Jalan TMMD Reguler Juga Memudahkan Petugas BPP Bumiayu Brebes -->

IKLAN-TANAH

iklan halaman depan

Jalan TMMD Reguler Juga Memudahkan Petugas BPP Bumiayu Brebes

Jumat, 16 Oktober 2020


Brebes, fajarsumbar.com – Berbagai tanggapan positif atas gelaran TMMD Reguler 109 Kodim 0713 Brebes yang dilaksanakan di Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, terus bergulir.


Itu karena, sejumlah infrastruktur jalan yang dibangun sepanjang 2,2 kilometer lebar 4-6 meter, sangat berguna untuk kepentingan segala aktivitas warga Desa Kalinusu, terlebih bagi para petani karena jalan itu membentang di areal persawahan dan juga di tanah bengkok desa.


Salah satu yang mengapresiasi adalah Agus Murozak, BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Bumiayu, Dinas Pertanian Kabupaten Brebes, yang disampaikannya kepada Pelda Ibrahim, anggota jurnalistik TMMD Reguler 109 Brebes. Kamis (15/10/2020).


“Dengan adanya jalan baru dari Dusun Karanganyar yang tembus ke Dusun Kedung Kandri yang dulu terisolir, juga akan memudahkan kami selaku para penyuluh pertanian tanpa harus memutar lagi melalui sejumlah desa di wilayah Kecamatan Bantarkawung dan menyebrang Kali Pemali dengan perahu hanya untuk ke Dusun Kedung Kandri,” ungkapnya.


Menurutnya juga, selama ini para petani di Dusun Kedung Kandri memang belum maksimal tersentuh pendampingan pertanian, termasuk pelatihan dan bantuan. Sehingga dengan akses jalan tersebut, dirinya bersama Babinsa Kalinusu, Sertu Eko Nuhyoto, akan segera menjadwal pendampingan pertanian di Kedung Kandri.


“Kita nanti akan lebih aktif lagi untuk memberikan pendampingan pertanian ke Kedung Kandri,” tegasnya.


Tak hanya pihaknya saja, Agus Murozak juga berharap dengan adanya jalan TMMD yang juga sebagai Jalan Usaha Tani (JUT), nantinya pihak terkait lainnya juga akan lebih bersemangat dalam menjalankan tugas penyuluhan sesuai tupoksinya masing-masing.


Kita harapkan juga masyarakat lebih bersemangat lagi untuk menggarap lahan sawah dan kebun tadah hujan, di sekitar jalan TMMD itu, dimana sebelumnya dibiarkan terlantar khususnya di musim kemarau.


Pasalnya, sebelum adanya jalan, ongkos produksi tak sebanding dengan biaya angkut panen yang berkisar Rp. 50 ribu per karung tergantung jarak ke desa. (Rus/Aan)