Oknum Kades Sirilogui Ditetapkan Tersangka Kasus Pornografi

iklan halaman depan

Oknum Kades Sirilogui Ditetapkan Tersangka Kasus Pornografi

Senin, 18 Mei 2020
ilustrasi

Mentawai, fajarsumbar.com
- Kepala desa seharusnya menjadi pengayom, pelayan dan melindungi masyarakat. Namun tidak demikian dilakukan AN,  Kepala Desa Sirilogui di Kecamatan Siberut Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai. 
AN diduga melakukan perbuatan pornografi.  

Kepolisian Resort (Polres)  Mentawai menetapkan oknum  kepala desa Sirilogui, AN sebagai tersangka karena diduga melanggar UU No. 4/2008 tentang pornografi. Penetapan tersangka sudah ditetapkan sejak Jumat, (15/5/2020).

Oknum Kades tersebut ditetapkan tersangka atas perbuatan yang secara sengaja meminta seorang anak perempuan yang masih berusia 14 tahun itu memegang alat vitalnya di sebuah rumah di Brambang wilayah desa Sikabaluan Siberut Utara pada Kamis, (14/4/2020), kemudian dilaporkan ke Polsek  Sikabaluan pada Selasa, (5/5/2020) dengan dugaan melanggar perlindungan anak.

Hal itu dikatakan Iptu Irmon, Kasat Reskrim Polres Kepulauan Mentawai saat dimintai keterangan diruang kerjanya  Senin, (18/5/2020).

“Kita sudah tetapkan dia sebagai tersangka, bahwa tersangka benar mengakui perbuatannya dan kita menyangkakan Undang-Undang Pornografi dengan acaman hukuman 4 tahun penjara,” katanya.

Lebih lanjut Irmon menuturkan, memang awalnya  tersangka diduga melanggar pasal perlindungan anak namun tidak ditemukan adanya perbuatan cabul. 

“Tersangka tidak melakukan tindakan seperti mencium atau meraba tubuh korban dan kita kenakan Undang-Undang Pornografi” jelasnya.

Irmon menjelaskan, perbuatan tak senonoh terjadi pada  Kamis, (14/4), awalnya tersangka  ke rumah korban yang tinggal bersama pamannya, pelaku mengajak korban  untuk membeli ayam yang akan dimasak, namun  dalam perjalanan cuaca gerimis dan mereka singgah  di sebuah rumah di Brambang, Sikabaluan.

Saat sedang berhenti, tersangka memperlihatkan telepon selularnya kepada korban yang berisi video porno.  Saat korban tersebut membuka telepon selular kemudian tersangka membuka resleting celananya dan mengeluarkan alat vitalnya, lalu menyuruh anak tersebut memegang, anak tersebut tidak mau dan menghindar menuju sepeda motor yang parkir dipinggir jalan dimana mereka berteduh. 

Meski terangka sudah ditetapkan sebagai tersangka namun pihak kepolisian  tidak melakukan penahanan terhadap tersangka. 

Tersangka mengajukan permohonan untuk tidak ditahan karena sakit dan dijaminan dari pihak yang menjamin bahwa tersangka tidak akan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti, namun tersangka wajib lapor setiap hari ke Polres Mentawai dan tidak diperbolehkan keluar dari wilayah Tuapeijat.

Akhibat perbuatannya, tersangka terancam dikenakan Pasal 32 jo Pasal 37, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2008  Tentang Pornografi dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. (PM)