Dimarahi Bu Koni -->

IKLAN-TANAH

iklan halaman depan

Dimarahi Bu Koni

Minggu, 30 Agustus 2020
.
Oleh Edwardi
(Orang Tua Siswa SD Tinggal di Padang)

Pandemi corona mengubah semua tatanan kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Praktik belajar-mengajar berpindah dari sekolah ke rumah. Pendidikan jarak jauh tak diinginkan, namun harus dilakukan. Banyak suka dan duka dari proses belajar jarak jauh itu.

Sebelum pendidikan berpindah dari sekolah ke rumah, cuma anak didik yang kena marah. Kini, orang tua murid pun akan turut kena marah guru ketika pekerjaan rumah tak tuntas, atau hasil pekerjaan yang tak rapi.

Saya punya pengalaman dalam hal ini. Saya pernah pernah dimarahi guru kelas anak saya. Nama guru itu, Koni, S.Pd. Orang menyebutnya dengan Bu Koni. Dia mengajar kelas VI/B SD Pertiwi 3 Padang. Lantaran pekerjaan rumah anak saya tak selesai semua, Bu Koni memarahi saya.
“Kenapa soal ini tak selesai semua,” kata dia bertanya.

Saya tak bisa menjawab, karena anak belajar di rumah didampingi istri. Tugas saya cuma sebagai pengantar buku.

Bu Koni bertanya lagi, “Mengapa buku agenda tak diisi?” Lagi-lagi saya  diam. Apa yang mau saya jawab, karena saya memang tak mengerti persoalan.

Selesai sampai di sana? Belum. Di sekolah itu, tiap Senin orang tua harus mengantarkan tugas yang diberikan guru. Tugas diberikan melalui WhatsApp masing-masing orang tua.
Senin berikutnya, saya ke sekolah lagi membawa tugas. Lagi-lagi kena semprot Bu Koni. Dia kesal, persoalan yang sama dengan pekan sebelumnya terulang lagi.

“Kenapa saya harus mengingatkan persoalan yang sama tiap pekan,” kata dia.
Lagi-lagi saya tak bisa menjawab. Bu Koni mengemukakan, “Tolonglah semua pekerjaan anak diperiksa sebelum diantarkan.”
“Mengapa banyak coretan. Memang bagus kayak begini,” kata Bu Koni lagi.

Bu Koni wajar kesal dan marah karena sebagai guru dia pasti menginginkan orang tua mau memperhatikan serta mendampingi anak dalam mengerjakan tugas. Hasil yang baik hanya akan didapatkan jika belajar dengan kedisiplinan dan ketekunan. Tujuan pendidikan akan tercapai bila ada kerjasama yang rapi antara guru, orang tua dan murid.

Hanya dua kali saya berani menemui Bu Koni. Pekan berikutnya, giliran anak laki-laki saya mengantarkan tugas adiknya. Bu Koni lagi-lagi marah. Persis dengan pekan-pekan sebelumnya, Bu Koni kesal karena  tak semua tugas yang diberikan tak dikerjakan dengan baik.

Bukan hanya saya yang kena marah. Orang tua siswa lain juga kerap disemprot guru. Penyebabnya sama, tugas dan pekerjaan anak yang tak tuntas maupun kurang rapi.
Tiga kali Bu Koni marah.

Marah itu membuka hati saya, betapa orang tua tak boleh abai dengan pendidikan anak. Dalam pendidikan, ternyata tugas orang tua tak cuma membelikan buku, mengantar ke sekolah serta membayar SPP tiap bulan. Ada peran besar orang tua yang tak bisa dipisahkan dengan proses pendidikan.

Pandemi corona mengajarkan kita tentang masa depan. Kita harus siap menghadapi segala kondisi, termasuk situasi paling pahit sekalipun. Pandemi menyadarkan kita, betapa susahnya menjadi pendidik. Pandemi juga mengharuskan rumah jadi sekolah kedua bagi anak dan keluarga.

Dalam situasi sulit sekalipun, pendidikan memang tak boleh berhenti. Belajar daring akan terus berlangsung sebelum corona benar-benar musnah, atau paling tidak ada obat dan vaksin yang benar-benar ampuh untuk melawan penyakit mematikan itu.

Jika memaksa sekolah tatap muka, kita khawatir persoalan akan bertambah besar dan negara ini terlalu direpotkan dengan penanggulangan wabah tersebut dalam jangka waktu yang lama.

Hampir tujuh bulan sekolah di Indonesia berlangsung secara daring. Akibatnya sangat banyak. Salah satunya,  banyak anak yang mengalami tindak kekerasan orang tua.

Dalam catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), kasus kekerasan anak meningkat selama masa pandemi Covid-19.
Setidaknya terdapat 809 kekerasan yang diadukan ke Komnas PA.

Sebanyak 52 persen di antaranya merupakan kekerasan seksual. Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait sebagaimana dikutip sindonews,  Rabu 22 Juli 2020 mengatakan, kekerasan terhadap anak disebabkan multifaktor, salah satunya adalah ekonomi. Banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan sehingga itu berdampak pada pola asuh anak.

Dengan belajar dari rumah, maka itu menambah biaya operasional khususnya untuk pembiayaan kuota internet. Namun di sisi yang lain, orang tua sedang mengalami tekanan ekonomi gara-gara pandemi.

“Korelasinya dengan anak stay at home, orang tua kehilangan pekerjaan, orang tua tak punya ekonomi yang baik,” paparnya.

Harus diakui pula, selain faktor ekonomi, kekerasan dialami anak lantaran orang tua tak bisa menyelesaikan materi pekerjaan rumah anak. Saat anak bertanya, orang tua  naik pitam saja dan menyuruh anak mencari jawaban sendiri.

Harus diakui, memang jauh berbeda kualitas pengajaran yang dilakukan guru bila dibandingkan dengan orang tua. Guru menguasai psikologi pendidikan, sementara orang tua tak peduli dengan kesulitan yang dialami anak.

Anak sangat patuh dengan guru. Kalau mengerjakan soal dengan orang tua, butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Orang tua terkadang frustrasi dan harus banyak sabar menghadapi anak yang bermain-main dalam menyelesaikan tugas.

Sikap frustrasi itu juga merupakan salah satu penyebab orang tua melakukan kekerasan pada anak.

Sebaliknya, bagi orang tua yang sabar, ia makan hati dengan kelakuan anak. Harus sabar tingkat dewa agar anak tak jadi korban pelampiasan amarah. Rumit memang proses belajar di rumah, namun situasi yang pelik ini harus dilalui.

Rata-rata orang tua zaman sekarang tak paham dengan pelajaran anaknya. Banyak orang tua yang gampang emosi ketika anak bertanya. Lantaran tak paham, orang tua tinggal memerintahkan anak untuk membiarkan saja tugas yang diberikan guru.

Sekolah berbasis tetangga

Bila kuota internet dianggap sebagai salah satu penyebab kekerasan dan menjadi kendala bagi siswa, rasanya persoalan ini sudah selesai. Pemerintah memberikan subsidi kuota kepada siswa. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Evy Mulyani mengatakan, pemerintah memberikan bantuan subsidi kuota kepada siswa hingga dosen selama empat bulan.

“Rencananya, akan diberikan subsidi kuota internet selama empat bulan, terhitung dari September-Desember 2020,” kata Evy Mulyani yang dikutip Kompas.com, Jumat (28/8/2020).

“Siswa akan mendapat 35 GB, guru memperoleh 42 GB, mahasiswa dan dosen 50 GB/bulan,” kata dia.

Evy mengatakan, teknis pemberian bantuan, syarat dan ketentuan bagi yang menerima bantuan subsidi kuota tersebut masih dalam proses finalisasi. Menurut dia, Kemendikbud telah melakukan penyesuaian kebijakan pendidikan serta menyediakan inisiatif dan solusi pada masa pandemi.

“Salah satunya adalah relaksasi dana  bantuan operasional sekolah, di mana satuan pendidikan diberi kewenangan untuk mengalokasikan dana BOS untuk penyediaan pulsa kuota internet bagi guru dan siswa,” tutur Evy.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan, pemerintah memberikan subsidi kuota internet bagi siswa, guru, mahasiswa dan dosen selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebesar Rp9 triliun.

Hal ini disampaikan Nadiem dalam rapat kerja dengan Komisi X di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). "Alhamulillah kami dapat dukungan dari menteri-menteri untuk anggaran pulsa untuk peserta didik kita di masa PJJ," kata Nadiem yang dikutip Kompas.com.

Nadiem mengatakan, subsidi kuota internet  akan dikerahkan selama tiga sampai empat bulan ke depan dan segera dicairkan. Menurut dia, Kemendikbud berupaya untuk mendapatkan anggaran tambahan untuk menjawab kecemasan masyarakat selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Bila persoalan kuota sudah tuntas, agar pendidikan berjalan dengan menyenangkan, saatnya diberlakukan sekolah berbasis tetangga.

Memang, pendidikan yang efektif akan terwujud bila diserahkan kepada ahlinya. Pihak yang ahli itu adalah guru.

Guru menyebar di mana-mana. Praktis di kampung, komplek perumahan, maupun tingkat RT, pasti ada agak satu atau dua orang yang berprofesi sebagai guru.

Mereka itu perlu diberdayakan untuk menangani pendidikan anak-anak di sekitarnya.

Guru cukup sekali seminggu ke sekolah. Selebihnya dia menghabiskan waktu di rumah. Ketika di rumah itu, dia tetap menjalankan peran sebagai pendidik.

Masyarakat juga harus pro aktif, entah itu dengan menyediakan tempat untuk belajar, maupun memberikan dukungan kepada guru.
Di komplek saya tinggal, setidaknya ada empat guru yang mengajar di sekolah negeri.

Pulang sekolah, mereka hanya disibukkan dengan aktivitas rumah tangga  biasa. Idealnya, pemerintah mengeluarkan aturan atau imbauan untuk guru agar mengajari anak-anak di sekitar lingkungan masing-masing.

Proses belajar dan mengajar berbasis tetangga, tak perlu formal-formal benar. Tatap muka bisa dilakukan sesuai kebutuhan saja. Tak perlu pula jadwal khusus. Paling tidak, bila ada kendala dalam mengerjakan soal, ada guru terdekat yang bisa menerangkan. Kalau dilakukan pertemuan, protokol Kesehatan tetap harus diberlakukan.

Sulit rasanya mengharapkan orang tua bisa menjadi guru yang baik. Perlu waktu untuk mewujudkan hal itu, sebab orang tua harus berkutat dengan aktivitas harian demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam masa pandemi, kalangan orang tua juga harus berjibaku demi asap dapur tetap mengepul. Tantangan mengharuskan orang tua untuk banting tulang demi ekonomi keluarga.

Pendidikan berbasis tetangga juga akan menjauhkan anak dari tindak kekerasan orang tua.

Tak elok rasanya pendidikan berlangsung dengan situasi anak tertekan secara mental. Ketegangan hanya akan membuat anak tak menguasai materi pelajaran, dengan demikian sulit pula mengharapkan anak menjadi generasi cerdas di masa depan.  Memang hanya guru yang bisa membuat suasana belajar jadi ceria dan bergelora.

Cerdas dari rumah memang tetap memerlukan sentuhan guru. Pendidikan di masa pandemi formalnya berjalan jarak jauh, informalnya ada guru di lingkungan terdekat yang bisa dijadikan tempat bertanya.

Mungkin ada guru yang mau membantu anak-anak di sekitarnya, namun mereka enggan menawarkan diri. Persoalan ini sangat sensitif, guru takut dianggap membuka bimbingan belajar yang ujung-ujungnya berbasis uang pula.

Permasalahan itu akan selesai manakala pemerintah turun tangan dengan mengeluarkan kebijakan. Jadikan saja mengajar  anak-anak di lingkungan sekitar sebagai bagian dari tugas yang perlu dijalankan guru.

Kembali ke awal tulisan ini, Bu Koni tentunya tak akan marah bila tugas yang ia berikan dikerjakan dengan baik. Ibarat bermain sepakbola, Bu Koni merupakan kapten di lapangan hijau, tugasnya dibantu bek dan penyerang.

Bek dan penyerang itu adalah para guru yang berada di lingkungan anak didik.
Pandemi mengajarkan kita untuk bergotong royong dan peduli terhadap sesama. Dalam situasi yang sulit ini, memang diperlukan nilai-nilai dan semangat kebersamaan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diidamkan bersama.

Yakinlah, pandemi akan berakhir. Namun, kita tak tahu kapan persisnya. Jelang pandemi usai, diperlukan cara-cara dan pendekatan kreatif agar pendidikan tetap berlangsung dengan suasana yang menyenangkan. Bukan pendidikan yang menegangkan.(***)