Suami Meninggal tak Wajar, Istri dan Keluarga Korban Mohon Keadilan -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Suami Meninggal tak Wajar, Istri dan Keluarga Korban Mohon Keadilan

Minggu, 25 Oktober 2020
Jenazah alm Ahmad Tua Siregar saat disemayamkan di kediamannya.


Labura, fajarsumbar.com – Dahlia Hasibuan (42) warga Dusun III Kampung Baru Desa Sibito Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara meminta keadilan kepada penegak hukum atas kasus kematian almarhum suaminya (Ahmad Tua Siregar 44) karena meninggal dunia dengan tidak wajar.


Menurutnya di sekitar tubuh alm suaminya tersebut terlihat bekas memar diduga korban dianiaya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. 


Hal ini dikatakan Dahlia Hasibuan didampingi keluarganya saat ditemui awak media di kediamannya, Sabtu (24/10/2020).

 

Dahlia Hasibuan menjelaskan, pada tanggal (12/10) alm suaminya berangkat berjualan sebagai along-along seperti biasanya. Namun beberapa jam kemudian datang seseorang memberitahukan bahwasanya suaminya saat mengendarai sepeda motornya menyenggol seorang anak warga Dusun II Unte Mungkur, Desa Sibito, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara, yang menyebabkan anak tersebut mengalami luka-luka.


Seketika itu ia pun langsung bergegas menuju lokasi. Namun, belum sampai di lokasi sudah berselisih dengan mobil ambulance yang didalamnya terdapat suami saya dengan keadaan sudah tidak bernyawa lagi.


"Sesampai dirumah kondisi jasad suami saya mengalami hal yang tidak wajar, dimana didapati di sekitar tubuhnya, di kepala, telinga dan bagian leher terlihat bekas memar seperti terjadi pemukulan. Saya mohon keadilan kepada penegak hukum atas meninggalnya suami saya," katanya.


Keesokannya, (13/10) lanjut Dahlia, saat sedang melaksanakan sholat jenazah, kepala lingkungan setempat memintanya untuk menandatangani surat agar jenazah alm suaminya bisa di makamkan. "Katanya udah di sepakati salah satu pihak keluarga. Hal tersebut membuat saya langsung menandatangi surat tersebut tanpa membaca dan memahami isi surat," sebutnya.


Sementara itu, salah seorang warga inisial AN (17) menceritakan, saat ia dan temannya hendak ke suatu tempat untuk mencari sinyal HP terdengar suara kecelakaan. Lalu ia mendekati lokasi kejadian tersebut.


"Disini kan susah jaringan HP bang, jadi kami ke puncak, lalu dengar kayak suara kereta tabrakan jadi kami langsung kesitu. Saya nampak TS menunjang almarhum, lalu almarhum itu tercampak, udah gitu almarhum ini berdiri lalu minta maaf kepada ayah anak yang dilanggar tadi, dia minta maaf, AS ayah dari anak inipun meninju almarhum dan ditangkis almarhum. Habis ditangkisnya, almarhum pun lari," ujarnya.


Sementara itu di tempat yang sama, menurut keterangan S (20) menjelaskan, bahwa ia juga melihat kecelakaan yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2020, alm pak tua menyenggol seorang anak, seketika itu ada seseorang berisial T mencekik almarhum dari belakang.


"Setelah itu T ini dipegangi orang sudah ramai disitu, pas dia lepas dari pegangan, datang T ini menendang almarhum dari belakang. Kemudian tersungkurlah almarhum ke parit. Namun almarhum langsung berdiri dan meminta maaf dan langsung lari, saat lari datanglah bang Bornok ini membawa alm pergi dari tempat tersebut, T ini mengejar almarhum dari belakang dengan berlari, namun tidak dapatnya. Karena tidak puas sampai sana dia berbalik untuk pinjam motor untuk mengejar almarhum," jelasnya.


Begitu juga dengan sepupu korban Zulkfli Munthe (55) kepada awak media mengatakan bahwa ditubuh almarhum terdapat benjolan. 


"Di kening sama biram di belakang telinga sebelah kanan dan biram di dada serta belakang punggung almarhum, dugaan saya almarhum dianiaya,” kata Zulkifli.


Begitu juga saat jenazah hendak dimandikan hingga di kebumikan, lanjutnya, dari mulut almarhum keluar darah banyak.


“Saya berharap kepada penegak hukum agar mengungkap kematian almarhum dan minta keadilan yang seadil-adilnya,” pintanya. (Randi)