Bang Awkar tak Mau Disebut Kuli Tinta

STIE-AKBP-30 JUNI

iklan halaman depan



Bang Awkar tak Mau Disebut Kuli Tinta

Selasa, 11 Februari 2020
Awkar
PADANG - Kabar duka mengejutkan rekan-rekan wartawan di Sumatera Barat, Senin (10/2) sore. Sekira pukul 17.00 WIB. Sebuah kabar beredar dari satu grup whatsapp, diteruskan ke grup lainnya. Begitu terus-menerus. Awaluddin Kahar (Awkar), wartawan yang sudah mengecam asam garam bekerja di sejumlah media massa terbitan Padang, menghadap Yang Maha Kuasa.

Inna lillah wa inna ilaihi rojiun. Awkar dilaporkan meninggal dunia setelah sepeda motornya tertabrak kendaraan roda empat. Awkar sempat dilarikan ke Rumah Sakit Siti Rahmah, kawasan By Pass Padang, tapi nyawanya tak tertolong. 

Kecelakaan yang menimpa staf Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Padang yang membidangi urusan kehumasan itu, terjadi ketika dia pulang dari kantor yang tak seberapa jauh dari Balai Kota Padang.

“Serasa berhenti jarum jam. Tak percaya saya mendengar kabar yang begitu tiba-tiba,” ujar Muhammad Subhan, seorang novelis yang sama-sama berasal dari Aceh. Subhan dan Awkar lama berteman ketika masih sama-sama berprofesi sebagai wartawan di Kota Padang.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Lah lamo ndak basuo jo Awkar. Tibo-tibo mandanga berita iko. Beliau dari Aceh. Pertama jadi wartawan di Batusangkar. Ketika menikah dulu, kami antarkan bersama sama sekitar 25 tahun lalu. Beliau orang baik,” kara Alfian Jamrah, kepala Badan Perencanaan dan Litbang Kabupaten Tanah Datar.

Alfian ketika menjadi pejabat kehumasan di lingkup Pemkab Tanah Datar juga lama bekerjasama, dalam kapasitas Awkar waktu itu selaku wartawan Harian Umum Singgalang di Batusangkar.

Penulis terakhir bertemu dengan Bang Awkar, begitu ia akrab disapa wartawan yang lebih muda dari dia, di sebuah kedai di depan RSUD Padang Panjang sekitar enam bulan lalu. Di pagi Minggu itu, dia maracak sepeda motornya dari Padang ke Padang Panjang usai Shalat Subuh.

Awkar pernah bertugas selaku koordinator daerah Harian Singgalang di kota berjuluk Serambi Mekah itu. “Alhamdulillah, saya sehat. Sekarang senang bekerja di Baznas Kota Padang, berurusan dengan banyak warga yang tak mampu. Bahagia rasanya bila dapat membantu mereka,” katanya.

Ketika sama-sama bertugas sebagai wartawan di Kota Padang, Bang Awkar diposkan oleh Pimpinan Redaksi Singgalang H. Darlis Syofyan (alm) di DPRD Sumbar. Ketika mendapat tugas dari koordinator liputan mencari narasumber dari kalangan legislatif, saya sering ‘magang’ dengan Bang Awkar ke gedung DPRD Sumbar tersebut.

Satu hal yang kukuh dipegangnya sampai berhenti jadi wartawan Singgalang dan pindah ke Mimbar Minang adalah soal sebutan terhadap profesi jurnalis. Dia paling alergi mendengar sebutan kuli tinta untuk wartawan. 

“Kita bukan kuli tinta. Wartawan adalah pekerja profesional,” katanya suatu malam di hadapan Redaktur Pelaksana (waktu itu) Harian Singgalang, H. Adi Bermasa.

Berdasarkan catatan Muhammad Subhan, Bang Awkar sudah jadi wartawan dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Aceh sejak 1989. Waktu itu. Dia masih tercatat mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kampusnya itu punya media kampus bernama Ar-Raniry Pos. Dia banyak menulis di media tingkat institut tersebut.

Pada waktu bersamaan, di Fakultas Syariah ada pula tabloid kampus bernama Kuntum. Bang Awkar adalah pemimpin redaksinya.

Bang Awkar dilahirkan di Sinabang, 1 Agustus 1968, di ibukota Kabupaten Kepulauan Simeulue, Aceh. Anak Bapak Kaharuddin dan ibu Nurmadhah (almarhum) ini, menyelesaikan pendidikan tingkat SD hingga SMA di kampung kelahirannya. Dia tamatan SD Negeri Inpres Sinabang, walaupun dari kelas satu sampai kelas lima ia sekolah di SD Muhammadiyah Sinabang. Sedangkan pendidikan tingkat menengah pertama diselesaikannya di SMP Negeri 1 Sinabang.

Tamat SMP, dia tidak melanjutkan ke SMA, tapi Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) Sinabang menjadi pilihannya. Bang Awkar menyelesaikan pendidikannya di MAM tahun 1987.

Sekolah di MAM, menurut Bang Awkar, dirinya mendapat dua ijazah. Satu ijazah dari MAM itu sendiri dan satu lagi dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Meulaboh. Setamat dari MAM ia pun melanjutkan kuliah di Kota Banda Aceh. Tapi, karena faktor ekonomi, Bang Awkar tidak sempat menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Mengutip catatan Muhammad Subhan di kabarindonesia.com, meski belum  menyandang gelar sarjana, Bang Awkar termasuk sosok wartawan pekerja keras. Dia bersungguh-sungguh menekuni dunia jurnalistik. Kendatipun dia memiliki banyak keterbatasan, akan tetapi semangatnya  dalam menekuni profesinya, mungkin patut dicontoh.  

Bang Awkar merantu  ke Kota Padang Sumatera Barat pada akhir tahun 1992. Awal tahun 1993, dia mendaftar jadi wartawan/reporter di Harian Singgalang, yang merupakan salah satu koran terbesar di kota itu. Semula dia diterima sebagai reporter dengan status pembantu lepas (PL).

Dia pertama kali ditugaskan di Batusangkar, Ibukota Kabupaten  Tanah Datar. “Bekerja sebagai pembantu lepas saya tidak memiliki gaji tetap dari perusahaan. Pendapatan dinilai sesuai jumlah berita yang dimuat setiap hari, kemudian dihitung setiap bulan honor per berita,” kenang Bang Awkar.

Berkat kesungguhannya, di tahun 1996 dia dipanggil ke redaksi tempatnya bekerja guna mengikuti pelatihan untuk menjadi wartawan/karyawan tetap di Harian Singgalang Padang. Selanjutnya dia pun ditugaskan menjadi Koordinator Rubrik Kerjasama di Kota Padang Panjang.

Setahun menekuni profesi di kota sejuk itu, Bang Awkar ditarik kembali ke Redaksi Harian Singgalang di Padang. Setelah sembilan tahun bergabung dengan Harian Singgalang, Bang Awkar menentukan pilihan lain dengan bergabung di Harian Mimbar Minang Padang. Karena persoalan manajemen, Mimbar Minang mengalami penurunan status dari harian menjadi mingguan.

Bak kata pepatah, mengalir seperti air. Empat tahun di Mimbar Minang, Bang Awkar ditawarkan menjadi Pemimpin Redaksi di Surat Kabar Mingguan Serambi Minang. “Selama bekerja di Serambi Minang semangat dakwah saya berjalan dengan lancar. Sebab di media itu, hampir 70 persen berita-berita berkaitan dengan agama,” tutur mantan Reporter Radio Tri Jaya FM untuk wilayah Kota Padang ini.

Masalah kekurangan modal dan manjemen pula, akhirnya Surat Kabar Mingguan Serambi Minang tutup hingga sekarang. Akan tetapi, karena semangat hidupnya yang tinggi dan tekadnya untuk tetap menjadi wartawan, Bang Awkar tidak kehilangan akal. Bersama istri tercintanya, Nofri Emi, dia membuat media dakwah. Namanya Surat Kabar Mingguan Serumpun, yang terbit di Kota Padang.  

Selama dua tahun SKM Serumpun sempat beredar menyapa pembacanya. Namun karena alasan modal pula, media itu terpaksa berhenti terbit. “Insya Allah, kalau kita sudah punya modal lagi, Serumpun akan saya terbitkan lagi,” ujar Bang Awkar. Di Serumpun, selain menjadi Pemimpin Redaksi, Bang Awkar juga merangkap sebagai pemilik modal (Pemimpin Umum).

Rupanya keseriusan Bang Awkar di dunia kewartawanan membuat Bupati Simeulue, Provinsi Aceh, Drs. Darmili mengajak lelaki berkacamata itu pulang membangun kampung halamannya. Terhitung 27 Januari 2009 sampai 27 Januari 2010 Bang Awkar menekan kontrak kerjasama membuat tabloid yang diberi nama Surat Kabar Si meulue (SKS) yang terbit mingguan.

Di SKS, selain menjadi Pemimpin Redaksi, Bang Awkar juga menjabat sebagai Pemimpin Umum dan sekaligus Direktur CV Insani Media yang menerbitkan SKS. “Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan yang saya miliki, Bupati Simeulue berkenan mengajak saya ikut berperan membangun kampung sesuai profesi saya. Kesempatan ini mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya suatu ketika.

Kurang dari lima tahun dia berkiprah di kampung halamannya itu, seiring dengan berakhirnya masa jabatan Darmili selaku bupati, Bang Awkar pun kembali ke Padang. Dia tak langsung terjun ke dunia kewartawanan, tetapi sempat berkiprah di beberapa organisasi sosial kemasyarakatan.

Beberapa tahun belakangan, dia pun bergabung dengan Baznas Kota Padang. Posisi yang diamanahkan adalah selaku mengelola kehumasan. Bang Awkar kembali bersentuhan dengan rekan-rekan wartawan di Padang. Selain menyiapkan bahan-bahan relis untuk media, dia juga turun ke lapangan, berdialog dengan warga miskin yang disantuni melalui lembaga amal sosial tersebut.

Ketika kabar duka berhembus senja kemarin, tatkala Bang Awkar menghadap Sang Pencipta, dia masih menekuni profesi tersebut.
(musriadi musanif)