Lailatul Qodar, I'tikaf dan Corona

iklan halaman depan

Lailatul Qodar, I'tikaf dan Corona

Jumat, 22 Mei 2020
Kegiatan i'tikaf di rumah. 


Padang, Fajarsumbar.com-Malam Lailatul Qodar adalah malam istimewa yang kehadirannya sangat dinantikan oleh umat Islam sedunia. Malam yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan (Q.S Al Qodar:3). Seribu bulan dapat disetarakan sekitar 83 tahun.

Rata-rata usia hidup orang Indonesia berkisar di angka 60-an tahun. Mendapatkan malam yang lebih baik nilainya dari 83 tahun, tentu sangat mahal harganya. Semua orang tidak ingin kehilangan momentum ini. Karena, boleh jadi, usia hidupnya tak sampai 83 tahun.

Kapankah saatnya malam Lailatul Qodar itu turun ke bumi? Dalam siroh/sejarah Rosulullah pernah dikisahkan Rosulullah berkata, "Aku pernah bermimpi melihat kapan terjadinya Lailatul Qodar, namun aku dibuat lupa. Tetapi carilah malam tersebut di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, terutama dimalam ganjil".

Salah satu tanda yang aku lihat dalam mimpi, aku bersujud di atas air dan tanah becek (Bimbingan Islam.com). Kisah inilah yang mungkin membuat sebagian orang percaya, Lailatul Qodar turun saat hujan membasahi bumi.

Sepuluh malam terakhir adalah waktu yang banyak digunakan orang untuk ber i'tikaf. I'tikaf berasal dari kata 'akafa yang berarti menetap/mengurung diri di dalam mesjid untuk beribadah dalam rangka mencari ridho Allah. Memperbanyak amal ibadah seperti tilawah, berdzikir dan berdo'a.

Sejak hijrah ke Madinah, hingga wafatnya, Rosulullah selalu beri'tikaf pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan (H.R Bukhari Muslim). Setelah wafat, amalan ini dilanjutkan oleh istri-istri beliau. Meskipun ada pendapat mengatakan bahwa perempuan lebih afdhal jika beri'tikaf di rumah.

Lalu, bagaimana kita beri'tikaf ditengah pandemi corona ini? Islam tidak pernah mempersulit hambanya. Dalam kondisi wabah, sikap yang sebaiknya kita ambil adalah menjauhi madharat. Bisa juga kita mengambil pelajaran dari sejarah.

Saat wabah melanda, banyak kisah sahabat yang bisa kita ambil sebagai rujukan. Sandarannya adalah Q.S Al baqoroh 195: Janganlah kalian menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Jika i'tikaf di masjid dengan berkumpul bersama dikhawatirkan mendatangkan bahaya, maka i'tikaf dirumah adalah pilihan yang lebih membawa maslahat.

Dibolehkannya i'tikaf di rumah, terutama saat terjadi wabah, dapat merujuk pada Bayan DS PKS No 76/B/DSP-PKS/2020. Dalam Bayan tersebut disampaikan, i'tikaf di rumah bisa dilakukan dengan catatan : 1. Niat yang lurus untuk i'tikaf, 2. Menyediakan lokasi khusus di rumah untuk i'tikaf, dan 3. Memperbanyak amal ibadah seperti tilawah, dzikir, dan do'a.

Tidak hanya i'tikaf, dalam Bayan ini disampaikan juga bahwa dalam kondisi darurat seperti sekarang, sholat Iedul Fitripun bisa dilakukan di rumah, berjama'ah atau sendirian. Sholat ied yang biasanya dilakukan di masjid atau tanah lapang, dapat dilakukan di rumah, meski tanpa khutbah sekalipun.

Islam sungguh sangat fleksibel dalam menyikapi kondisi yang terjadi. Ibadah yang dianjurkan dapat dilakukan dengan baik tanpa terhalang kondisi. Semua tergantung niat dan kesungguhan kita.

Selamat menjemput Lailatul Qodar dengan I'tikaf #dirumahaja. Semoga Allah menganugerahkan rahmat dan ampunan, serta membebaskan kita dari api neraka. Mari menjemput kemenangan. (Dian Martiani, SP)