Mantan Direktur BUMDes MKB, Indra Sukriani Bantah Melarikan Diri

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Mantan Direktur BUMDes MKB, Indra Sukriani Bantah Melarikan Diri

Selasa, 26 November 2019
Mantan Direktur BUMDes MKB, Indra Sukriani.

Sawahlunto, fajarsumbar.com - Polemik BUMDes MKB terus bergulir, mantan Direktur Indra Sukriani bantah melarikan diri. Hal ini ia sampaikan kepada fajarsumbar.com melalui sambungan telepon, Selasa (26/11/2019).

Ia mengatakan, yang disebut melarikan diri adalah orang yang sedang menjabat kabur, kan saya tidak menjabat. Pada bulan Mei 2018 Komisaris BUMDes MKB masih dijabat oleh Masril. Ia sudah mengajukan pengunduran diri yang ketiga. 

"Yang pertama dan kedua ditolak karena modal BUMDes itu tidak sesuai dengan kebutuhan. Atas nama bisnis, ya sesuai dengan perencanaan. Kalau tidak sesuai perencanaan, otomatis bisnis tersebut tidak jalan, dan itupun sudah disederhanakan, tetapi setelah dikeluarkan dana untuk BUMDes masih tidak sesuai dengan perencanaan. Akhirnya gali lubang tutup lubang", ujarnya.

Ia menjelaskan, pengunduran diri yang ketiga waktu itu ia jatuh sakit batu empedu, otomatis operasi dan butuh waktu tiga bulan untuk pemulihan. Dan itupun diterima oleh Masril lalu diangkatlah yang namanya Lola. 

Untuk tanggungjawab ia mengatakan, mulai dari pengunduran diri sampai satu bulan resmi mengundurkan diri. Dari tanggal 5 Mei sampai 5 Juni 2018.

"Dan waktu 30 hari tersebut, kok tidak ada gugatan, tidak ada kendala, tidak apa-apa. Laporan bulanan waktu masih menjabat tetap diserahkan dan ditandatangani pengawas dan diserahkan ke komisaris. Saya tidak tahu ditandatangan komisaris atau tidak karena waktu itu selama 2017 pun, laporan bulan Mei sampai Desember itu baru ditandatangani pada bulan April 2018. Ditandatangani atau tidak saya sudah diterima untuk mengundurkan diri dengan diangkatnya Lola sebagai Direktur sementara", urainya.

Lebih lanjut setelah itu ia tidak tahu menahu tentang BUMDes karena masa jabatannya telah habis. Waktu itu Desa minta tolong untuk laporan keuangan. Laporan keuangan waktu ia menjabat tidak ada masalah dan terdata tetapi ada beberapa salah input waktu ia tidak menjabat lagi. Akhirnya itu yang disangkakan pengelembungan atau kerugian. Padahal itu adalah kesalahan dari sistem. 

"Untuk sistem kita mengadopsi dari sistem Kumbayau, saya sudah mengarahkan kepala desa, sekretaris desa dan direktur sementara untuk dibantu oleh dan menanyakan sistem tersebut ke Kumbayau", terangnya.

Setelah mengundurkan diri, ia fokus dulu pada kehidupan pribadi karena selama menjabat dari bulan April hingga 2017 ia tidak mendapatkan gaji. Pada 2018 sampai Mei di baru digaji dengan cara di Rapel pada bulan April. Ia menikmati hasil gaji mulai dari Januari, Februari, Maret, April dan Mei.

"Cuma lima bulan saya menikmati gaji dan ternyata setelah itu saya di cerca dengan pemberitaan seperti ini pak. Saya ada urusan keluarga, pergi dari Muaro Kalaban dan mencari kehidupan di luar karena ada pekerjaan yang bisa menghidupkan anak dan istri saya makanya saya pindah", tandasnya. (ton)