Setelah Indonesia Resmi Resesi, Apakah Terjadi Gelombang PHK Besar-besaran? -->

IKLAN-UT-TAYANG-16-NOVEMBER-2020

iklan halaman depan

Setelah Indonesia Resmi Resesi, Apakah Terjadi Gelombang PHK Besar-besaran?

Jumat, 06 November 2020

ilustrasi. (popularitas.com)


Jakarta, fajarsumbar.com - Indonesia resmi memasuki zona resesi, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 yang terkonraksi 3,49 persen. 


Sejumlah orang pun menilai, resesi akan menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal ke depannya. Namun, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah, membantah pandangan tersebut. 


Pasalnya, pengumuman yang disampaikan oleh BPS hanyalah sebuah laporan semata. Adapun dampak dari kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 sudah dirasakan pada periode Juli-September. 


"Resesi ini menurut saya tidak berdampak ke depan. Sekali lagi, resesi adalah stempel untuk yang sudah kita lalui," katanya kepada sebagaimana dikutip laman kompas.com.


Pieter tidak menyangkal pertumbuhan ekonomi yang negatif berdampak kepada terjadinya PHK dan juga peningkatan kemiskinan. Kendati demikian, hal-hal tersebut sudah dilalui oleh Indonesia. 


"Dampak dari kontraksi ekonomi pada triwulan dua dan triwulan tiga yaitu PHK dan meningkatnya kemiskinan sudah kita rasakan," ujarnya. 


Lebih lanjut, Pieter memproyeksikan perekonomian ke depan akan terus tumbuh positif. Hal tersebut terefleksikan dari sinyal positif pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 secara kuartalan, yakni 5,05 persen. 


"Trend perbaikan ini diperkirakan akan berlanjut pada triwulan empat," ucapnya.(*)