60 Hektare Seraiwangi Jadi Potensi Baru Ekonomi Masyarakat Pasie Laweh -->

IKLAN-UT-TAYANG-16-NOVEMBER-2020

iklan halaman depan

60 Hektare Seraiwangi Jadi Potensi Baru Ekonomi Masyarakat Pasie Laweh

Senin, 16 November 2020
Walinagari Pasie Laweh Zul Arfin bersama salah seorang petani seraiwangi


Agam, fajarsumbar.com - Sebanyak 60 hektare lahan di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatera Barat jadi lahan untuk pengembangan seraiwangi. Ke depan akan menjadi sumber ekonomi baru masyarakat di daerah itu. Dari 60 hektare tersebut, sebanyak 20 hektare sudah menghasilkan.


Amri Tanjung salah seorang petani seraiwangi yang ditemui fajarsumbar.com, Senin (16/11/2020) mengatakan, bertanam seraiwangi dia merasakan ada penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya. Hasil penyulingan minyak seraiwangi rata-rata dapat menghasilkan uang antara Rp2 juta - Rp3 juta perbulan.


Ia menambahkan, kendala saat ini ketika melakukan penyulingan, karena masih dilakukan dengan alat seadanya, sehingga hasilnya kadang tidak maksimal, juga masalah pemasaran dan pengadaan bibit.


Sementara itu salah seorang walijorong yang juga tokoh masyarakat Angge, Zulkifli menam bahkan rata-rata petani seraiwangi mempunyai lahan garapan satu samai dua hektare, dengan hasil panen berkisar 20 kg satu bulan.


Sementara harga perkilo Rp150 ribu. Di bawah bimbingan dan arahan walinagari Zul Arffin Dt. Parpatiah petani serai wangi ini terus berkembang, dengan membentuk kelompok tani, dan mencarikan solusi apabila petani menemui kendala.


 Zul Arfin Walinagari Pasie Laweh mengatakan, pada dasarnya, masyarakat di Jorong Angge khususnya, sedang digalakkan menanam budidaya seraiwangi, Serai Wangi yang ada di Angge  yang telah panen ada 25 hektare dan penanaman baru telah mencapai 60 hektare.


Ia menambahkan, intinya, ke depan akan jadikan Jorong Angge khususnya di Nagari Pasie Laweh salah satu sentra produksi minyak seraiwangi di Nagari Pasie Laweh, karena dari segi ekonomi menjanjikan penghasilan yang lebih menguntungkan.

 

Namun ada beberapa kendala di lapangan, terutama infrastruktur, khususnya jalan - jalan penghubung  di Nagari Pasie Laweh, yang menghubungi antara pusat pemerintahan/pasar dari satu jorong ke jorong lain belum representatif.


Walaupun jalan itu berstatus jalan kabupaten. Contohnya jalan penghubung antara pusat pasar, Koto Tangah, Aur Kuning. "Tentunya ini sudah kita masukan ke rencana pemerintah, namun kita tahu, dana pemerintah kabupaten tidak sebanyak itu, tapi secara berkala akan tetap kita suarakan," ujarnya.


Kendala selanjutnya  kurangnya pengetahuan petani tentang seraiwangi, sehingga hasilnya tidak sempurna. Harapannya agar pihak terkait pemerintah bisa memberikan pelatihan, bagaimana seraiwangi ini dari hulu sampai hilir layak jual, layak dari segi kualitas ataupun kuantitas.


Dari pemerintahan nagari  sudah melakukan studi banding ke tempat perkebunan seraiwangi yang sudah berkembang, dengan menyertakan petani seraiwangi di daerah tersebut. "Hasilnya belum memuaskan, ke depan kita akan minta Pemkab Agam untuk bisa melakukan pelatihan terhadap petani seraiwangi ini," ujarnya. (Yanto)