Bijak Hadapi Corona

iklan halaman depan

Bijak Hadapi Corona

Jumat, 27 Maret 2020
Oleh: Drs. Idarussalam, Tk. Sutan 
(Ketua Yayasan Pembangunan Islam el-Imraniyah, 
Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan)




Pada hari Jumat (27/03/2020) adalah hari kedua sejak Provinsi Sumatera Barat dinyatakan sebagai daerah positif terpapar Covid-19. Berbagai tindakan pencegahan harus diambil secepat dan setepat mungkin. Pun beragam himbauan dan anjuran telah dikeluarkan dari pihak yang berwewenang di bidang masing-masing.

Dari segi keagamaan, salah satu cara pencegahannya adalah imbauan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat; Jamaah; Pengajian; dan acara-acara keagamaan lainnya. Bagi kita masyarakat Sumatera Barat yang terkenal dengan ketaatan beragama, hal ini memang akan terasa aneh dan menyanggal di hati. 

Tidak biasa-biasanya meninggalkan shalat Jumat, tiba-tiba ada imbauan untuk diganti dengan shalat Zuhur di rumah saja. Belum lagi tentang pengajian-pengajian yang harus tertunda. Israk-Mikraj misalnya, meski sudah meninggalkan bulan Rajab. Bahkan ada di kalangan warga masyarakat Sumatera Barat biasanya masih memperingati Israk-Mikraj. 

Namun hal ini juga harus merelakan untuk tidak melaksanakan. Lagi, ribuan santri-santriwati Pesantren/Surau pun harus rela tidak tatap muka dengan guru-gurunya lantaran hal ini. Sungguh hal yang sangat sulit diterima sebenarnya. Lantas, sudah bijakkah kita menerima hal itu semua? 

Melalui tulisan ini saya ingin sedikit berbagi tentang pandangan saya mengenai hal-hal di atas. Sebelumnya kita ingin berbagi tentang motivasi pentingnya berusaha melawan semua wabah ini. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Najm : 39 & 40, “Dan bahwa manusia hanya akan memperoleh apa yang diusahakannya, dan usaha itu kelak akan diperlihatkan”. Ayat ini menjelaskan bahwa kita akan mendapat apa yang kita usahakan.

Oleh sebab itu, dalam kasus wabah ini, kita harus bersama-sama berusaha maksimal melawan wabah ini, agar kelak Allah Swt menghitung kita sebagai orang-orang yang telah berusaha keramenghindar. Sehingga, Allah jauhkan kita dari segala marabahaya.

Sebuah kaidah Fiqih (Hukum Islam) menyatakan, bahwa “menolak kemudharatan harus didahulukan 
dari melakukan kebaikan”. Artinya, salat Jumat, Jamaah, Pengajian, dll memang perbuatan baik, tapi kalau itu bisa.menyebabkan semakin tersebarnya virus ini (mudharat), maka kita harus menghindari hal-hal itu dulu.

“Tapi, kan salat Jumat itu (bagi laki-laki) wajib hukumnya?” Ya. Hukum asalnya memang wajib. Tapi dalam Islam, setiap hukum harus mempertimbangkan 5 tujuan utama (Maqashid Syariah), salah satunya adalah; menjaga diri (hifzhun nafsi), salah satu bentuk menjaga diri ini adalah menjaga kesehatan. Oleh sebab itu, setiap ibadah yang dilakukan harus mempertimbangkan hal itu.Tak ada 
ibadah yang boleh dilakukan kalau harus mengorbankan diri dan kesehatan sipelakunya. 

Lalu, ada yang bilang, “Saya kan masih sehat-sehat saja, saya bisa pakai masker, hand-sanitizer, dll”. Ya, benar. Tapi seperti yang disampaikan pakar-pakar virus ini, virus ini tidak otomatis menampakkan gejala bagi penderitanya. Bisa saja seseorang sudah terkena virus, tapi karena imun tubuhnya kuat, dia tidak merasakan apa-apa. Namun ketika dia melakukan kontak langsung dengan orang lain, mungkin-mungkin saja dia akan menyebarkannya kepada orang lain. Bayangkan kalau orang terkena itu adalah sanak saudara kita yang berusia lanjut atau memiliki imun tubuh lemah. 

Jadi, menghindari kerumunan orang 
(seperti shalat Jumat dan pengajian), tidak hanya berarti menghindar dari mencari penyakit. Tetapi juga berarti menghindar dari menyebarkan penyakit. Tentu kondisi ini akan sangat melanggar norma agama. Dalam agama, kita sangat dilarang mencelakai orang lain.

Kesimpulannya, seberat apapun hati untuk meninggalkan acara-acara keagamaan seperti salat Jumat  dan yang lain, demi kemaslahatan kita bersama, tak ada salahnya menggantinya sementara waktu dengan salat di rumah, dan tetap di rumah saja dulu. Sekali lagi, demi kemaslahatan kita bersama.(*)