelaku utamanya.

Merunut lebih jauh ke belakang, tren musik terkhusus yang melibatkan anak- anak sebagai pelaku utama (penyanyi) pernah mengalami masa kejayaan pada era 90- an. Pada periode tersebut banyak muncul lagu, penyanyi bahkan dibuatkan acara khusus di televisi yang mengakomodir kebutuhan anak dalam menikmati hiburan tersebut.

Hegemoni musik dan lagu anak pada era 90- an yang begitu besar memang didukung pangsa pasar yang potensial untuk mengerjakan proyek tersebut. Setiap proyeksi yang dikerjakan saling bersaing dengan menunjukan karakteristik yang dipunyai masing- masing.

Namun memasuki era 2000- an, hegemoni dunia musik anak secara perlahan mengalami disrupsi yang nyata. Diiringi beranjak dewasanya penyanyi anak- anak tersebut, serta tidak adanya regenerasi komposer dalam menciptakan musik yang sesuai dengan jiwa anak, menyebabkan perlahan dunia permusikan anak- anak mengalami kemunduran. 

Hal yang menjadi penggerus utama lainnya adalah perkembangan teknologi dan penyiaran yang dinikmati anak dalam kehidupan sehari- hari. Penyuguhan penyiaran yang ada ketika menyaksikan televisi juga tidak memberi proporsi yang mumpuni dalam ruang anak mendapatkan hiburan. Para orangtua kadang justru terlihat bangga ketika anaknya fasih menyanyikan lagu dangdut atau musik lain yang sedang tren dalam media sosial.

Kelangkaan lagu anak- anak merupakan penyebab dari rendahnya minat dunia bisnis permusikan untuk mengembangkan lagu anak. Musik sudah seperti dunia bisnis lainnya, jika tidak menguntungkan maka proyeksi tidak akan dijalankan. Berbicara tentang bisnis musik atau bisnis apapun yang melibatkan anak- anak seperti film, dan lain sebagainya juga baiknya harus memperhatikan sisi edukatifnya bagi anak Indonesia.

Semakin krisisnya lagu anak- anak sungguh menjadi dilema saat ini. Anak- anak saat memasuki usia tumbuh, memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dengan berbagai ekspresi tak terkecuali lagu. 

Lagu anak- anak pada masa kejayaannya bukan hanya sebagai hiburan semata, namun disetiap liriknya terdapat pesan dan nilai- nilai positif yang beranekaragam, seperti nilai keagamaan, nilai kepatuhan, kesopanan, pendidikan dan pengetahuan umum, bahkan sejarah. 

Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif  Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri mengatakan ekosistem musik anak yang sudah tak kondusif lagi menyebabkan tak adanya rangsangan untuk para penulis lagu dalam memproduksi tembang anak- anak yang bermutu.

Musik sebagai salah satu dari enam belas subsektor ekonomi kreatif yang dicanangkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), memiliki potensi yang cukup luas dalam meraih kesuksesan. 

Berdasarkan survei penduduk antar sensus (Supas) 2015 jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. Penduduk dengan kelompok umur 0-14 tahun (usia anak- anak) mencapai 66,17 juta jiwa atau sekitar 24,8% dari total populasi. Kemudian penduduk kelompok umur 15-64 tahun (usia produktif) sebanyak 183,36 juta jiwa atau sekitar 68,7%, dan kelompok umur lebih dari 65 tahun berjumlah 17,37 juta jiwa atau sebesar 6,51 % dari total populasi. Berdasarkan pemaparan dari kelompok umur dan populasi Indonesia, terdapat peluang yang cukup besar dari potensi bisnis lagu anak- anak.
Peran Orangtua

Sudah saatnya juga orangtua, memperkenalkan lagu anak kepada buah hatinya. Mengenalkan lagu anak lewat musik yang sesuai dengan jiwa anak dapat menstimulun perkembangan otak kanan anak, karena dalam lirik lagu anak biasanya terdapat pesan dalam sebuah liriknya. 

Saat ini memang cukup banyak artis cilik yang menghiasi layar kaca. Tapi kehadiran mereka, lebih terlihat sebagai eksploitasi anak- anak dan masa anak anak itu sendiri. 
Kehadiran mereka dalam dunia entertain sebagai aktor – aktris cilik dalam beberapa sinetron bercampur dengan peran berat seperti konflik rumah tangga, kekerasan, dan peran lain yang seringkali dipaksa dimainkan. 

Dalam dunia musik pun penyanyi cilik ini bukan juga menyanyikan lagu sesuai zaman mereka. Kehadiran ajang pencarian bakat dengan background kid, junior atau apapun namanya yang mengkhususkan kategori anak- anak, juga tak ubahnya dengan ajang pencarian bakat dewasa, bedanya hanya dari segi umur peserta saja.

Jangan sampai konsumsi lagu anak yang tidak sesuai dengan usia, membuat anak- anak tumbuh  dewasa sebelum waktunya. Juga semestinya anak- anak mendapat suguhan hiburan yang menarik, mendidik serta sesuai dengan tingkat tumbuh kembang psikologisnya. Semua itu kembali kepada kesadaran masing- masing individu dan seluruh stakeholder untuk menjaga kualitas generasi mendatang.

Sejatinya peluang masih terbuka lebar bagi insan kreatif, melalui pemanfaatan industri ekonomi kreatif. Dengan data bonus demografi pada usia produktif (15-64 tahun 68,7%) dan kelompok umur  anak- anak (0-14 tahun sebesar 24,8 %) menjadi potensi besar untuk menghidupkan kembali dunia bermusik anak- anak , memberikan ruang yang seluasnya untuk bebas berekspresi dan mengembangkan kreativitas sesuai jiwa zaman dan bukan hanya melihat dari sisi bisnis semata.
Biodata Penulis

Rizki Wahid. Pemilik Hobi membaca, menonton dan menulis ini menyukai serial Tokusatsu, Super Sentai dan Anime. Juga seorang pemerhati sepakbola. Lahir di Padang, 21 April 1995. Penulis sedang dalam menyelesaikan studi di jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Komunitas Menulis “Diskusi Senja.  

Nominasi 10 terbaik Lomba resensi Buku “Evolusi Mimpi Menata Indonesia: Andrinof A. Chaniago dan Jejak Kelahiran Pemikiran Pembangunan Paska 2014” yang diselenggarakan oleh Orang Kaya Buku antar Mahasiswa se- Sumatera Barat pada tahun 2018. (rizki wahid/mahasiswa Unand, Padang, Sumbar)