Stanchart Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh Lebih Rendah dari APBN

STIE-AKBP-30 JUNI

iklan halaman depan



Stanchart Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh Lebih Rendah dari APBN

Jumat, 17 Januari 2020

 
(cnnindonesia.com)
Jakarta, fajarsumbar.com - Standard Chartered Bank (Stanchart) Indonesia memproyeksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2020. Proyeksi ini lebih tinggi 0,1 persen dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi 2019. Namun, lebih rendah dibandingkan target pemerintah dalam APBN 2020, yaitu 5,3 persen.
Ekonom Senior Stanchart Aldian Taloputra mengatakan pertumbuhan ekonomi RI dipicu oleh momentum investasi yang berkembang dan perkiraan meningkatnya konsumsi rumah tangga tahun ini.

"Kami proyeksikan pertumbuhan yang stabil dalam konsumsi rumah tangga dengan pasar tenaga kerja yang sehat dan meningkatnya belanja sosial pemerintah untuk meredam dampak kenaikan harga barang yang diatur pemerintah," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/1/2020).

Bank yang bermarkas pusat di Inggris ini juga memprediksi rupiah di level Rp13.800 per dolar AS pada 2020 atau menguat dibandingkan Rp13.900 per dolar AS pada 2019.
CEO Stanchart Andrew Chia menjelaskan optimisme proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil tahun ini dapat tercermin dari fundamental Indonesia, yang dinilainya tetap sehat di tengah turbulensi ekonomi global hingga akhir tahun lalu.
"Ketahanan ekonomi Indonesia pada 2019 membawa optimisme positif memasuki 2020. Namun demikian, kami juga tetap awas mengingat guncangan ekonom global dapat tetap berpengaruh ke Indonesia," papar Andrew.

Tak hanya Indonesia, ekonomi global pada tahun ini juga dinilai menjadi tahun untuk tumbuh secara terkendali dan stabil. Ekonom Senior Global Stanchart David Mann memperkirakan ekonomi global bakal tumbuh hingga 3,3 persen pada 2020. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan 3,1 untuk 2019.

Menurutnya, ekonomi China kemungkinan stabil untuk menggandakan PDB pada 2020. Akan tetapi, ia merasa pertumbuhan tersebut akan bergerak melemah lebih lanjut pada 2021. Sementara, untuk pertumbuhan ekonomi AS dan juga Eropa diperkirakan melesu tahun ini.
"Kami memprediksi ekonomi AS melambat lebih lanjut menjadi 1,8 persen pada tahun 2020, dan pertumbuhan kawasan Eropa tetap lemah," jelas David.
Laporan Global Focus Economic Outlook 2020 mencatat tiga hambatan struktural jangka panjang dalam siklus positif pertumbuhan global. Ketiga hambatan tersebut adalah utang, demografi, dan deglobalisasi. Laporan tersebut memaparkan beban utang adalah masalah di beberapa negara besar.

Tak hanya utang, banyak negara di dunia juga diprediksi mengalami tantangan pertumbuhan akibat populasi yang menua, di antaranya Jepang, Italia, Jerman, Thailand, RRT, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan dan Singapura sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

Selain utang, laporan tersebut juga memaparkan bahwa sentimen anti-globalisasi dan proteksionisme menjadi salah satu hambatan struktural yang signifikan. Negara-negara berkembang dinilai merupakan yang paling berisiko dari dampak deglobalisasi lebih lanjut tersebut. (*)