Narasi Remeh-temeh

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Narasi Remeh-temeh

Selasa, 03 Desember 2019
Padang, Fajarsumbar.com-Si fulan kembali bikin ulah. Dengan status yang tak lebih dari sepenggal kalimat, ia membikin heboh jagad dunia maya. Beramai-ramai orang melaporkannya ke polisi. Misi berhasil, semua energi terkuras untuk sebuah kenakalan yang sudah ditabiatkan.

Si fulan yang serba oplas itu kembali bikin sensasi. Dengan sebuah foto celana pendek sampai ke betis, ia membuat kaum netijen di alam maya dan alam nyata berkomentar nynyir. Ia panen hujatan. Dalam waktu bersamaan, ia panen popularitas. Yang pasti juga panen uang.

Gara-gara darah yang tak Indonesia, semua heboh. Sibuk berkomentar, sibuk melapor. Semua perhatian tertuju ke sana. Semua energi tercurahkan ke persoalan yang seharusnya tak jadi soal. Semua sibuk dengan hal yang remeh-temeh. Lupa dengan hal-hal besar. Kehebohan membuat orang-orang berjalan di tempat. Ia seolah telah berlari kencang, padahal sesungguhnya tertinggal jauh di belakang.

Negeri ini penuh dengan narasi remeh-temeh. Hal yang tak penting kemudian memberhalai wacana. Orang-orang sibuk berdebat soal toleransi, diskriminasi, dan wacana serumpun yang sejatinya sudah selesai ketika Nusantara menjelma menjadi NKRI. Orang-orang sibuk betaruh tentang retorika nasionalisme, se-Indonesia apa dirimu, padahal bangsa ini telah berusia dua pertiga abad.

Dunia ini tiba-tiba menjadi receh. Seorang emak yang mengendarai skuter matic sambil memakai daster tiba-tiba menjadi viral. Videonya ditayangkan berulang-ulang di layar televisi. Dibuatkan pula film pendeknya oleh Youtuber.

Orang-orang prihatin dengan artis Korea yang putus cinta. Yang mati bunuh diri dikenang sebagai tragedi dunia. Seorang ibu muda sibuk membuat status ucapan belasungkawa untuk sang artis yang sama sekali tak kenal dengan dirinya. Saking telatennya buat status, si ibu muda sampai lupa mesti memberikan ASI untuk anaknya yang masih balita.

Tiba-tiba saja, si fulan itu puasa bikin status. Ribuan netijen membuat komentar di akun medsosnya. Orang-orang bertanya, ada apa dengan si fulan? Tidak membuat status kemudian menjadi sebuah isu yang besar.

Dalam agenda setting, narasi receh diciptakan untuk menguras energi. Hingga orang-orang sibuk membuang-buang energi untuk sesuatu yang tak penting. Ketika itulah, sang pembuat agenda kemudian melancarkan misi besarnya. Misi besar itu bisa agenda politik, agenda ekonomi, agenda kekuasaan, atau sekadar sebagai sebuah permainan. Ada orang-orang yang hidupnya terlanjur jenuh dan menjadikan keisengan sebagai sebuah hiburan.

Media sosial menjadi tempat utama bermainnya narasi receh. Media mainstrem sebenarnya juga bisa dipermainkan. Tak ada sedikit celah pun yang tak tersentuh narasi receh. Karena itu, benteng untuk menangkalnya adalah diri sendiri.

Jangan sibuk memperdebatkan hal yang remeh-temeh. Narasi receh adalah residu. Biarkan saja, tak usah ditanggapi. Residu itu akan hilang sertamerta angin berembus mengikis debu.

Ada narasi besar yang sedang dipertaruhkan. Narasi besar itu ada di kepala setiap individu. Dalam perang wacana, pertempuran terjadi di dalam benak setiap orang. Setiap orang menentukan apakah ia menjadi pemenang atau jadi pecundang. Kita sedang berperang di dalam kepala kita masing-masing. (A.R. Rizal)