Hasil Rapid Test Positif Virus Corona, Warga Sawahlunto Diminta Tidak Panik -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Hasil Rapid Test Positif Virus Corona, Warga Sawahlunto Diminta Tidak Panik

Selasa, 14 April 2020
RSUD Sawahlunto

Sawahlunto, fajarsumbar.com - Seorang pasien Laki-laki (59) dari Padang Sibusuk, Kabupaten Sijunjung masuk ke RSUD Sawahlunto, Selasa (14/4/2020) dinyatakan Positif Virus Corona Disease 2019 (Covid-19).

Hal itu berdasarkan hasil Rapid Test dengan tingkat akurasi 40 persen. Kepada masyarakat Kota Sawahlunto diminta agar tidak panik dalam situasi seperti ini.

Hal ini disampaikan langsung Kepala Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto Yasril kepada fajarsumbar.com melalui sambungan telepon, ia mengatakan bahwa pasien tersebut telah dirujuk ke RS Achmad Mochtar Bukittinggi, Selasa (14/4/2020) sore.

"Ada 11 orang yang kontak dengan pasien dan telah di karantina atau di isolasi di gedung Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT)," sebutnya.

Terkait hal ini, kata Kadis, antisipasi ke depannya harus hati-hati, terutama di pos penjagaan supaya Standar Operasional (SOP) betul-betul diperketat. "Kalau memang ada yang demam dan tidak orang Sawahlunto maka kita kembalikan", ujarnya.

Tapi kalau orang Sawahlunto, tentunya berobat ke puskesmas di masing-masing wilayahnya. Jadi, kalau sudah sampai di RSUD Sawahlunto pihaknya tidak boleh menolak pasien. 

"Hasil Rapid Test kan belum tentu karena tingkat akurasinya hanya 40 persen, kalau hasil Swab sudah dipastikan 99 persen akurat dan ini yang paling akurat di Indonesia", sambungnya.

Kalau hasil Swab-nya negatif, kata dia, dan telah dua kali di tes Swab masih negatif, maka orang yang di karantina langsung ke luar. Disampaikannya kepada warga Sawahlunto agar patuh dengan anjuran pemerintah. 

"Terutama telah disampaikan bahkan instruksi Walikota dengan memakai masker dan menjaga jarak, sering cuci tangan dan menjaga pola hidup sehat. Kalua ini dilakukan, InsyaAllah dapat memutuskan mata rantai Covid-19", imbuhnya.

Ditambahkannya, kepada masyarakat jangan terlalu membuat stigma negatif kepada pasien. "Jangan terlalu ditakuti, jangan terlalu membuat stigma negatif dan di merk berbahaya. Bagaimanapun pasien tersebut dalam keadaan stress. Sepanjang SOP pemakaian masker dan jaga jarak dilakukan, maka tidak akan tertular", ungkapnya. (ton)