Mengenal Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

STIE-AKBP-30 JUNI

iklan halaman depan



Mengenal Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

Senin, 10 Februari 2020

 
(cnnindonesia.com)
Jakarta, fajarsumbar.com - Beberapa kondisi bisa mengancam bayi baru lahir. Salah satunya adalah asfiksia yang merupakan kondisi saat bayi tak mendapatkan cukup oksigen selama proses kelahiran.

Tidak semua bayi dapat dengan cepat menunjukkan gejala asfiksia. Namun, denyut jantung janin yang terlalu cepat atau lambat bisa menjadi indikator pertama.

Beberapa gejala asfiksia sendiri di antaranya kulit pucat atau membiru, kesulitan bernapas, detak jantung tak normal, dan otot yang lemah. Semakin lama bayi tak mendapatkan oksigen, semakin besar kemungkinan bayi mengalami gejala asfiksia.
Dalam kondisi lebih parah, asfiksia dapat menyebabkan kegagalan beberapa organ tubuh seperti paru-paru, jantung, ginjal, dan otak. Pada beberapa kasus, kerusakan otak berdampak pada keterlambatan perkembangan mental dan fisik pada anak.

Beberapa hal mendorong timbulnya asfiksia, mulai dari kondisi ibu hingga proses persalinan. Ibu yang tak mendapatkan cukup oksigen dan mengalami tekanan darah tinggi atau rendah saat proses persalinan dapat mendorong timbulnya asfiksia. Kondisi bayi dengan jalan napas terhalang dan menderita anemia juga turut berkontribusi.

Selain itu, kondisi plasenta yang terpisah dari rahim terlalu cepat juga dapat menyebabkan asfiksia.

Oleh karena itu, selama persalinan, dokter harus memantau dan mencoba mengelola kadar oksigen untuk ibu dan bayi demi mengurangi risiko asfiksia.
Di Amerika Serikat, asfiksia terjadi pada sekitar 4 dari 1.000 kelahiran. Bayi prematur berisiko lebih tinggi mengalami asfiksia. Bayi yang lahir dari ibu dengan penyakit penyerta seperti diabetes dan preeklamsia juga bisa menjadi faktor risiko sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

Bayi yang lahir dengan kondisi ini akan memerlukan alat bantu pernapasan. Suhu udara hangat juga mengurangi efek negatif dari asfiksia pada bayi baru lahir. (*)