Mbak Tipa Petani Karet Jorong Bukik Malintang Barat Berharap Harga Komoditi Ini Bisa segera Stabil -->

IKLAN-TANAH

iklan halaman depan

Mbak Tipa Petani Karet Jorong Bukik Malintang Barat Berharap Harga Komoditi Ini Bisa segera Stabil

Kamis, 17 September 2020
Beginilah aktivitas petani karet di Jorong Bukik Malintang Barat, Kecamatan Sangir, Solok Selatan, Mbak Tipa harus berjibaku menyadap pohon karet, demi memenuhi kebutuhan sehari har.

Solsel, fajarsumbar.com - Bertahun tahun petani karet (getah) menderita akibat dari anjloknya harga karet sejak tahun 2007 lalu.

Akibat dari anjloknya harga karet 80 persen petani yang menghandalkan ekonominya dari gumpalan getah itu banyak dari mereka yang merambah dan mengganti tanaman karentnya dengan tanaman lainya, demi menghidupkan ekonomi keluarganya.

Ditahun 2006 lalu itu, harga karet masih bertahan dengan harga 10,500 per Kg nya, namun pada awal 2007 harga karet itu selalu menurun bahkan menukik ke harga Rp 4000 Kg nya, harga ini bertahan hingga tahun 2020, membuat para petani menyerit, dan berharap kepada pemerintah ditingkat bawah, hingga ke Presiden untuk segera menaikan harga karet, pemda dengan keterbatasan tidak sanggup menjawab harapan para petani itu.

Hanya 20 persen saja petani karet Solok Selatan yang bertahan hidup dengan pohon pohon karetnya, walaupun dengan hati mendongkol memotong karet itu, para petani karet itupun bersabar menunggu dan yakin akan harapan agar harga karet mereka mencapai harga normal kembali, setidaknya naik dari harga setahun yang lalu, yang sempat harganya jongkat jangkit.

Kini para petani itu sedikit sudah mulai lega dan senang, pasalnya satu bulan belakangan ini harga karet sudah mulai bersahabat kisaran Rp 7.500 per Kg nya, sejumlah petani karet itu kembali beraktifitas menyadap pohon karetnya.

Hasil pantauan fajarsumbar.com disalah satu perkebunan karet dua orang warga pemilik kebun karet di Jorong Bukik Malintang Barat, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir Solok Selatan, (Sumbar), Kamis (17/9/2020) petani itu bernama Suratno 60 th, istrinya Mbak Tipa 50 th.

Disebuah kebun karet dengan luas lebih kurang 0,5 Ha itu tampak pohon pohon karetnya  ditata rapi, terlihat sunanan batang karet lurus seperti rentangan tali, kelihatan dua pasangan suami istri sedang asik mengores gores pohon karet, untuk diambil getahnya (Menyadap) dengan alat tempurung dibawahnya.

Saat disampari, keduanya berhenti sejenak dan bincang bincang dengan penulis.

Sejak ditanam 20 tahun yang lalu, baru dimulai mengambil getahnya hari ini pak, sebelumnya kami tidak berani mengambil getah ini, karna harganya terlalu murah, hanya dihargai per kilonya Rp 4 ribu rupiah paling tinggi hanya Rp 5 rupiah, makanya petani disini tidak menghiraukan lagi karet dikebunya.

Diakui bapak tiga anak ini, banyak petani sekitar lokasi kebunnya itu yang menukar dengan tanaman lain yang menghasilkan uang cepat, seperti tanam jagung, pisang, casiabera dan sebagainya.

" Ya habis gimana lagi pak, mau kasih makan apak anak anak, belum lagi biaya sekolah mereka, namun kami tetap bertahan," ucap Mbak Tipa 

Hari ini kami bisa bersyukur karena harga karet sudah mulaiembuahkan hasil, dan berharap kepada pemerintah untuk selaluemperhatikan nasip petani khsus petani karet ini, dan kedepan harga karet ini lebih dari yang sekarang, jika perlu bertahan diharga Rp 10 ribu rupiah sajalah sudah bagus ekonomi petani karet.

Karena petani di Solok Selatan ini, sejak tahun 70an memang rata rata mengharapkan hasil dari kebun karetnya, terutama ditiga kecamatan Sangir ini.

Salah seorang toke atau pengepul hasil tani karet di Sangir Syafri Caradi mengatakan dan mengakui beberapa bulan belakang ini harga karet memang ada perobahan naik sedikit dari yanh biasa, dan sudah banyak petani yang menjual karetnya.

Namun Syafri tidak menjamin bahwa harga ini tidak mutlak dan bisa turun bisa naik" Naiknnya hanya sedikit, turunya selalu menghantam," tutupnya. (Abg)