Mutasi Virus Corona 10 Kali Lebih Menular Ada di RI Sejak April -->

IKLAN-TANAH

iklan halaman depan

Mutasi Virus Corona 10 Kali Lebih Menular Ada di RI Sejak April

Senin, 31 Agustus 2020
(ilustrasi)
Jakarta, fajarsumbar.com - Ahli menyebut varian mutasi virus corona SARS-CoV-2 yang dinamakan D614G yang 10 kali lebih menular ditemukan di Indonesia sejak bulan April 2020, sebelum ditemukan di Malaysia.

Pakar Biomolekular Universitas Airlangga, Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan mutasi D614G ditemukan sebulan setelah pemerintah Indonesia menemukan kasus pertama Covid-19 akibat infeksi SARS-CoV-2 pada bulan Maret 2020.

"Kami di Universitas Airlangga sudah menemukan adanya mutasi D614G yang sekarang sedang ramai itu, collecting data kami di bulan April," ujar Puspaningsih mengutip wawancara program Blak-blakan 20Detik, Senin (31/8/2020).

Puspaningsih menuturkan pihaknya telah mengumpulkan 30 ribu data dari pasien di Surabaya, pada 4 April 2020. Kemudian, dia menyebut pihaknya melakukan sekuens genom utuh atau Whole Genome Sequencing (WGS).

Hasil WGS kemudian dikirim ke GISAID (Global Initiative on Sharing All Influenza Data) pada bulam Mei 2020.

"Artinya sebetulnya sebulan setelah Indonesia terkonfirmasi positif Covid itu, sudah ada mutasi itu di Indonesia. Mungkin lebih dulu daripada informasi yang dari Malaysia," ujarnya sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

Puspaningsih mengaku telah memberi peringatan kepada para peneliti perihal mutasi virus SARS-CoV-2 yang dinamakan D614G. Sebab, dia mutasi ditemukan pada Spike, protein virus yang nanti akan masuk dan menempel pada reseptor manusia.

"Jadi kalau dia ada mutasi kemungkinannya ada dua, dia lebih mudah menempel dan masuk menginfeksi atau justru sebaliknya. Ternyata ramai bahwa ini menyebabkan penyebaran sepuluh kali lebih cepat," ujar Puspaningsih.

Di sisi lain, Puspaningsih menduga mutasi virus SARS-CoV-2 yang dinamakan D614G terkait dengan kanaikan jumlah kasus yang tinggi di Surabaya. Terlebih, Surabaya baru yang pertama mengirim hasil WGS ke GISAID saat itu. Di dalam GISAID, virus di Surabaya mirip dengan klaster yang di Eropa.

"Namun kesulitan kami untuk membuktikan itu adalah data kami sangat-sangat sedikit sampai sekarang di Indonesia," ujarnya.

Puspaningsih membeberkan data WGS dari Indonesia sangat sedikit. Dari 92 ribu data yang ada di GISAID, Puspaningsih berkata Indonesia baru menyumbang 33 data. Dari seluruh data dari Indonesia, baru 21 yang merupakan WGS dan sisanya masih parsial.

"Dari 21, yang ada mutasi pada D614G itu sekitar 8. Namun kemarin kami rapat di Kementerian Ristek/BRIN ada sumbangan lagi 4 kalau tidak salah dari LIPI tapi belum dimasukkan ke GISAID," ujar Puspaningsih.

"Data 12 itu belum bisa bunyi apa-apa karena sangat sedikit sekali. Sementara dari Malaysia itu datanya sudah 111 virus di GISAID. Indonesia masih 33," ujarnya.

Terkait dengan hal itu, Puspaningsih mengaku pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan apakah yang D614G yang ada di Indonesia menjadi penyebab meningkatnya jumlah kasus secara signifikan di Indonesia.

"Jadi kita harus mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dulu baru bisa membuktikan hal tersebut," ujar Puspaningsih.

Sebelumnya, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan strain virus corona yang 10 kali lebih menular seperti yang ada di Malaysia telah ditemukan di Indonesia.

Temuan virus corona SARS-CoV-2 dengan strain D614G ini disampaikan Amin dalam konferensi pers virtual LIPI Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture XX, di Jakarta, akhir pekan lalu (28/8/2020).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menjadi tujuh tipe atau clade yakni S, V, L, G, GH, GR dan O (lainnya), yang mana GH adalah yang paling agresif.

Data urutan genom juga akan sangat berguna terutama untuk melacak transmisi atau penyebaran virus di Indonesia, mengidentifikasi target untuk terapi dan vaksin, serta memprediksi ancaman pandemi berikutnya. Untuk itu, kegiatan "whole genom sequencing" dari virus SARS-CoV-2 masih terus dilaksanakan di Indonesia. (*)