Tidak Benar Korban Galodo Solsel Kekurangan Makanan

Iklan Semua Halaman

iklan halaman depan

Tidak Benar Korban Galodo Solsel Kekurangan Makanan

Senin, 02 Desember 2019
Beginilah kondisi Nagari Pakan Rabaa Timur, Kecamatan KPGD Solok Selatan,pasca banjir bandang minggu lalu, kebutuhan yang mendesak, warga minta perbaikan rumahnya yang rusak,anak anajnya bisa kembali ke sekolah.(hendrivon)

Solok Selatan, fajarsumbar.com - Kondisi Korban galodo yang terjadi sejak minggu kemaren itu, kian hari kian teratasi, pasalnya panitia yang berjaga dimasing masing posko selalu memperhatikan semua kebutuhan warga pengungsi, termasuk makan dan kesehatan mereka.

Hanya saja yang sangat diharapkan oleh para pengungsi itu relokasi rumah mereka yang rusak, hanyut dibawa oleh banjir bandang.

Terkait masalah bantuan yang datang silih berganti dari berbagai daerah, seperti selimut, pakaian, pakaian anak sekolah, kebutuhan bayi, sembako, obat obatan, kebutuhan rumah tangga, hampir sudah mencukupi. Bahkan ada donatur yang langsung memberikan bantuan berupa uang tunai kepada masing masing warga yang mengungsi.

Disaking sesaknya bantuan yang berdatangan, pihak nagari takut hal ini akan menjadi bumerang bagi warga, seluruh staf nagari, termasuk kepala jorong dikerahkan untuk segera mendata dan langsung membagikan bantuan itu ke masing masing rumah warga hingga malam hari.

Wali Nagari Pakan Rabaa Nasril kepada fajarsumbar.com, Senin (2/12/2019)disaat kesibukan mengurus warganya menampik sejumlah pemberitaan adanya warga kami yang sakit, kekurangan makanan, kekurangan pakaian, semua tidak benar, dan kami setiap hari melakukan pemantaun dan monitoring.

Kebutuhan yang sangat mendesak saat ini barangkali hanya perbaikan rumah mereka segera, perbaikan sawah dan irigasi warga, namun untuk mengatasi hal itu, menjelang diperbaiki pihak nagari akan mencatikan rumah sewaan untuk keluarga yang rumahnya rusak berat.

Untuk relokasi rumah warga, pihak nagari sudah menyediaksn 10 ha lahan bekas pembangunan GOR, untuk sementara dipakai dulu.

Sejumlah warga menolak lokasi relokasi yang disediakan pihsk nagari, dengan banyak pertimbangan.

Seperti yang disampaikan salah seorang warga yang rumahnya habis dibawa bsnjur bandang Miftra Effendi. Dia tidak setuju jika rumahnya dibangun di lokasi pembangunan GOR, dengan alasan lahan tersebut di pinggir perbukitan, bekas timbunan mudah terban dan akses tidak mencukupi.

Untuk masalah yang lainnya, pelayanan, kebutuhan dan sebagainya tidak kami temukan, diakui petugas  berjaga 24 jam.

Tokoh masyarakat Khairul Fadjri menanggapi beberapa keluhan warga pengungsi yang katanya banyak mengalami sakit, kurang makam dan sebagainya. Ini perlu diluruskan bahwasanya informasi itu kurang tepat.

"Saya sendiri selaku memonitoring disetiap pengungsian, dilokasi banjir, di tengah masyarakat, tidak ada kendala" ucap Ustad ini.

Hanya saja yang perlu segera diatasi, perbaikan imprastruktur, sarana pendidikan dan mengajak anak anak kembali kesekolah. (Hendrivon)