Bocah Penderita Tumor Ganas Butuh Uluran Tangan Dermawan

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Bocah Penderita Tumor Ganas Butuh Uluran Tangan Dermawan

Sabtu, 30 November 2019

.


Padang Pariaman, fajarsumbar.com - Aina Talita Zahran (3,5) bocah malang yang menderita penyakit tumor ganas serta kangker kulit menyelimuti kulit yang masih butuh ciuman dari kedua orang tuanya. Namun,  apa daya setiap hari bocah ini menangis kesakitan menahan perihnya penyakit yang ia alami.

Saat dikunjungi di korong Palanggaran, Nagari Campago Selatan, Padang Pariaman, saksi betapa perihnya sakit yang dirasa Aina. Ketika anak-anak seumur dia tidur pulas, sementara Aina masih saja bergumam dengan sakit sembari berkata pada ibunya seraya menahan sakit "Mata Aina Perih Mak", ujarnya dengan nada sayup-sayup didengar akibat penyakit yang ia derita. 

Aina adalah anak sulung dari orang tua yang tabah. Adi Syahputra dan Zetris Melinda merupakan orang tua dari Aina. Saat ditemui di rumahnya, Melinda, ibu Aina tengah mengendong buah hatinya itu. 

"Aina tak pernah lelap dengan puas, sebentar-sebentar dia menjerit kesakitan," sebut Melinda sambil mengusap kepala Aina. 

Sembari memberikan keterangan, Ibu muda itu terus saja menenangkan Aina lagi menangis. Pada mata Aina yang masih utuh, mengalir air mata, rintikan air matanya cepat seperti memohon pada matanya yang sakit itu.

Ibu Aina mengatakan lagi, berdasarkan diagnosa dokter di RSUP M. Djamil Padang, Aina menderita susp squamous cell carcinoma atau kanker kulit dan Tumor ganas.

"Itulah sakit yang diderita anak pertama kami. Bahkan ia tak boleh kena cahaya matahari. Tubuh dan wajah Aina bintik-bintik hitam akibat kangker kulit," jelas Melinda. 

Pada awalnya, ucap Melinda lagi, anaknya lahir dengan keadaan normal. 

"Tak tampak yang ganjal pada Aina. Namun pada umur satu tahun baru tampak apa yang diderita Aina, kulitnya tumbuh bintik hitam," kata Melinda.

Semenjak itu dokter mengatakan kalau Aina kangker kulit. 

Saat dimintai keterangan, Melinda seperti menahan sesak pada nafasnya, sekali-kali dia menghela nafas, menatap terus mata Aina dalam-dalam, "Sayang Amak pada Aina nak," bisik Melinda.

Adi, ayah Aina juga mendampingi saat itu. Dia juga ayah yang tabah, paling tidak bolak balik 4 kali seminggu ke RS M Djamil Padang membawa Aina berobat. 

Adi menyadari, kangker di mata Aina bermula dari bintik hitam di kelopak mata kiri bagian bawah. 

"Awal bulan Ramadhan pada 2019, baru saya tahu, Aina mengeluh sakit pada kelopak mata kirinya. Saya bawa ke Puskesmas terdekat," sebut Adi.

Adi tak pernah menyangka, bintik hitam tersebut akan merengut penglihatan anak kesayangannya. 

"Setelah saya bawa ke Puskesmas, dokter suruh membawa Aina ke rumah sakit Aisyah Pariaman. Aina diperiksa oleh spesialis anak," sebut Adi.

Dari keterangan dokter anak itulah Adi mendengar kabar buruk, bahwa anaknya diserang kangker. 

"Dari rumah sakit Pariaman itu, Aina dirujuk ke RS M Djamil Padang," ungkap Adi yang merupakan tenaga honorer di SDN 06 Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. 

Percakapan dengan Kedua orang tua Aina itu sejenak terhenti, Aina merintih lagi, dan harus ditenangkan meski dengan berbagai cara. 

Tampak orang tua Aina berupaya membujuk Aina agar berhenti menangis, namun dia tetap meronta, barangkali sakit yang dirasa Aina penyebab jiwa kekanakannya sulit dibujuk. 

Kembali Adi berkata, sekarang lihatlah kondisi Aina begini. "Kurun waktu, tiga bulan belakangan, tumor ganas pada mata Aina terus membesar. Mata Aina pecah karena tumor itu," kata Adi lirih. 

Sekarang Aina rawat jalan di RS M Djamil Padang. Orang tuanya menyebutkan sudah tiga bulan belakangan, empat kali seminggu, bolak balik ke Padang.

"Untuk obat Aina memang ditanggung oleh BPJS, namun ada juga obat yang tidak ditanggung, termasuk biasa bolak-balik ke Padang untuk rawat jalan," sebut Adi. 

Keadaan Aina, semestinya sudah harus mendapatkan penanganan medis untuk operasi. Namun belum juga sampai sekarang. 

Perihal tersebut dikatakan oleh Adi bahwa 
pada akhir Oktober 2019 pihak RSUP M. Djamil berencana akan melakuka operasi pada mata Aina.

"Namun sampai sekarang belum juga dioperasi, sementara Aina masih saja menangis kesakitan," ungkap Adi.

Lebih lanjut, Adi menjelaskan, pada bulan Oktober itu, dokter berjanji melakukan operasi. Namun sampai sekarang janji itu tertunda.

"Saya tak putus harapan dan selalu berjuang untuk kesembuhan anak saya ini. Saya iba pada anak saya, melihat teman seumurnya bermain sambil tertawa, tapi anak saya," sebut Adi terbata.

Dari keterangan dia, pihak dokter di M Djamil Padang akan melakukan operasi pada Aina melalui tim dokter gabungan. 

"Waktu itu dokter janji akan melakukan operasi dalam satu minggu kedepan dan mengabari saya. Namun hingga saat ini sudah minggu keempat masih belum ada jadwal operasi dari rumah sakit, saya juga sudah mencoba hubungi dokter namun belum ada kepastian," kata Adi.

Entahlah apa dikata akan nasib Aina sekarang. Tak henti-henti Aina menangis. Aina tampak seperti hendak menggoreskan jari mungil nya pada tumor yang menggantikan posisi mata kirinya.

"Aina sabar ya nak, Amak dan Ayah sayang sama Aina. Sabar ya nak," rintihan kedua orang tua itu. (heri)