Pelestarian Kesenian Butuh Wadah Kreatifitas

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Pelestarian Kesenian Butuh Wadah Kreatifitas

Selasa, 03 Desember 2019

Padang Panjang, fajarsumbar.com -Untuk melestarikan kesenian, khususnya kebudayaan Melayu. Dibutuhkan wadah kreativitas yang mampu menampilkan segala jenis kebudayaan, baik dalam bentuk benda maupun pertunjukan.

“Siapa yang akan mempopulerkan kebudayaan itu, jika tidak ada ruang untuk kreatifitas, khususnya bagi generasi muda. Sehingga, kebudayaan yang telah berlangsung turun temurun itu bisa tetap dilestarikan dan bertahan dari gempuran globalisasi yang terjadi saat ini,” kata Katia Chaterji, peneliti Kebudayaan Melayu dari salah satu universitas di Amerika Serikat pada Seminar Nasional Seni Budaya Melayu di ISI Padangpanjang, Selasa (3/12).

Dikatakan wanita yang memiliki darah India itu, keinginannya untuk meneliti kebudayaan Melayu yang memiliki sebaran hampir separoh daerah di Asia Tenggara, berawal dari ketertarikan terhadap  kebudayaan Melayu yang memiliki banyak keberagaman dan tersebar di sejumlah negara.

“Selain di Indonesia, budaya Melayu juga tersebar di Malaysia, Filipina dan Thailand. Meskipun terjadi pemisahan wilayah administratif, saat ekspansi yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa pada abab ke 17, tetapi budaya itu tetap lestari dan butuh terobosan nyata agar tetap lestari untuk generasi mendatang,” sebut wanita yang baru 8 bulan berada di Indonesia itu.

Seminar yang menghadirkan narasumber H.Ediwar,S.Sn,M.Sn,P.Hd dan Emridawati,S.Pd,M.Sn dari ISI Padangpanjang, Dr.Silfia Hanani,M.Si dari IAIN Bukittinggi, Rika Warandi,S.Sn,M.Sn dari ISBI Aceh dan Katia Chaterji melibatkan mahasiswa dari 3 perguruan tinggi di Sumatera itu serta moderator Dr.Sulaiman Juned,S.Sn,M.Sn.

Ediwar dalam pemaparannya menyampaikan, dampak globalisasi cukup mempengaruhi perkembangan kebudayaan, khususnya kebudayaan Melayu. Apalagi, masyarakat yang telah melek terhadap internet, mempengaruhi keberlangsungan kebudayaan itu sendiri.

“Dulu, sebelum terjadi globalisasi, masyarakat cukup melek terhadap berbagai pertunjukan-pertunjukan kesenian. Tetapi, saat ini masyarakat lebih nyaman berkomunikasi lewat dunia maya dan kurang bersosialisasi dengan sesama,” jelas mantan Pembantu Rektor I ISI Padangpanjang itu.

Sementara, Dr. Dr.Silfia Hanani,M.Si dari IAIN Bukittinggi menyebutkan, pengaruh globalisasi yang terjadi saat ini merupakan bentuk perwujudan dari kebudayaan masa lalu. Dimana, pengaruh globalisasi meliputi makanan (food), pakaian (fashion) dan hiburan (Funny).

“Kita banyak memlihat, masyarakat lebih cenderung ke budaya lama, seperti maraknya Kawah Daun yang merupakan tradisi masyarakat di Tanahdatar dengan meminum kopi dari rebusan daun kopi, bukan dari biji kopi yang ada saat ini,” jelasnya.

Dirinya juga sependapat dengan Katia Chaterji yang memaparkan tentang minimnya wadah kreatifitas dari kebudayaan itu sendiri. Apalagi, ISI Padangpanjang sebagai lembaga yang menjadi tempat para intelektual seni menuntut ilmu, juga harus memiliki wadah kreatifitas agar ilmu yang diperoleh bisa dipresentasikan kepada masyarakat.

Pembukaan Seminar Internasional Seni Budaya Melayu  itu dibuka oleh Pembantu Dekan Seni Pertunjukan Ikmal Hakim,S.Sn,M.Sn dan dihadiri oleh Ketua Jurusan Kerawitan Efrinaldi dan civitas ISI Padangpanjang. (*/adek)