Padang Panjang Buncah, 13 Tenaga Kesehatan RSUD Positif Covid-19

iklan halaman depan

Padang Panjang Buncah, 13 Tenaga Kesehatan RSUD Positif Covid-19

Jumat, 01 Mei 2020
RSUD Padang Panjang

Padang Panjang, fajarsumbar.com - Kota Padang Panjang benar-benar buncah. Kenapa tidak, setelah dinyatakan nihil warganya positif Covid-19, kini kasus mengapung. Tak tanggung-tanggung jumlah warga positif Covid-19 mencapai 13 orang sekaligus.

Sebanyak 13 tenaga kesehatan RSUD Padang Panjang dinyatakan positif Covid 19, setelah sebelumnya  melakukan kontak erat dengan  Ny. NS, (29), asal Panyalaian Tanah Datar, seorang positif covid-19 yang kini dirawat di RSUP M. Jamil Padang.

Kominfo Padang dalam siaran pers yang diterima, Jumat (1/5) dinihari menerangkan, sebelumnya NS dirawat di RSUD Padang Panjang sebelum di rujuk ke RSUP M Djamil.

"Kini tenaga kesehatan yang 13 orang itu dikarantina di RSUD Padang Panjang.  Sejak hasil tesnya diketahui,  Kamis senja.  Mereka tidak lagi boleh pulang ke rumah," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang Nuryanuwar, Kamis malam, (30/4).

Disebutkan, kepastian itu didapatkan setelah keluar hasil tes  swab dari 70 orang tenaga kesehatan yang diperiksa Laboratorium Unand.

Menurutnya, semua mereka yang 70 orang itu pernah berkaitan dengan riwayat NS yang masuk IGD RSUD Padang Panjang, Jumat, (24/4).

Sebelumnya NS juga pernah melakukan pemeriksaan di Puskesmas Kebun Sikolos Padang Panjang.

Dari perjalanan yang dilalui NS itu, dilakukan pemeriksaan kepada 70 orang tenaga kesehatan yang pernah kontak dekat dalam jarak kurang dari satu meter. Hasilnya telah keluar 13 orang positif ringan tanpa ada gejala.

Semuanya tenaga kesehatan dari RSUD, tidak ada yang dari Puskesmas Kebun Sikolos.

"Bisa juga mereka terpapar dari suami NS yang kini juga positif Covid-19 dirawat di M. Djamil," kata Nuryanuar.

Sementara itu Direktur RSUD Padang Panjang dr. Ardoni mengatakan,  sebetulnya sejak hasil swab NS dinyatakan positif, tenaga kesehatan dan petugas yang sebelumnya kontak dengan NS dan keluarga sudah dilakukan karantina di lokasi yang sudah disiapkan pemko dan tidak pulang ke rumah.

"Kini tenaga kesehatan yang 13 orang itu dikarantina di RSUD Padang Panjang sejak hasil tesnya diketahui senja tadi. Mereka dikarantina di ruangan isolasi RSUD mulai malam ini," kata Ardoni Kamis malam, (30/4).

Pihaknya juga akan melakukan desinfeksi / seterilisasi terhadap seluruh ruangan yang pernah dilalui 13 tenaga kesehatan  itu serta mengisolasi petugas yang pernah kontak fisik dengan 13 orang itu.

Pemko benar-benar merasa kaget dengan hasil swab ini, karena jauh sebelumnya

Pemko sudah berusaha semaksimal mungkin menjaga dan melindungi masyarakat dari penularan Covid imelalui berbagai upaya, termasuk melakukan pemeriksaan setiap orang yang masuk Padang Panjang. Bahkan melakukan karantina  terhadap orang yang baru datang.

Mencermati hasil swap 13 tenaga kesehatan positif ini. Walikota Padang Panjang Fadly Amran mengimbau warganya untuk tetap menaati aturan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), yang sedang berlangsung.

Masyarakat juga diminta jujur memeriksakan kesehatannya. Baik di pemeriksaan batas kota maupun ketika berobat ke rumah sakit atau Puskesmas.

Untuk menjaga segala kemungkinan, agar mata rantai Covid 19 ini bisa diputus, Walikota Fadly Amran minta, agar semua yang pernah kontak fisik dengan tenaga kesehatan yang 13 orang itu, tetap mengisolasi diri di rumah.

Abai APD lengkap

Positifnya ke-13 tenaga kesehatan tersebut menurut informasi yang diterima fajarsumbar.com karena diduga minimnya alat pelindung diri (APD) tenaga medis.

"Sehebat apapun kepala daerahnya menghambat virus corona, tapi tenaga medis diabaikan alat pelindung dirinya mustahil Padang Panjang nihil Covid-19," ujar sumber fajarsumbar.com yang juga tenaga medis tersebut.

Menurutnya, tidak saja di Padang Panjang tapi masih ada di antaranya rumah sakit maupun di puskesmas masih banyak yang abai dalam alat pelindung diri.

"Ini salah satu keluhan kami da, masih minimnya alat pelndung diri tenaga medis itu. Seharusnya setelah heboh wabah virus corona ini, pimpinan kami harusnya menyediakan APD lengkap, sebab kami melayani berbagai macam pasien terlepas pasien itu positif atau tidak Covid-19," ujar salah seorang tenaga medis tersebut.

Jadi katanya, kepala daerah, direktur rumah sakit, kepala puskesmas maupun klinik jangan diabaikan APD tenaga kesehatan tersebut.

Salah satu contoh, katanya di tempat dia bekerja (RS) berkali-kali mengusulkan kepada pimpinan agar melengkapi APD lengkap kepada tenaga medis yang melayani pasien. 

Tapi pimpinannya mengatakan iya ke iya saja. Terlalu banyak prosedur. Akhirnya tenaga medis itu sendiri yang melengkapi APD-nya dengan membeli dengan uangnya sendiri. "Memiriskan, kan?," ujarnya.

Tenaga medis, jangan hanya mengandalkan masker saja, tapi harus pakai APD lengkap saat melayani pasien, kalau tidak, tenaga medis yang jadi garda terdepan menangani Covid-19 sangat mudah terpapar virus mematikan tersebut. 

"Mohon da bantu suarakan keluhan kami ini sebagai tenaga medis. Kepala daerah, pimpinan RSUD, puskesmas, klinik tolong lengkapi APD kami sebagai pelayan masyarakat terdepan menangani pasien. Kalau tidak korban tenaga medis akan terus bertambah. Jangan terlalu banyak prosedur untuk membeli APD lengkap itu, sebab ini menyangkut nyawa manusia," tegasnya. (syam/ab)