Pariwisata Sumbar Dapat Dikembangkan Melalui Program Kawasan Ekonomi Khusus -->

IKLAN-UT-TAYANG-16-NOVEMBER-2020

iklan halaman depan

Pariwisata Sumbar Dapat Dikembangkan Melalui Program Kawasan Ekonomi Khusus

Rabu, 04 November 2020
ilustrasi

Padang, fajarsumbar.com –  Keindahan panorama alam di Sumatera Barat (Sumbar) tersedia lengkap di Sumatera Barat (Sumbar). Mulai dari laut dan pantai-pantai berpasir putih serta pulau-pulau yang eksotis, sejumlah danau yang cantik, serta dataran tinggi dan pegunungan dengan sungai-sungai dan jeram-jeram melengkapi kemolekan Sumbar. 


Namun, keindahan panorama alam saja belumlah cukup untuk membuat wisata alam di daerah ini diminati para pelancong. Perlu upaya serius untuk melengkapi sarana dan prasarana pendukung, sehingga panorama yang indah nian itu menjadi tempat yang menggiurkan untuk dikunjungi dan berdiam berhari-hari di situ. 


Tetapi, keterbatasan anggaran, memaksa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dan pemerintah kabupaten/kota untuk mencari cara buat mendanai kawasan panorama alam tersebut menjadi destinasi dengan fasilitas berbintang. 


“Salah satu caranya adalah dengan mendorong kawasan itu menjadi kawasan ekonomi khusus atau KEK,” ujar Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Sumbar, Doni Hendra. 


Doni Hendra mengatakan bahwa ada dua KEK yang direncanakan. Yakni KEK Mandeh di Pesisir Selatan (Pessel) dan KEK Mentawai. “Kalau untuk Mentawai, KEK nya sudah sampai usulan pak gubernur ke pusat lewat Dewan KEK Nasional, koordinatornya Kemenko Ekonomi. Usulan itu sudah disampaikan pada bulan Juli 2018,  sekarang menunggu rekomendasi dari tim tersebut lagi,” tutur Doni Hendra. 


Untuk KEK Mentawai, saat ini tengah diselesaikan urusan pembebasan tanah, sekaligus melakukan edukasi pada masyarakat. “Untuk pembebasan lahan, menjadi syarat utama dalam pengajuan ke Dewan KEK Nasional, dengan adanya bukti dari BPN oleh pihak ketiga yang akan mengolah KEK tersebut,” katanya. 


Sementara untuk mengedukasi masyarakat, diharapkan pemerintah setempat proaktif melakukannya. “Kalau edukasi masyarakat ini dipercayakan kepada pemda setempat untuk mengedukasi dan mensosialisasikan mengenai KEK itu sendiri,” ujarnya. 


Sedangkan untuk KEK Mandeh, tepatnya di Bukik Ameh, kata Doni Hendra saat ini kawasan seluas 400 hektare itu sudah ada investornya. “Dan sudah melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan Bupati Pessel,” ujarnya. 


Progres upaya mewujudkan KEK Mandeh memang relatif lebih cepat. Selain kawasan ini memang digagas lebih awal dibandingkan KEK Mentawai, mobilitas menuju lokasi juga relatif lebih gampang. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir dilaksanakan pelebaran jalan menuju kawasan Mandeh. (hms-pemprov/ab)