Mengutuk Penyakit Azab

iklan halaman depan



Mengutuk Penyakit Azab

Rabu, 15 Januari 2020


Padang, Fajarsumbar.com-Suami-istri itu begitu bersuka cita menyambut kehadiran sang buah hati. Seorang bayi mungil, bertubuh sehat, wajah yang cerah, merayu setiap mata untuk menatapnya. Tangis pertamanya disambut tawa-ria. Tawa yang sesaat. Dokter kemudian memvonis si bayi menderita HIV/Aids. Hancurlah hati si ayah-bunda.

Si anak menderita HIV/Aids dari orang tua. Sang istri menderita HIV/Aids dari sang suami. Sang suami menderita penyakit yang sama karena kejadian tak sengaja. Ia sedang berjalan dengan kaki tak beralas. Ia tertusuk paku. Paku itu baru saja menusuk seorang penderita HIV/Aids yang berlari tiba-tiba untuk mendapatkan pertolongan medis. Lalu, apakah adil memvonis si bayi mungil itu sebagai penerima sakit kutukan? Penyakit azab?

Logika ini tak dipakai oleh seorang politikus yang mencoba menggoreng isu peringkat HIV/Aids terbaru di Sumatera Barat. Kota Padang menjadi jawara. Fakta lainnya, penderita HIV/Aids di Kota Padang karena aktivitas seksual. Sebenarnya informasi ini bukan hal baru. Dari tahun ke tahun, Padang selalu jadi jawara. Wajar saja, sebagian besar manusia di Sumbar tumpah di Kota Padang. Sebagai ibukota provinsi, Padang juga ibukota segala masalah.

Lalu, apa yang salah dengan komentar politikus itu? Tak ada yang salah. Ia berhak berkomentar apa saja. Dan komentarnya jamak dengan komentar orang awam dalam melihat persoalan HIV/Aids. Padang tak becus mengatasi HIV/Aids, Kota Padang ini penuh maksiat!

Benar. Imajinasi orang awam tentang HIV/Aids adalah maksiat, pelacuran, hubungan di luar nikah, penyimpangan seksual, azab, penyakit kutukan. Penderita HIV/Aids kerap dihakimi dengan kutukan-kutukan itu. Sepertinya, orang yang beriman dan beramal sholeh takkan pernah mengidap HIV/Aids.

Masalah HIV/Aids tak sesederhana itu. Rumit. Secara medis saja rumit. Medis belum menemukan obat yang mujarab. Penderita HIV/Aids kerap mendapatkan diskriminasi. Penyakit kutukan itu tentunya tak tercover oleh jaminan asuransi kesehatan. Sementara, pengobatan penyakit itu luar biasa mahal. Persoalan makin rumit, penderita HIV/Aids pada stadium tertentu tak lagi bisa produktif.

HIV/Aids memang terkait dengan perilaku beresiko. Misalnya, bergonta-ganti pasangan, hubungan seks sesama jenis, jarum suntik narkoba, dan perilaku beresiko lainnya. Namun, faktor penyebab itu bukan alasan untuk menghakimi penderita HIP/Aids. Bagaimana mungkin kita menghakimi seorang bocah yang menderita HIV/Aids karena transfusi darah dari sebuah kecelakaan penanganan medis? Menghakimi penderita HIV/Aids itu tak bijak dan takkan menyelesaikan masalah.

Tenang saja, tak perlu panas dingin dan memburangsang dengan angka-angka penderita HIV/Aids. Tenangkan jiwa. HIV/Aids itu penyakit. Jangan dikait-kaitkan dengan azab. Jangan pula dipolitisasi. Politisi yang mempolitisi penderita HIV/Aids sama sakitnya dengan penderita itu sendiri.

Secara individu dan sosial, setiap orang bertanggung jawab mencegah perilaku beresiko. Maksiat, LGBT, narkoba, semua harus bergerak untuk memberantasnya. Terhadap. penderita HIV/Aids, ada hal lebih baik dilakukan dari sekadar menghakimi nasib mereka.

Diskriminasi, pelayanan medis, penerimaan, kehidupan yang normal adalah hak-hak penderita HIV/Aids yang harus dikembalikan kepada mereka. Sekali lagi, odha itu bukan manusia terkutuk. Mereka manusia seperti manusia kebanyakan.

Upaya pencegahan, edukasi tentang HIV/Aids juga penting dilakukan. Pendidikan kesehatan reproduksi, pemahaman moral dan nilai-nilai agama, itu kerja yang takkan selesai-selesainya. Dan tentu saja, ikhtiar semua orang untuk menemukan obat yang mujarab terhadap penyakit HIV/Aids. (A.R. Rizal)