Madu Asli Hutan Pasaman Jadi Incaran -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Madu Asli Hutan Pasaman Jadi Incaran

Senin, 28 Desember 2020
.


Pasaman, fajarsumbar.com - Ada ratusan jenis madu yang terdapat di Indonesia, salah satu yang populer dikonsumsi adalah jenis madu hutan. Manfaat madu hutan ini disebut-sebut lebih bagus dari madu biasa karena kandungannya yang lebih kaya dan alami.


Madu hutan merupakan jenis madu yang dihasilkan dari lebah jenis Apis dorsata atau lebah liar yang banyak hidup di kawasan hutan. Sarang lebah yang berwarna hitam ini biasa hidup berdampingan dengan koloni lainnya, yakni dalam satu pohon bisa terdapat 5-10 koloni lebah Apis dorsata. Lebah Apis dorsata hanya dapat berkembang biak di kawasang subtropis dan tropis, termasuk Indonesia. Saat ini, lebah madu tersebut banyak tersebar di beberapa hutan di pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat serta Timur.


Madu hutan asli tersebut, salah satunya terdapat di hutan rimba kampung Lubuak Gadang, Jorong Biduak, Nagari Ganggo Mudiak Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman.


Minggu (27/12), bersama para pemuda dan masyarakat Lubuak Gadang Biduak melakukan perjalanan rimba untuk mendapatkan madu hutan.


Menuju hutan, perjalanan cukup panjang dan terjal mesti ditempuh dari jalan setapak menuju jalan hutan. Sesampainya di tepi hutan, sudah standby para pemanjat yang bakal "beraksi" ambil madu hutan langsung dari pohon.


Tidak main-main, tinggi pohon belasan sampai puluhan meter yang biasa dinaiki para pengambil madu hutan.


Para penagmbil madu hutan memang sudah memantau dulu pohon-pohon yang mana aja yang bisa dipanen. Satu pohon biasanya ada beberapa sarang lebah.

Satu sarang bisa menghasilkan 30 hingga 100 Kg madu. Bahkan kalau lagi panen, dalam satu malam bisa menghasilkan 300 kg madu dari satu pohon.


Setelah tahu pohon mana yang akan jadi incaran, pengambil madu pun memanjat pohon tersebut dengan membawa perlengkapan dan peralatan seadanya.


Ahli pengambil madu, Zulfahmi yang akrab disapa Buyuang Jangguik tidak melakukan pengasapan sarang lebah seperti yang biasa dilakukan para pengambil madu.


"Hal ini tergolong cara yang efektif dan mementingkan keberlanjutan ekosistem. Masyarakat Jorong Biduak Nagari Ganggo Mudiak ingin melestarikan lebah madu disini," ungkap Zulfahmi, ahli pengambil madu yang berasal dari Suliki, Kabupaten 50 Kota.


Jadi, kata Buyuang Jangguik, pohon tidak ditebang dan tidak dilakukan pengasapan  biar lebah tetap bisa bersarang di pohon yang sama.


Selanjutnya, sarang dipotong dari pohon lalu dibawa ke bawah dengan ember. Nah, ini titik mendebarkan juga buat fajarsumbar.com dan rombongan di bawah. Lebah-lebah raksasa mulai berhamburan dan mulai terbang ke sana ke mari.


"Triknya, kalau disengat lebah, kamu jangan panik. Tetap tenang lalu jongkok. Perlahan menuju api dan biar diri terasapi. Kalau pun tersengat, jangan langsung pukul lebah. Periksa bagian tubuh yang tersengat dan ambil sisa bagian lebah yang masih tersangkut di tubuh. Habis itu, olesi dengan madu," ujar Ardiman, yang merupakan ketua rombongan.


Ardiman menyampaikan, setelah dibawa ke bawah, sarang dibersihkan dan dipisahkan dari bagian lilinnya.


Lebih lanjut, Ardiman mengatakan, bahwa memang masyarakat Jorong Biduak Ganggo Mudiak mengambil madu dengan peralatan apa adanya agar menjaga kearifan lokal. Tidak sekadar ambil madu untuk sesaat, Ardiaman dan masyarakat Biduak pun menjaga ekosistem biar ada keberlanjutan.


"Kalau mau menikmati madu hutan, tapi di rumah bisa beli kok madu yang udah dikemas. Harganya cuma Rp100.000 saja. Datang langsung pun ke Kedai Abdul Kahar, yang lokasinya dekat jembatan Biduak, persisnya dekat mesin kuno Biduak Bonjol," kata Ardiman.


Sekedar informasi, masyarakat Jorong Biduak Nagari Mudiak Kecamatan Bonjol menyepakati bahwasanya keuntungan madu ini juga untuk kepentingan umum, seperti untuk pembangunan Mushalla dan jalan setapak.


"Rasanya manis, Benar-benar alami. Apalagi sensasi makan madu liar langsung dari sarangnya. Tapi, emang mesti hati-hati, takut nanti ada lebah yang tiba-tiba menyengat," ungkap M. Afrizal, salah seorang awak media yang ikut dalam rombongan. (Afrinaldi)