Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19, Sahat Tetap Bersyukur Jalani Kehidupan -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19, Sahat Tetap Bersyukur Jalani Kehidupan

Minggu, 25 Oktober 2020
Sahat bersama dua anaknya.


Sawahlunto, fajarsumbar.com - Sahat, seorang duda 46 tahun warga Kota Sawahlunto dengan dua orang anaknya masih dapat bersyukur dan bertahan dalam menjalani kehidupan di tengah terjangan Pandemi Covid-19 yang melanda Ibu Pertiwi.


Anak perempuannya bernama Shania (7) kelas satu Sekolah Dasar (SD), dan anak laki-laki bernama Muhammad Sabda (6).


Ia berasal dari Medan dan biasa ngamen sekitaran Kota Tua Sawahlunto dengan terus membawa kedua orang anaknya.


Sahat tinggal di Pondok Kapur dengan menyewa sebuah rumah senilai 600 ribu sebulan. "Satu ruang tengah, dua kamar, satu dapur dan kamar mandi", sebutnya saat di jumpai di depan Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) beberapa waktu yang lalu.


Ia mengaku sudah 7 tahun berada di Sawahlunto bekerja sebagai terapi refleksi, akupuntur hingga bekam. 


Semenjak Pandemi Covid-19 melanda, usahanya mengalami penurunan yang sangat drastis. Kadang masih ada yang meminta jasanya untuk melakukan terapi namun hal tersebut tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan terus berupaya mencari tambahan dengan mengamen.


"Basic saya memang terapi, sudah hampir 20 tahun saya melakoninya. Pertama buka di tahun 2013 saya buka terapi di samping Hotel Ombilin atau Inna Ombilin Heritage Ombilin dan usaha itu sudah tutup", ucapnya.


"Kalau untuk di Sawahlunto ini, sudah banyak orang yang mengetahui pekerjaannya", sambungnya lagi.


Semenjak Corona, masih ada pelanggan yang meminta jasanya namun hanya untuk yang kenal saja untuk terapi. "Saya batasi juga untuk orang yang melakukan terapi. karena termakan juga rasa takut akibat penyebaran virus ini", akunya kemudian.


Ia mengaku tidak punya beban dalam membesarkan kedua anaknya, apalagi mencari nafkah untuk mereka.


Selain merawat dan mengasuh kedua anaknya, setiap kegiatan Sahat terus membawa kedua anaknya karena masih kecil dan belum bisa di tinggal di rumah.


Kedepannya, ia berharap akan tetap berjuang untuk membesarkan anak-anak supaya dapat pendidikan yang layak.


"Saya mengamen sambil cari akal dulu, pagi saya di GPK, sorenya di Lapangan Segitiga dan malam di sekitaran terminal", ujar Sahat sambil memeluk kedua anaknya.


Selama melakoni kehidupan, Sahat selalu bersyukur. "Alhamdulillah masih bisa bertahan hidup", ucapnya penuh syukur. (ton)